From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, January 28, 2018 3:02 AM
  



https://www.antaranews.com/berita/680975/padi-hibrida-diminati-petani-pesisir-pantai-selatan-pulau-jawa


Padi Hibrida diminati petani 

pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa
Sabtu, 27 Januari 2018 16:38 WIB 

Jakarta (ANTARA News) - Selama ini, padi hibrida selalu digolongkan sebagai 
padi sawah terutama sawah beririgasi teknis. Hal ini tidak sepenuhnya benar, 
karena kemampuan adaptasi padi hibrida juga ditentukan oleh kedua galur 
tetuanya. 


Pertanaman padi hibrida yang ditanam untuk pertanaman konsumsi menggunakan 
benih keturunan pertama (F1). Kenapa F1? Karena pada pertanaman F1 akan muncul 
fenomena genetika yang disebut heterosis yaitu kecenderungan tanaman F1 untuk 
tampil lebih baik dibandingkan kedua galur tetuanya. 

Heterosis dapat muncul pada semua karakter dan untuk padi hibrida heterosis 
diharapkan muncul pada karakter potensi hasil (GKG ton/ha). Besarnya heterosis 
ditentukan kekerabatan kedua galur tetua pembentuknya, secara teoritis semakin 
jauh kekerabatan kedua tetua semakin besar heterosisnya. 

Pada skala komersial tingkat heterosis ini pada umumnya ada standarnya, berapa 
persen, dan biasanya disebut standar heterosis. Dalam hal ini penampilan 
hibrida tidak dibandingkan dengan kedua tetuanya tetapi dibandingkan dengan 
varietas komersial yang paling populer di daerah target sebagai standar, 
varietas standar ini bisa berupa varietas inbrida bisa juga berupa varietas 
hibrida.  

Keragaan suatu hibrida juga ditentukan oleh daya gabung kedua tetuanya apakah 
mempunyai daya gabung khusus yang baik atau tidak. Sementara kemampuan adaptasi 
sangat dipengaruhi oleh latar belakang kedua galur tetuanya.
    
Secara umum beberapa varietas padi hibrida telah dikembangkan di Jawa Tengah 
dapat tumbuh dengan baik dan bisa diterima petani. Seperti yang sudah 
dikembangkan petani di pesisir pantai selatan pulau Jawa (Purworejo, Kebumen, 
CIlacap, Banjar sampai Ciamis) beberapa musim terakhir, 
Sebagi contoh varietas Hipa 8 yang saat ini ditanam dilahan kering pada areal 
demarea model pengembangan padi dengan sistem tanam larikan gogo (Largo) di 
Kecamatan Puring, Kab. Kebumen, Prov. Jawa Tengah. 

Ini adalah bukti pengembangkan padi hibrida dengan model pengembangan sistem 
produksi padi lahan kering. Penerapan teknologi ini sarat dengan penggunaan 
benih unggul, biodekomposer, penggunaan pupuk hayati, pengendalian hama dan 
penyakit tanaman hingga mekanisasi pertanian.

Varietas Hipa 8 dilepas tahun 2009 mempunyai keunggulan tahan penyakit hawar 
daun bakteri, potensi hasil tinggi, rasa nasi enak pulen dan wangi 

Menurut Dr. Satoto, peneliti padi hibrida Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 
Badan Litbang Pertanian mengatakan “tidak perlu kaget padi hibrida Hipa 8 
ditanam dilahan kering karena pemilihan varietas ini dengan pertimbangan bahwa 
Hipa 8 mempunyai “darah” gogo yang diwarisi dari tetua jantannya” jelas Satoto.

Lebih lanjut Satoto menambahkan bahwa prospek pengembangan padi hibrida dilahan 
kering tidak perlu dikawatirkan dan tidak perlu ditakuki karena pegembangan 
padi hinrida di lahan kering merupakan salah satu terobosan dalam upaya 
meningkatkan produktivitas padi, karena memiliki potensi produksi yang lebih 
tinggi (10-20%) dari padi inbrida.

Varietas ini pernah dilisensi oleh PT Dupont Indonesia dan berkembang di daerah 
Lampung dan pesisir pantai selatan Jateng dan Jabar. Khusus di Kabupaten 
Cilacap beras ini dikenal konsumen melalui beras cap Caping. 

Peningkatan hasil padi hibrida dilahan kering diharapkan mampu mendukung 
program peningkatan produktivitas padi yang diharapkan dapat memberikan 
sumbangan yang signifikan terhadap produksi padi nasional. (Sto/Shr/DW)
Pewarta: Antara
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

  a.. TAGS: 
  b.. balitbang 







Kirim email ke