*Militerisasi kekuasaan negara atau dengan lain kata Dwi-Fungsi a la
Jokowi? *


http://mediaindonesia.com/news/read/142372/kekurangan-eselon-i-kememendagri-minta-perwira-polisi-tni-jadi-plt-gubernur/2018-01-25


Jokowi Akan Beri Kesempatan TNI/Polri jadi Plt Gubernur

Kamis, 25 January 2018 19:33 WIB Penulis: *Putri Anisa Yuliani *

<http://mediaindonesia.com/files/news/2018/01/tk.jpg>
<http://mediaindonesia.com/files/news/2018/01/tk.jpg>

ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

BANYAKNYA gubernur yang akan purnajabatan sebelum Pilkada digelar membuat
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) harus memutar otak untuk menyediakan
pejabat setara eselon I menjadi pelaksana tugas (Plt). Sebabnya jumlah
eselon I Kemendagri juga terbatas.

Mendagri Tjahjo Kumolo pun menyebut tidak bisa menunjuk seluruh pejabat
eselon I menjadi Plt gubernur karena ada jabatan eselon I yang masih belum
definitif serta tidak boleh semua posisi eselon I Kemendagri mengalami
kekosongan.

"Bagi saya sebagai Mendagri, saya kan tidak mungkin melepas 17 provinsi
seluruhnya dari pejabat eselon I. Apalagi, pejabat eselon I yang Plt kan
tidak bisa, belum definitif. Kalau semua dilepas kosong kan Kemendagri.
Maka seperti tahun lalu, saya minta kepolisian dan Menteri Polhukam," kata
Tjahjo di Kemendagri, Kamis (25/1).

Politisi PDIP itu pun mengusulkan agar ada perwira Polisi dan TNI yang bisa
diusulkan menjadi Plt gubernur. Ada dua daerah yang diusulkan Plt kepala
daerahnya berasal dari Polisi dan TNI yakni Sumatra Utara (Sumut) dan Jawa
Barat (Jabar).

Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut akan habis pada 15 Februari 2018,
sementara jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar akan habis pada 13 Juni
2018. Pemerintah tidak mengenal perpanjangan masa jabatan kepala daerah
sementara dan juga melarang kekosongan pada kursi pimpinan di daerah. Untuk
itu, Tjahjo menilai penunjukkan Plt menjadi hal yang penting.

Usulan ini pun telah ia ajukan ke presiden dan sedang menunggu persetujuan.

"Keputusan presiden belum keluar. Tahun lalu (Pilkada 2017), saya minta
polisi juga dikasih, Pak Carlo Tewu, enggak ada masalah," ungkapnya.

Di sisi lain Tjahjo tidak ingin menunjuk Sekretaris Daerah menjadi Plt
karena rawan terjadi mobilisasi aparatur sipil negara (ASN) baik untuk
mendukung petahana maupun sebaliknya.

Ia pun menilai wajar jika masyarakat mempertanyakan kebijakannya.
Menurutnya penunjukkan Plt dari perwira Polri dan TNI juga penting
dilakukan di daerah dengan indeks kerawanan Pemilu tinggi untuk menjaga
stabilitas keamanan.

"Kalau kemarin saya menempatkan Aceh, TNI dan Polri, karena tingkat
kerawanan di sana cukup tinggi. Mencermati gelagat perkembangan, maka saya
taruh itu. Apapun, tanggungjawab untuk stabilitas tata kelola pemerintahan
kan saya sebagai Mendagri. Untuk memetakan kondisi daerah saya
berkomunikasi terus dengan Kapolri, Panglima TNI dan Menko Polhukam.
Menurut saya tidak ada masalah," tukasnya. (OL-6)

Kirim email ke