https://tekno.tempo.co/read/1062277/membanggakan-ilmuwan-indonesia-bikin-solusi-listrik-pedalaman?
TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_8
Membanggakan, Ilmuwan Indonesia Bikin Solusi
Listrik Pedalaman
Reporter:
Afrilia Suryanis
Editor:
Amri Mahbub
Selasa, 20 Februari 2018 10:15 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1062277/membanggakan-ilmuwan-indonesia-bikin-solusi-listrik-pedalaman?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_8#comments>
00011
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://tekno.tempo.co/read/1062277/membanggakan-ilmuwan-indonesia-bikin-solusi-listrik-pedalaman?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_8#font-decrease>
+
<https://tekno.tempo.co/read/1062277/membanggakan-ilmuwan-indonesia-bikin-solusi-listrik-pedalaman?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_8#font-increase>
#
#
Membanggakan, Ilmuwan Indonesia Bikin Solusi Listrik Pedalaman
<https://tekno.tempo.co/read/1062277/membanggakan-ilmuwan-indonesia-bikin-solusi-listrik-pedalaman?TeknoUtama&campaign=TeknoUtama_Click_8>
Chairul Hudaya, peneliti dari Teknik Elektro Universitas Indonesia,
sedang berdiri di tengah ruangan yang listriknya dipasok dari tabung
listrik (Talis). (Istimewa)
*TEMPO.CO, Depok* - Ilmuwan
<https://tekno.tempo.co/read/1054457/ilmuwan-ini-ungkap-gambar-ufo-dan-alien>
dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia,
Chairul Hudaya dan Iwa Garniwa, menciptakan sebuah solusi untuk
permasalahan listrik di daerah terisolasi dan tertinggal di Indonesia.
Mereka menciptakan sebuah teknologi bernama Tabung Listrik (TaLis).
Chairul menjelaskan, TaLis adalah sebuah perangkat penyimpanan energi
berbasis baterai lithium-ion tipe 18650 yang dirangkai dengan sebuah
battery management system (BMS). TaLis dibuat memiliki kapasitas
bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan beban.
"Jika dianalogikan, TaLis sama dengan sebuah power bank yang
kapasitasnya cukup besar untuk menyuplai kebutuhan listrik rumah tangga
maupun untuk alat-alat produksi," kata Chairul kepada Tempo, kemarin.
Karena itu, dalam konsep TaLis, energi listrik bisa disimpan dalam
sebuah media penyimpanan energi (baterai) untuk selanjutnya dipakai
mengoperasikan peralatan elektronik.
"Dengan demikian, kebutuhan listrik tidak lagi bergantung pada sistem
transmisi jarak jauh dari sumber pembangkit listrik raksasa," ujarnya.
Menurut Chairul, dengan bentuknya yang ringan dan portabel, TaLis dapat
menyimpan 630 Wh energi listrik berbasis baterai lithium-ion serta mudah
dipakai karena menggunakan sistem plug and play alias pasang dan pakai.
Tidak hanya itu, Chairul melanjutkan, TaLis tidak memerlukan kWh meter
dan jaringan distribusi listrik sehingga harganya murah.
"Semua ini merupakan keunggulan TaLis dalam menjadi sebuah media
pengantar listrik di daerah-daerah yang terisolasi dan belum terdapat
jaringan listrik," katanya.
Satu unit TaLis dapat menyuplai satu kebutuhan rumah di pedesaan. "Ini
adalah sebuah bentuk inovasi bagi dunia listrik Indonesia yang masih
sangat bergantung pada metode konvensional dalam melakukan distribusi
listrik," kata dia.
Chairul menceritakan, awal mula dia membuat TaLis dilatarbelakangi oleh
banyaknya rumah tangga dan desa yang belum mendapat aliran listrik di
Indonesia. Hal ini terlihat dari rasio elektrifikasi yang rendah,
seperti beberapa daerah di wilayah Maluku dan Papua.
Dari data Badan Pusat Statistik, ada lebih dari 2.500 desa tak
berlistrik. Sedangkan, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, tingkat rasio elektrifikasi pada 2014 ada di angka 84,35
persen, sementara pada 2015 ada di angka 88,30 persen.
Pada 2017, rasio elektrifikasi mencapai 92,75 persen. Meski begitu,
masih banyak daerah di Indonesia yang rasio elektrifikasinya jauh di
bawah rata-rata nasional.
Tabung listrik (Talis) karya peneliti teknik elektro Universitas
Indonesia, Chairul Hudaya dan Iwa Garniwa. (Universitas Indonesia)
Hal ini sangat nyata di daerah-daerah terpencil dan jauh dari pusat
pembangunan, seperti di daerah pegunungan serta pulau di Maluku dan
Papua. Sebagai contoh, rasio elektrifikasi di Maluku sebesar 59,17
persen. Sedangkan pada Juni 2017, Papua baru mencapai angka 48,74 persen.
Selama ini, guna memenuhi pasokan listrik di Indonesia, pemerintah
biasanya menggunakan pembangkit listrik dalam skala besar untuk kemudian
dipasok ke masyarakat menggunakan kabel. Pembangunan pembangkit listrik
baru serta tata kelengkapan listrik lainnya tentu bukan persoalan mudah.
Banyak yang harus diselesaikan terkait dengan perizinan, pembebasan
lahan, tata ruang, dan pendanaan. Itu yang kemudian menyebabkan biaya
penyediaan listrik di Indonesia menjadi sangat mahal.
Chairul berharap TaLis dapat menjadi solusi penyediaan listrik di daerah
yang masih belum berlistrik. Prototipe TaLis sudah terpasang di Sekolah
Master Indonesia, Depok, sejak November 2017 hingga saat ini.
Simak kabar terbaru dari ilmuwan <https://www.tempo.co/tag/ilmuwan>
Indonesia lainnya hanya di kanal /Tekno Tempo.co/
<https://www.facebook.com/pg/tekno.tempo.co/posts/?ref=page_internal>.
------------------------------------------------------------------------