Eva Sundari : Pelan-Pelan Para Mafia Itu Akan Tersingkir
share on:FacebookTwitter Google +
Di bawah pemerintahan Jokowi, isu mafia cukup menguat. Mereka ada di mana-mana 
dan menggurita. Bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan. 

Di bawah pemerintahan Jokowi pun, ada banyak pejabat politik yang punya konflik 
kepentingan (conflict of interest). Malahan, baru-baru Menko Maritim Rizal 
Ramli sampai mengeluarkan istilah baru: Dwi-fungsi Pepeng, yaitu orang yang 
merangkap sebagai pejabat politik sekaligus pengusaha.

Tetapi, kalau kita mau berpikir historis sedikit, bukankah itu bukan fenomena 
baru. Dulu kita mengenal istilah kapitalis birokrat (kabir) dan komprador. Dua 
istilah itu lebih relevan. Dan kalau mau jujur, kabir dan komprador itu hanya 
buah dari struktur ekonomi kita yang terbelakang dan bergantung pada asing.

Untuk melihat persoalan ini lebih jauh, Hendri Kurniawan dari Berdikari Online 
telah mewancarai Eva Kusuma Sundari. Politisi PDI Perjuangan ini baru saja 
dilantik menjadi Anggota DPR menggantikan posisi Pramono Anung. Sebelum ini dia 
menjadi Staf Khusus di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 
Berikut petikan wawancaranya:

Dalam penglihatan kami, pemerintahan Jokowi banyak diganggu oleh kegaduhan yang 
disulut oleh banyaknya pejabat negara yang punya konflik kepentingan. Ada 
banyak contoh. Sebut saja kasus terbaru: dua orang anggota keluarga Wapres 
Jusuf Kalla terungkap pernah bertemu dengan bos Freeport James R Moffett. Juga 
terkuaknya bekas petinggi Freeport yang kini bekerja di kantor Staf Presiden. 
Belum lagi kasus Pelindo II yang menyeret Wakil Presiden dan Menteri BUMN. 
Bagaimana menurut Mbak Eva?

Saya percaya praktek-praktek semacam itu praktek lama sejak Orde Baru dimana 
KKN masih mendominasi sistem politik. Jika saat ini muncul ke permukaan, karena 
Presiden bukan bagian dari sistem masa lalu dan tidak menyukai praktek-praktek 
semacam itu. Dengan adanya ledakan informasi sehingga mendukung keterbukaan, 
semua praktek-praktek yang sifatnya di bawah karpet pada keluar termasuk 
aktor-aktornya. Pelan-pelan mereka akan tersingkir.

Nah, sebelum ini Mbak Eva bilang di sejumlah media bahwa Presiden Jokowi 
dikelilingi Mafia dengan beragam kepentingan. Yaa, kita bisa menyebut mafia itu 
adalah para kapitalis birokrat (Kabir) dan komprador. Apakah itu ada 
keterkaitannya?

Sebenarnya Presiden sendiri yang menyatakan bahwa ternyata banyak urusan publik 
dan ekonomi dalam kendali mafia. Dalam urusan distribusi beras yang melumpuhkan 
Bulog. Bu Susi lapor mafia kapal ikan dan garam. Demikian juga kelangkaan 
bawang, kedelai, dan lain-lain. Ini menggenapi pengalamanku di DPR yang urus 
mafia hukum, mafia pertanahan, dan lain-lain. Mafia tumbuh karena konspirasi 
birokrat yang menghasilkan kebijakan-kebijakan (misalnya impor dan pertanahan) 
yang memberi peluang mafia untuk praktek-praktek monopoli, oligopoli, dan 
lain-lain.

Dalam pandangan Mbak Eva, apakah kelompok kepentingan di sekeliling Presiden 
itu cukup signifikan dalam mengganggu kerja-kerja pemerintah dan mendesaknya 
keluar dari rel Trisakti dan Nawacita?

Karena platformnya jelas, yaitu nawacita, plus Komitmen Presiden terhadap 
integritas juga kuat, maka para kabir ini kecele karena dikiranya presiden 
Jokowi seperti yang sudah-sudah yang punya konflik kepentingan pribadi, jadi 
bagian dari sistem yang korup karena ada motif rente. Alhamdulillah Jokowi dan 
keluarga tidak ikut bisnis APBN sehingga sistem terpaksa menjadi lebih 
akuntabel. Dampaknya, proses pembangunan bergerak lamban, kecepatan rendah, 
tidak bisa mengimbangi kecepatan presiden. Sistem dalam proses penyesuaian diri 
mencari equilibrium baru, birokrasi mencari ritme. Semoga segera beres sehingga 
bergerak optimal, dan bisa mengimbangi presiden yang action oriented dan minim 
talking.

Menurut Mbak Eva, bagaimana bisa Presiden Jokowi dikelilingi banyak Kabir dan 
komprador? Bukankah dia dulu getol bicara bahwa pemerintahannya menolak model 
“bagi-bagi kekuasaan”. Bisa dijelaskan?

Kemenangan PDI Perjuangan dan Jokowi tidak bersifat mutlak, sehingga harus 
power sharing, apalagi DPR yang dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP) yang oposan. 
Tahun pertama ini ibaratnya menata fondasi dan di sini kita bisa melihat 
kelihaian Jokowi mengendarai ombak dimana kekuatan terkonsolidasi dan mulai 
mengerucut di tangan Presiden. PAN bergabung, PPP merapat demikian pula 
sebagian Partai Golkar. PKS menempuh jalan ‘cooperative’ dan seterusnya. Di 
internal Pemerintahan juga demikian, Jokowi makin pede memberhentikan 
menteri-menteri yang dari parpol pendukung dan menggunakan penilaian berbasis 
kinerja.

Dulu, ketika menghadapi para kabir dan komprador di pemerintahannya, Bung Karno 
aktif menggelorakan gerakan “retooling” aparatur negara. Tujuannya adalah 
mengganti semua aparatus pemerintahan yang tidak sejalan dengan politik 
pemerintah. Apakah itu relevan dilakukan juga oleh Presiden Jokowi saat ini?

Retooling yang dilakukan Jokowi adalah dengan memperbaiki sistem. Pengunduran 
diri Dirjen pajak dan perhubungan merupakan pertanda bagus bahwa sistem sudah 
berjalan. Ini praktek baru dalam politik yang menggembirakan. Semoga Budaya 
tahu diri yang tumbuh dalam administrasi Jokowi ini makin menguat di masa yang 
akan datang.

Terkait persoalan Freeport. Ini kan masih terjadi tarik-menarik di tubuh 
pemerintahan. Padahal, ada desakan kuat dari rakyat agar kontrak Freeport tidak 
diperpanjang dan saatnya kekayaan alam di Papua dikelola oleh bangsa sendiri. 
Jokowi sendiri mengatakan tidak ada pembicaraan soal perpanjangan kontrak 
sebelum 2019. Apa pendapat Mbak Eva terkait kontrak Freeport ini?

Jokowi cerdik, tidak mau masuk dalam jebakan mafia tambang dan taktik mengulur 
waktu ini terbukti efektif. Dengan adanya ledakan informasi membantu situasi 
menjadi benderang dan para serigala-serigala/hiu kelihatan dan terpaksa masuk  
proses pembersihan. Satu-satu diselintiki terlempar dari system. Bahkan orang 
sekaliber Moffet mundur dr jabatannya.

yang saya khawatir adalah dukungan dari penegakkan hukum. Kemandirian sistem 
pengadilan tidak menjamin integritas dan Akuntabilitas. Putusan terakhir 
tentang pembakaran hutan yang bebas dengan pertimbangan hukum yang tidak logis 
cukup merisaukan. Reformasi tidak berjalan di MA, para hakim masih membuat 
putusan yang tidak pro keadilan. Ironis dan mengganggu upaya peningkatan 
kualitas demokrasi menuju level substantif. ()

Kirim email ke