mungkin maksud beliau itu dirinya yg tak mau utang, utang2nya (kalau ada) 
lunas, perkara utang negara sih mungkin salah menangkap maksud beliau saja.

---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :

 Jokowi janji tak mau utang, tetapi bagaimana dengan penjualan obligasi negara 
yang ramai dilakukan? Apakah juga dijanjikan APBN tidak akan kekurangan 
anggaran?hehehehehehe 
 
 
 https://www.merdeka.com/uang/jokowi-tegaskan-janjinya-tak-mau-utang.html 
https://www.merdeka.com/uang/jokowi-tegaskan-janjinya-tak-mau-utang.html
 
 
 Jokowi tegaskan janjinya tak mau utang Rabu, 20 Agustus 2014 21:13 Reporter : 
Fikri Faqih 
 Jokowi terima penghargaan Soegeng Sarjadi School of Goverment. ©2014 
merdeka.com/muhammad http://merdeka.com/muhammad lutfhi rahman 
 Merdeka.com - Presiden terpilih periode 2014-2019 Joko Widodo (Jokowi 
http://profil.merdeka.com/indonesia/j/joko-widodo/) kembali berjanji tidak akan 
menambah utang untuk memenuhi kebutuhan belanja negara. Caranya dengan 
melakukan pembekuan anggaran.
 "Ya penggunaan APBN itu secara efisien dan tepat sasaran. Tidak perlu 
ngutang," ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta 
http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/, Rabu (20/8).
 Sedangkan untuk pembayaran utang yang semakin menumpuk, Jokowi 
http://profil.merdeka.com/indonesia/j/joko-widodo/ menjawab dengan enteng. 
"Kalau utang ya dibayar," singkatnya.
 Dalam postur RAPBN 2015, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono masih 
mengandalkan pinjaman alias utang untuk memenuhi kebutuhan anggaran yang 
mencatat defisit 2,32 persen atau Rp 257 triliun
 Dalam RAPBN 2015 ada ruang untuk utang dalam negeri sebesar Rp 1.621 triliun. 
Sementara untuk utang luar negeri tahun depan, pemerintah bakal mencari utang 
baru sebesar Rp 47 triliun. Utang untuk pinjaman program sebesar Rp 7,1 triliun 
dan pinjaman proyek sebesar Rp 39,8 triliun
 Untuk komposisi utang Indonesia saat ini, data terakhir dilansir Bank 
Indonesia (BI), posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir Juni 2014 sebesar 
USD 284,9 miliar, meningkat USD 8,6 miliar atau 3,1 persen dibandingkan akhir 
triwulan I-2014 sebesar USD 276,3 miliar.
 Peningkatan posisi ULN tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya 
kepemilikan nonresiden atas surat utang yang diterbitkan baik oleh sektor 
swasta (USD 4,2 miliar) dan sektor publik (USD 1,2 miliar) serta pinjaman luar 
negeri sektor swasta (USD 1,6 miliar) yang melampaui turunnya pinjaman luar 
negeri sektor publik (USD 0,8 miliar).
 "Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) 
meningkat dari 32,33 persen pada triwulan I-2014 menjadi 33,86 persen pada Juni 
2014," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, dalam 
siaran pers, Jakarta, Rabu (20/8).
 Sementara itu, debt service ratio (DSR), yaitu rasio total pembayaran pokok 
dan bunga ULN relatif terhadap total penerimaan transaksi berjalan meningkat 
dari 46,42 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 48,28 persen pada Juni 2014.
 Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, posisi ULN 
meningkat USD 26,9 miliar atau 10,4 persen dari USD258,0 miliar. Peningkatan 
tersebut terutama disumbang oleh kenaikan pinjaman luar negeri sektor swasta 
(USD 13,6 miliar) serta surat utang sektor publik (USD 9,4 miliar) dan sektor 
swasta (USD 2,6 miliar).
 Posisi ULN Indonesia pada akhir Juni 2014 terdiri dari ULN sektor publik 
sebesar USD131,7 miliar (46,2 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta 
USD153,2 miliar (53,8 persen dari total ULN). Posisi ULN kedua sektor tersebut 
masing-masing meningkat 0,9 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan posisi 
akhir triwulan I-2014 sebesar USD130,5 miliar dan USD145,7 miliar.
 Ditinjau dari sektornya, posisi ULN pada akhir Juni 2014 terutama terpusat 
pada sektor keuangan, industri pengolahan, dan pertambangan. Posisi ULN ketiga 
sektor tersebut masing-masing sebesar USD 42,6 miliar (27,8 persen dari total 
ULN swasta), USD 30,9 miliar (20,2 persen dari total ULN swasta), dan USD 27,2 
miliar (17,8 persen dari total ULN swasta). Bila dibandingkan dengan triwulan 
I-2014, posisi ULN ketiga sektor tersebut masing-masing tumbuh 7,9 persen, 3,2 
persen, dan 6,7 persen. [noe
 
 
 

Kirim email ke