http://www.mimbar-rakyat.com/detail/tuan-guru-bajang-melaksanakan-shalat-gerhana-ciri-orang-beruntung/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook


Tuan Guru Bajang: Melaksanakan shalat gerhana ciri orang beruntung
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/tuan-guru-bajang-melaksanakan-shalat-gerhana-ciri-orang-beruntung/>

Gerhana bulan total. (sindonews)

February 1, 2018
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/tuan-guru-bajang-melaksanakan-shalat-gerhana-ciri-orang-beruntung/>
Berita <http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/berita/>, Featured
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/featured/>, Global
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/global/>, Headline
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/headline/>, Nasional
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/nasional/> 0
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/tuan-guru-bajang-melaksanakan-shalat-gerhana-ciri-orang-beruntung/#respond>

MIMBAR-RAKYAT.com (Mataram) – Gubenur Nusa Tenggara Barat, TGH Muhammad
Zainul Majdi menyatakan berkesempatan melaksanakan shalat gerhana bulan
menandakan ciri orang yang beruntung.

“Salat gerhana bulan yang kita laksanakan merupakan sesuatu yang berharga
kita laksanakan,” kata Muhammad Zainul Majdi saat melaksanakan shalat
gerhana bulan di Masjid Hubbul Wathon Islamic Center di Mataram, Rabu malam..

Gubernur yang akrab dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) ini mengatakan
tidak semua orang bisa melaksanakan shalat gerhana bulan. Karena salat
gerhana bulan total sangat jarang terjadi.

“Jadi kita semua yang hadir pada malam ini termasuk orang yang beruntung,”
katanya.

Shalat gerhana bulan di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center di imami Dr.
KH. Zaidi Abdab. Selain dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur NTB H Muhammad
Amin. Pelaksanaan shalat gerhana bulan juga di ikuti ribuan jamaah yang
memadati Masjid Hubbul Wathan Islamic Center di Mataram.

Gerhana bulan sendiri tidak terlihat di kota Mataram, karena terhalang awan
dan turunnya air hujan sehingga warga tidak bisa melihat terjadinya gerhana
bulan total.

Sama dengan ratusan warga yang telah memadati kawasan Pantai Sanur, Bali,
Rabu malam, gagal mengamati peristiwa alam Gerhana Bulan Total karena
langit di kawasan tersebut tertutup mendung.

Sejak sore hari, kawasan tersebut telah terlihat antusiasme warga untuk
menyaksikan fenomena alam langka tersebut.

Tak hanya warga asal Denpasar, seperti dilansir antaranews,sejumlah
wisatawan mancanegara juga terlihat berbaur dengan warga menunggu gerhana
bulan total.

Sejumlah pehobi fotografi pun terlihat telah mempersiapkan alat-alat
seperti tripod dan lensa tele untuk mengabadikan momen yang terakhir
terjadi 152 tahun silam itu.

Namun, hingga waktu puncak gerhana yaitu 21.29 WITA, gerhana bulan tidak
dapat teramati di Pantai Sanur, sehingga sebagian warga kecewa.

Vika Annisa salah seorang warga mengaku telah menantikan terjadinya
fenomena alam yang jarang tersebut.  “Sejak sore, saya sudah kesini ingin
melihat gerhana, tapi bagaimana, karena faktor alam diluar kuasa kita, ya
sedikit kecewa sih,” katanya.

Hal itu juga diungkapkan Aris Budi, seorang pehobi fotografi yang datang ke
Pantai Sanur bersama sejumlah rekan komunitasnya.

Sementara di berbagai tempat lain di Indonesia dan wilayah Jakarta, dengan
antusias menikmati fenomena alam yang menakjubkan itu, termasuk di TMII.

Tempat wisata yang tutup setiap sore, hari itu sengaja dibuka hingga malam
hari agar masyarakat berkesempatan melihat gerhana bulan total.

Di Museum PP-IPTEK Taman Mini Indonesia Indah, para pengunjung menantikan
pengelola memberi mereka kesempatan memakai teleskop untuk menyaksikan
fenomena alam ini.

Ratusan orang, kebanyakan datang bersama keluarga untuk menyaksikan
fenomena alam yang baru pernah terjadi lagi setelah beberapa ratus tahun.

Wigiyati, salah seorang pengunjung asal Jakarta Timur, datang bersama 12
orang keluarganya demi menyaksikan langsung gerhana bulan total.

“Memang tertarik melihat gerhana. Kan 150 tahun sekali, kami berangkat
hujan-hujanan,” katanya.

PP-IPTEK menyediakan tiga teleskop untuk melihat gerhana bulan, dua untuk
umum dan satu untuk keperluan live streaming.  Pengunjung yang enggan
mengantre melihat gerhana bulan dari teleskop dapat menyaksikan siaran
langsung melalui layar yang disediakan di selasar museum.  (An/Kb)

Kirim email ke