Ya, mesti jadi anak buahnya dan Kasih setoran pada  haji Lutung dulu....

2017-12-29 18:41 GMT+01:00 Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>:

>
>
> "PKL liar Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> saja
> ditata. Kok seperti kami enggak? Kan kami PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> juga. Pengin berdagang juga
> sama seperti Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>,
> di jalan ya. Ya kenapa Pak Gubernur DKI dan Wakilnya cuma perhatikan Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>? Saya ya
> pedagang, sama seperti pedagang di Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>, ya iri saja," kata
> Mansur (41), pedagang mainan di Pasar Asemka
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pasar-asemka>, Rabu (27/12).
> ...
> PKL Tanah Abang Saja Ditata, Kok Kami Enggak?
> <http://wartakota.tribunnews.com/2017/12/29/pkl-tanah-abang-saja-ditata-kok-kami-enggak?page=all>
>
> PKL Tanah Abang Saja Ditata, Kok Kami Enggak? - Wartakota
>
> Mereka ingin PKL juga difasilitasi agar bisa berdagang di badan jalan,
> seperti PKL Tanah Abang - Halaman all
>
> <http://wartakota.tribunnews.com/2017/12/29/pkl-tanah-abang-saja-ditata-kok-kami-enggak?page=all>
>
>
> Jumat, 29 Desember 2017 08:47
>
> [image: PKL Tanah Abang Saja Ditata, Kok Kami Enggak?]
> Koran Warta Kota
> Headline Warta Kota edisi Jumat 29 Desember 2017
>
>
> *WARTA KOTA, TANAH ABANG --* Pedagang kaki lima (PKL) di beberapa pasar
> lain di Jakarta mengaku ingin pasarnya ditata, sama seperti Pasar Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>, Jakarta Pusat.
>
> Mereka ingin PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> juga
> difasilitasi agar bisa berdagang di badan jalan, seperti PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> yang berjualan di Jalan
> Jatibaru.
>
> Beberapa PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> di Pasar Pagi dan Pasar
> Asemka <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pasar-asemka>, Kecamatan
> Tambora, Jakarta Barat, mengakui iri terhadap para PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> yang mendapatkan
> perhatian besar dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
>
>
> Para pedagang di dua pasar itu juga menginginkan bisa mendapat sejumlah
> fasilitas, seperti yang diberikan Pemprov DKI kepada para PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>.
>
> "PKL liar Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> saja
> ditata. Kok seperti kami enggak? Kan kami PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> juga. Pengin berdagang juga
> sama seperti Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>,
> di jalan ya. Ya kenapa Pak Gubernur DKI dan Wakilnya cuma perhatikan Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>? Saya ya
> pedagang, sama seperti pedagang di Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>, ya iri saja," kata
> Mansur (41), pedagang mainan di Pasar Asemka
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pasar-asemka>, Rabu (27/12).
>
> Ungkapan yang sama dikemukakan Yusuf (41) di Pasar Pagi.
>
> Yusuf mengatakan, selama empat tahun berjualan aksesoris, baru kali ini ia
> melihat PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> pinggir jalan
> difasilitasikan oleh Pemprov DKI Jakarta seperti di Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>.
>
> "Wah iya tuh, PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> di Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> kini makmur.
> Difasilitasi begitu sama Pemprov DKI. Mana pembelinya banyak. Saya aja
> punya teman di sana, diajak jualan di sana. Pokoknya di sana ramai pembeli.
> Di sini ramai, cuma kurang puas saja saya. Habisnya, enggak difasilitasi
> sama Pemprov DKI seperti PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>. Kami kan juga
> mau (seperti Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>),"
> jelasnya.
>
> *Semrawut*
>
> Pantauan Warta Kota, Rabu (27/12), PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> tampak menjamur di kawasan Pasar
> Asemka <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pasar-asemka> serta Pasar
> Pagi di Kecamatan Tambora.
>
> Kawasan kolong flyover Asemka tampak semrawut. Banyak PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl>menggelar dagangan, ditambah
> keberadaan sejumlah pengunjung dan parkir kendaraan.
>
> Sejumlah pejalan kaki dan pengendara motor sulit melintas, akibat ramai
> PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> yang berdagang di sembarang
> tempat.
>
> Selain semrawut, juga tampak banyaknya sampah plastik tercecer di lokasi.
> Puntung rokok, bungkusan snack, serta gelas atau cup minuman ringan,
> menghiasi kawasan kedua pasar tersebut...
>
> *Dikaji dulu*
>
> Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/anas-effendi> berjanji dalam waktu
> dekat akan meninjau ke Pasar Pagi dan Asemka.
>
> Diakuinya, Pasar Pagi dan Asemka bakal kena kebijakan dari Gubernur DKI
> Jakarta Anies Rasyid Baswedan seperti Pasar Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>, Jakarta Pusat.
>
> "Sebelum kebijakannya itu bakalan dijalankan oleh Pemerintah DKI Jakarta,
> harus dipikirkan dulu gangguan lalu lintas seperti kemacetan. Kita tinjau
> ke lapangan bersama Perhubungan. Apa bisa atau enggak? Kita kaji dulu.
> Apakah ada gangguan lalin. Kalau macet, bakalan ribut lagi nanti," kata
> Anas, Kamis (28/12).
>
> Anas mengakui, dirinya lebih cenderung menjadikan para PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> di dua pasar itu seperti di
> kawasan Kota Tua yang dipindahkan ke Jalan Cengkeh.
>
> "Sehingga tidak mengganggu aktivitas sejumlah pengendara sepeda motor atau
> mobil. Dengan cara menyediakan lahan seperti itu, semuanya (PKL) dapat
> tertata dengan baik, dan tidak lagi berjualan di atas trotoar maupun
> pinggir jalan.
>
> Seharusnya yang berpikir keras ini jajaran dari Suku Dinas Pariwisata dan
> Kebudayaan, serta Suku Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan
> Perdagangan (KUMKMP) Kota Jakarta Barat untuk buat konsepnya ya. Bukan Wali
> Kota," katanya.
>
> *Hanya musiman*
>
> Menurut Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat, Tamo
> Sijabat, para PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> di Pasar Pagi
> dan Asemka tak perlu ditertibkan karena mereka sifatnya hanya musiman.
>
> "Nggak usah ditertibkan, habis Tahun Baru juga sudah tidak ada. Paling
> enggak, kami dorong supaya enggak ke tengah jalan berdagangnya. Lagi pula,
> kalau kami datang mereka yang di sana pada pergi, setelah itu balik lagi,"
> katanya.
>
> Sedangkan Kepala Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan
> (KUMKMP) Kota Jakarta Barat, Nu'Aini Silviana, mengatakan bahwa ada juga
> keinginan untuk bisa menata PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl>-PKL
> di Pasar Pagi dan Asemka.
>
> "Ngiri? Kalau mau seperti Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> yang bisa (pemerintah)
> tingkat provinsi. Kami hanya di Loksem (Lokasi Binaan). Ya penginnya begitu
> (seperti Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>),"
> katanya.
>
> *Ingin jalan ditutup*
>
> Sementara itu ratusan PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> korban
> kebakaran Pasar Senen Blok 1 dan 2 juga menyatakan keinginannya agar
> kawasan tempat mereka berdagang di Jalan Stasiun Senen, tepat di bawah
> flyover, juga ditata seperti di Pasar Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>.
>
> "Mau lah, jadinya kan lebih rapi kalau difasilitasi," kata Iwan (25),
> seorang pedagang pakaian bekas, Kamis (28/12).
>
> Ia mengharapkan agar Pemprov DKI Jakarta juga bisa memberlakukan kebijakan
> menutup Jalan Stasiun Senen, seperti yang dilakukan di Jalan Jatibaru Raya, 
> Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>.
>
> Iwan mengakui, aktivitas berdagang PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> juga menyebabkan kemacetan di
> Jalan Stasiun Senen, sama seperti di Jalan Jatibaru Raya.
>
> "Ya kami menyadari kalau memang bikin macet. Makanya kami mau ditata
> seperti itu. Nggak hanya Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> yang semrawut, di sini
> juga sama. Bedanya kalau di Senen jumlah pedagangnya lebih sedikit,"
> ujarnya.
>
> *Lalin tersendat*
>
> Pantauan Warta Kota, kondisi lalu lintas saat sore hari di Jalan Gunung
> Sahari menuju Stasiun Senen tersendat lantaran banyak PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> yang berjualan tepat di bawah
> flyover.
>
> Parkir liar pun marak karena banyak sepeda motor yang diparkir di badan
> jalan.
>
> Hal itu menyebabkan ruas jalan yang tersisa hanya selebar kurang dari 3
> meter saja untuk arus lalu lintas karena trotoar serta 2 meter ruas
> jalannya dipakai sebagai lokasi berdagang.
>
> Ratusan pedagang tersebut tadinya merupakan pedagang yang memiliki tempat
> di gedung Blok 1 dan 2 Pasar Senen
> <https://maps.google.com/?q=2+Pasar+Senen&entry=gmail&source=g>. Hingga
> terjadi peristiwa kebakaran pada tanggal 19 Januari 2017 silam, kondisi
> mereka kini terlunta-lunta.
>
> *Penolakan*
>
> Di sisi lain, suara penolakan terhadap model penataan PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl>seperti dilakukan Pemprov DKI di 
> Tanah
> Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> juga terus
> bergema.
>
> Sebuah petisi menolak penataan Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang> ala Anies-Sandi
> menyebar via media sosial sejak beberapa hari lalu. Akun atas nama Iwan M
> yang menggagasnya lewat situs change.org.
>
> Judul petisinya adalah "@aniesbaswedan, Kembalikan Fungsi Jalan dan
> Trotoar Tanah Abang <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>".
>
> Sampai kemarin, petisi itu sudah ditandatangani sebanyak 29.325 orang dan
> masih terus bertambah tiap detik.
>
> Akun Iwan M menulis panjang lebar dalam petisi itu. Ia menulis:
>
> "Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyied Baswedan dalam pengelolaan
> Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>dengan melakukan
> penutupan jalan Jati Baru Raya sejak tanggal 22 Desember 2017 telah
> mencederai hukum yang berlaku tentang Jalan (UU No. 22 Tahun 2009
> -UNDANG-UNDANG TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN ).
>
> Dengan dalih melakukan penataan, Gubernur memfasilitasi para PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> dengan memberikan tenda gratis
> bagi para pedagang tersebut di atas jalan yang peruntukannya jauh lebih
> besar daripada para PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> tersebut.
> Penutupan jalan dilakukan selama 10 jam setiap harinya (08.00 -18.00).
>
> Pemerintah Provinsi DKI sebelumnya telah menyediakan tempat penampungan
> untuk para PKL <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> tersebut.
>
> Mereka diberikan fasilitas tempat berjualan di Blok G pasar Tanah Abang
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/tanah-abang>. Namun karena alasan
> sepinya pembeli, dan turunnya omzet penjualan, para PKL
> <http://wartakota.tribunnews.com/tag/pkl> kembali berjualan di tempat
> yang jelas fungsinya bukan sebagai tempat berjualan.
>
> Ketidaktegasan pemerintah, dalam hal ini Gubernur DKI sebagai pembuat
> kebijakan perlu medapat perhatian dari masyarakat yang lebih luas. Tolong
> kembalikan fungsi jalan dan trotar seperti peruntukannya".* (bas/abs/ote)*
>
> *Baca selengkapnya di Harian Warta Kota edisi Jumat 29 Desember 2017*
>
> 
>

Kirim email ke