Lulus sarjana kedokteran diindonesia belum berarti langsung bisa praktek.

Setelah lulus sekolah kedokteran di indonesia yang 4 tahun itu, masih ada 
rotasi dan internship. Rotasi itu 2 tahunan baru jadi dokter muda. Setelah 
lulus dokter muda ini harus test yang susah barulah jadi dokter. Persiapan utk 
ambil test ini bisa setengah tahunan. Setelah lulus test ini jadilah dokter 
tapi dokter ini masih belum boleh praktik. Internship ini 1 tahunan. Setelah 
lulus mengantongi ijin praktek dari IDI barulah buka praktek sendiri.

 

Di usa itu lain, masuk medical school itu ada 2 jalur: lewat sekolah 
biasa/S2/undergraduate/bachelor dan premed. Memang lamanya menjadi seorang 
dokter di usa lebih lama dibandingkan dengan diindonesia. Persoalannya bukan 
lama studynya. Wong sekolah ambil bachelor itu ambil mata kuliah macem2 yg 
tidak berkaitan dengan kedokteran koq. Seorang yg jurusan music misalnya kan 
belajarnya music di S1 nya. Jadi bachelor nya juga bachelor of  music. Mana ada 
ambil mata kuliah kedokteran? Gak ada!!

 

Ini yang banyak diperbincangkan oleh orang2 kenapa harus lulus S1/bachelor baru 
boleh masuk medical school. Karena terlalu lama sekolahnya, total penghasilan 
jadi berkurang. Jadi ini masalah system pembelajaran bukan kurikulumnya. 
Kurikulumnya dimana2 diseluruh dunia ya sama. Seorang dokter harus ambil mata 
kuliah kedokteran. Kesiapan utk menjadi dokter dan kematangan menjadi seorang 
dokter di USA itu lebih diberatkan. Ini ada bagusnya shg seseorang menjadi 
dokter itu sudah matang kalau umurnya lebih tua. Tetapi kan jelas ada trade off 
nya. Banyak orang tidak mau sekolah kedokteran krn penghasilannya jadi 
berkurang krn waktu kerja berkurang disebabkan sekolahnya terlalu lama. Ini 
sudah menjadi perbincangan umum. Pameo “sudah lain jadi seorang dokter 
disini/USA. Tidak seperti dulu lagi”. Belum lagi insurance company yang sangat 
mengetatkan biaya prosedur, bikin orang2 menjadi gerah menjadi seorang dokter 
di usa.

 

Si goblok itu hanya melihat lama sekolahnya. Lalu dia pikir kalau sekolahnya 
pendek di Indonesia, dokternya jelek. Ini saja maksudnya dia itu mau bashing 
Indonesia!  Makanya dia bandingkan dengan physician assistant itu. Dia sama 
sekali tidak tahu kurikulum dlsbg. Dia gak lihat hal2 ini krn dia sibuk mau 
jelekkin Indonesia. Wong dokter2 indonesia itu banyak yg hebat2 diluar negeri 
termasuk di USA, gimana bisa kalah?!!!! Begitu juga lulusan dokter dari negara2 
lain.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, January 13, 2018 7:08 PM
To: Gelora45 <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Diperkirakan 10.000 Orang Tewas di Pembantaian 
Tiananmen, Tiongkok

 

  

S1 = Bachelor

S2 = Magister

S3= Doctor (PhD)

https://sutrisnolink.wordpress.com/2013/09/20/perbedaan-kuliah-s1-s2-dan-s3/

Pendidikan kedokteran di Indonesia :

Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia

Indonesia, seperti sebuah tulisan sebelumnya dari sejawat yang juga  
<https://www.kompasiana.com/delicia/dokter-umum-kuliahnya-s1-s2-atau-s3-sih_55f21b10d37a61a80f61d95a>
 Kompasianer, memiliki sistem pendidikan kedokteran yang sangat lama (bisa 
sampai 8,5 tahun!). Sistem pendidikan yang sangat lama ini dikarenakan ada 
beberapa tahapan yang sangat tidak efisien: waktu tunggu uji kompetensi dan 
program internship dokter.

Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia sejatinya menganut kurikulum KBK 
(Kurikulum Berbasis Kompetensi). Sistem KBK ini sebenarnya diciptakan untuk 
memangkas lama pendidikan yang harus ditempuh seorang dokter dari 7 tahun 
(sebelum tahun 2000) menjadi hanya 5 tahun (sistem KBK)! 

Sistem KBK membagi pendidikan kedokteran menjadi dua yaitu pendidikan 
pre-klinik dan profesi. Pendidikan pre-klinik bisa ditempuh dalam 3,5 tahun dan 
di akhir prosesnya mahasiswa kedokteran berhak menyandang gelar S.Ked (Sarjana 
Kedokteran). Mereka masih harus menjalani pendidikan profesi yang ditempuh 1,5 
tahun untuk meraih gelar dokter (dr.) di depan nama mereka. Sangat cepat, 
dengan sistem KBK Indonesia akan mencetak dokter hanya dalam 5 tahun masa 
pendidikan! 

Inefisiensi Sistem Pendidikan Kedokteran Kita 

Kembali pada alur Sistem Pendidikan Kedokteran Indonesia, setelah seseorang 
mendapat gelar dokter, tidak serta merta mereka boleh praktek mandiri. Mereka 
masih harus mengikuti Ujian Kompetensi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi 
dan menjalani program magang dalam program internship dokter Indonesia selama 
setahun. Logikanya, setelah 6 (5+1) tahun seorang mahasiswa Kedokteran akan 
memperoleh surat ijin praktek (SIP) dan wewenang untuk bekerja sebagai dokter 
mandiri. Namun, kenyataannya bisa molor hingga 8,5 tahun! 

https://www.kompasiana.com/ehwardoyo/pendidikan-kedokteran-di-indonesia-1_552bdeff6ea83445468b459b

http://fk.ui.ac.id/tahapan-pendidikan.html

Tahapan pendidikan di FKUI terbagi atas:

1.      Sarjana Kedokteran FKUI (S.Ked.)
diselesaikan dalam waktu 7-8 semester (144 Satuan Kredit Semester).

2.      Dokter FKUI (dr.)
ditempuh dalam waktu 4 semester (40 Satuan Kredit Semester).

3.      Gelar tambahan dari institusi pendidikan afiliasi bagi peserta 
pendidikan dokter kelas Internasional.
a. Bachelor of Medical Science from University of Melbourne, Australia
b. Bachelor of Medical Science (hon) from Monash University, Australia
c. Master of Research from University of Newcastle Upon Tyne, UK

Jadi kalau semua berjalan sempurna, di UI bisa lulus jadi dokter dalam 7-8 
semester + 4 semester =

11- 12 semester atau dalam 5.5 tahun - 6 tahun.

 

2018-01-14 0:23 GMT+01:00 [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

  

Syukurlah kalau anda lulus semua dan belajarnya banyak. Kasihan orang tuanya 
kalau nggak lulus2.

 

kutipan:

Oh ya ngomong2 ane sekolahnya lama bukan gak lulus2. Ane lulus semuanya. 
Lamanya karena ente belajarnya banyak. Ente saja iri krn ane telanjangi 
kegoblokan ente! Ente itu hanya sekolah 1 jurusan dan hanya bachelor. Sudah 
pasti itu dan ente gak usah menebak2 tapi lagaknya kaya’ paling tahu sedunia. 
Hehehehehehehehe sombongnya ampun2an. Mana contoh universitas dinegara ente 
yang hebat itu yg punya dosen semuanya phd? Disuruh sebut 1 saja gak mampu! 
Sekarang bilang MD adalah doctor?!!!

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Ooohhhhh dokter dan doctor itu hanya diindonesia ya hehehehehe? Kelihatan kan 
disini ente mau bilang: dokter di Indonesia itu bukan doctor krn sekolah 
kedokteran di Indonesia langsung dari SMA; dokter di amerika itu adalah doctor 
krn harus lulus bachelor/S1 dulu. Ini kan logical fallacy krn ente gak ngerti 
berapa lama sekolah kedokteran diindonesia itu dari SMA. Lucunya setelah 
mengambil kesimpulan MD sbg doctor tetapi bilang tidak sama dengan phd.

 

Jadi doktor di amerika gak ada ya? Goblok nya minta ampun!

 

Jelas sekali ente gak ngerti arti doctor dan phd!

Jelas sekali ente dibingungkan dengan singkatan MD sbg medical doctor, sehingga 
dikira MD adalah doctor.

 

Sekarang pake’ logika. Ini namanya logical fallacy!

 

Hehehehe cari sana dinegara ente apa beda antara MD dan Phd. Ngepek sana.

Lalu tanya ngapain ada MD yg ambil Phd!

Lalu tanya ada enggak MD yang post doc dan Phd yg post doc!

Mana argumennya MD harus nulis disertasi selain yale yang hanyalah tradisi?!

 

Oh ya ngomong2 ane sekolahnya lama bukan gak lulus2. Ane lulus semuanya. 
Lamanya karena ente belajarnya banyak. Ente saja iri krn ane telanjangi 
kegoblokan ente! Ente itu hanya sekolah 1 jurusan dan hanya bachelor. Sudah 
pasti itu dan ente gak usah menebak2 tapi lagaknya kaya’ paling tahu sedunia. 
Hehehehehehehehe sombongnya ampun2an. Mana contoh universitas dinegara ente 
yang hebat itu yg punya dosen semuanya phd? Disuruh sebut 1 saja gak mampu! 
Sekarang bilang MD adalah doctor?!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ] 
Sent: Thursday, January 11, 2018 10:43 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] Diperkirakan 10.000 Orang Tewas di Pembantaian 
Tiananmen, Tiongkok

 

 

dokter dan doktor yg anda tulis itu untuk Indonesia yg sekolah kedokteran hanya 
S1. kalau kemudian anda sekolahnya lama gak lulus2 itu gobloknya sendiri.

 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Jonathan: Memangnya kapan saya bilang "Doctor = Phd"? yang bilang itu anda.

Nesare: jadi doctor bukan phd? Jadi apa bedanya doctor dan phd?

 

Jonathan: Beda sekali antara yang saya katakan "PhD sudah tentu bisa disebut 
doctor, doctorate, ataupun doctoral" dengan generalisasi anda "Doctor = Phd".

 

nesare: oh jadi Phd apa yang bukan doctor, bukan doctorate, bukan doctoral? MD 
kan maksudnya? Oh begini ya logikanya kan? hahahahaha. Nah sekarang ayo jawab 
apa beda doctor dan Phd? Kelihatan sekali jalan pikirannya hahahaha pengin 
ketawa jadinya terpingkal2 lagi!

 

Jonathan: Kelihatannya anda berusaha mengatakan MD itu bukan doctor, memangnya 
kenapa?

Nesare: ya cari saja beda antara MD dan doctor di internet. Dokter dan doctor 
itu beda. Didepan nama gelar itu ditulis beda: dokter ditulis Dr. Doctor 
ditulis DR. oh beda sekali. Doctor = Phd = S3. Dokter itu bukan S3 dan bukan 
Phd. Dokter itu professional kaya’ lawyer yang kalau lulus dari law school itu 
dan ambil bar test itu bukan S3/Phd. Kalau lawyer itu mau sekolah lagi masuk S3 
bisa dan gelarnya JD. Begitu juga dokter kalau mau ambil S3/Phd bisa tapi harus 
sekolah lagi. Makanya ada dual program dibbrp medical school joint program 
MD/Phd. Kalau enggak ngapain orang sudah MD kata ente sudah Phd mau ambil dual 
program ini utk mendapatkan Phd yang lain?

 

Bener yale require nulis thesis utk MD. Kata disertasi itu tidak tepat krn itu 
hanya thesis. Level S2/master pun ada yang harus menulis thesis dan kadang kala 
hanyalah scientific report. Jelas sekali disertasi MD yale itu pengecualian. 
Masih ada enggak medical school yang require menulis disertasi di negara ente? 
Gak ada kan?! adalah jelas salah satu kriteria utk mendapatkan Phd itu adalah 
menulis disertasi.

Ada gelar doctor seperti DBA/doctor of business administration yang tidak perlu 
menulis disertasi tetapi ada kriteria lain yang harus dipenuhi utk menutupi 
disertasi ini misalnya mata kuliah/courses yang harus diambil lebih banyak 
terutama spesialisasinya. Ini pengecualian. Ini bukan menutup arti utk 
mendapatkan Phd harus menulis disertasi!

 

Jangan2 ente juga doctor honoris causa itu tidak pernah pergi kesekolah dan 
tidak pernah menulis 1 paper pun bukan doctor ya?!!!

 

Goblok dipelihara! Sampai sekarang masih gak ngerti bedanya MD dan Phd. Masih 
tetap dikatakan

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, January 10, 2018 12:19 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] Diperkirakan 10.000 Orang Tewas di Pembantaian 
Tiananmen, Tiongkok

 

 

Memangnya kapan saya bilang "Doctor = Phd"? yang bilang itu anda.

Beda sekali antara yang saya katakan "PhD sudah tentu bisa disebut doctor, 
doctorate, ataupun doctoral" dengan generalisasi anda "Doctor = Phd".

 

Kelihatannya anda berusaha mengatakan MD itu bukan doctor, memangnya kenapa?

 

Apakah karena anggapan anda sebelumnya yang mengatakan atau mempertanyakan 
apakah MD bikin disertasi yg imply bahwa MD tidak bikin disertasi?

 

Sudah tentu MD bikin disertasi, dibawah saya kutipkan dari Yale untuk 
menunjukkan anda MD bikin disertasi hal yang mirip bisa anda dapatkan di 
Stanford, UCSF, dll., tetapi ada perbedaan principal antara disertasi MD dengan 
disertasi PhD yang juga menjadi perbedaan antara MD dan PhD.

 

kutipan:

The presentation of a dissertation has been one of the requirements for the 
degree of Doctor of Medicine at Yale for over a century.  Initially, case 
reports and reviews of literature predominated, but as the scientific method 
found its place in medicine, the faculty has required that dissertations 
presented be based on original investigation either in the laboratory or in the 
clinic.  This experience is considered an important and essential phase of a 
curriculum which is designed to promote the development of critical judgment, 
habits of self-education and imagination, as well as the acquisition of 
knowledge and research skills.

 <https://medicine.yale.edu/education/research/mdthesis/> M.D. Thesis > Medical 
Education at Yale | Yale School of Medicine

 



        

M.D. Thesis > Medical Education at Yale | Yale School of Medicine


 

 

 

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :

Hehehehe bener2 goblok!

 

Tadinya bilang MD = Doctor tapi MD bukan Phd.

Lalu dikoreksi sendiri (setelah ane ajak kucing2an hehehehe) dan bilang Doctor 
= Phd.

 

Jelas sekali ente itu gak ngerti beda MD dan Phd!

Semua orang tahu MD itu bukan doctoral, bukan doctorate dan bukan Phd!

 

Ente masih ngeyel MD itu Doctor dimana doctor = Phd!

Goblok ndak?!!

 

Mari kupas satu2:

Jonathan: Yang saya bilang "PhD sudah tentu bisa disebut doctor, doctorate, 
ataupun doctoral."

Nesare: koq Phd bisa disebut doctor, doctorate ataupun doctoral? Mereka itu 
sama goblok! Bukan disebut2! Doctor = Phd = doctorate = doctoral.

 

 

 



Kirim email ke