http://www.mimbar-rakyat.com/detail/strategi-rizal-ramli-terbukti-naikkan-posisi-tawar-indonesia-di-hadapan-amerika-dan-china/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook



Strategi Rizal Ramli Terbukti Naikkan Posisi Tawar Indonesia di Hadapan
Amerika dan China
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/strategi-rizal-ramli-terbukti-naikkan-posisi-tawar-indonesia-di-hadapan-amerika-dan-china/>

January 31, 2018
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/strategi-rizal-ramli-terbukti-naikkan-posisi-tawar-indonesia-di-hadapan-amerika-dan-china/>
Berita <http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/berita/>, Featured
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/featured/>, Internasional
<http://www.mimbar-rakyat.com/kanal/internasional/> 0
<http://www.mimbar-rakyat.com/detail/strategi-rizal-ramli-terbukti-naikkan-posisi-tawar-indonesia-di-hadapan-amerika-dan-china/#respond>

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Keputusan pemerintah Indonesia mengganti nama
perairan di utara Pulau Natuna, Kepulauan Riau, terbukti berhasil menaikkan
posisi tawar Indonesia di panggung regional dan global.

Penamaan Laut Natuna Utara menjadi salah satu topik yang dibicarakan
Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis dalam kunjungannya ke
Indonesia pekan lalu. Dalam kunjungan itu, Mattis bertemu Presiden Joko
Widodo dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Menurut Mattis perairan di utara Natuna adalah sebuah *fulcrum* atau titik
strategis yang menentukan di kawasan yang mereka sebut Indo-Pasifik.

“Bagi Amerika Serikat, keberanian dan keteguhan hati Indonesia mengubah
nama di perairan utara Pulau Natuna dari Laut China Selatan menjadi Laut
Natuna Utara dapat mereka gunakan sebagai pintu masuk untuk mengimbangi
pengaruh Republik Rakyat China di kawasan ini,” ujar pengamat hubungan
internasional dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Teguh Santosa,
dalam keterangan kepada media (Rabu, 31/1).

Teguh menambahkan, klaim China atas perairan di Laut China Selatan yang
dikenal dengan istilah *nine dashed lines* telah memicu ketegangan di
kawasan. Upaya China membangun pangkalan militer di sebuah pulau di wilayah
yang mereka klaim itu pun telah meningkatkan kehati-hatian banyak negara,
termasuk Amerika Serikat yang tidak ingin kehilangan kontrol.

“Indonesia kini berada persis di tengah dua kepentingan yang sedang
berhadap-hadapan. Terlepas dari siapa yang merasa diuntungkan oleh
keputusan Indonesia mengubah nama itu, pemerintah Indonesia harus tetap
mengedepankan kepentingan nasional,” tambah Teguh, yang juga wakil rektor
Universitas Bung Karno (UBK).

Perubahan nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara di perairan
utara Pulau Natuna diumumkan Indonesia pertengahan tahun lalu bersamaan
dengan peluncuran peta baru NKRI. Nama perairan itu diubah mengiringi
penyelesaian sengketa batas wilayah antara Indonesia dengan Malaysia dan
Vietnam.

Selain mengubah garis biru putus-putus menjadi garis biru utuh, Kemenko
Kemaritiman juga menuliskan nama Laut Natuna Utara di utara Pulau Natuna
yang masuk dalam wilayah perairan Indonesia.

Teguh sebelumnya mengatakan bahwa penggunaan nama Laut Natuna Utara itu
merupakan tindakan brilian, yang juga menegasakan kedaulatan Indonesia,
selain di saat bersamaan memperlihatkan penghormatan kepada perdamaian dan
stabilitas kawasan.

Apresiasi juga disampaikan Teguh kepada mantan Menko Kemaritiman Rizal
Ramli dan deputi Menko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno yang menginisiasi
pembuatan peta baru NKRI dan penamaan Laut Natuna Utara.

“Strategi Pak Rizal Ramli terbukti berhasil menaikkan posisi tawar kita di
hadapan Amerika Serikat dan China. Setelah ini, kita harus hati-hati
mengelolanya. Jangan terjebak pada kepentingan sempit salah satu pihak,
tetapi harus menjadikan kepentingan nasional sebagai pedoman,” kata Teguh.

Keputusan Indonesia mengubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna
Utara sempat memancing kontroversi dan protes keras dari Republik rakyat
China.

Pemerintah Indonesia pun sempat terlihat goyah, sebelum akhirnya memastikan
tetap menggunakan nama baru itu.  [an/kb]

Kirim email ke