https://www.antaranews.com/berita/689707/nelayan-muaragembong-bekasi-
keluhkan-pencemaran-limbah-ke-rk
Nelayan Muaragembong Bekasi
keluhkan pencemaran limbah ke
RK
Kamis, 1 Maret 2018 21:12 WIB
Ridwan Kamil. (ANTARA/M Agung Rajasa)
Soal limbah laut, biar pemerintah yang mencarikan solusinya. Nggak masuk
akal kalau nelayan yang harus selidiki limbah."
Bekasi (ANTARA News) - Sejumlah nelayan di Kecamatan Muaragembong,
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan tingginya tingkat kontaminasi
limbah industri di lingkungan mereka kepada Calon Gubernur Jawa Barat
Ridwan Kamil.
"Limbah industri menyebabkan ikan mati dan tambak ditinggal nelayan
karena tidak ada hasilnya. Air tercemar, kotor, bau yang berasal dari
limbah industri," kata salah satu nelayan di Pantai Mekar Muaragembong,
Nari, Kamis.
Warga di Kampung Nelayan Pantai Mekar berharap pemimpin Jabar kelak mau
memperhatikan para nelayan yang kini tengah dihadapi masalah limbah yang
menyebabkan kerusakan ekosistem laut.
Nari yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Nelayan setempat
mengungkapkan hal itu kepada Kandidat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,
saat berkunjung pada Kamis.
Menurut Nari, pihaknya sudah melaporkan masalah limbah ke Pemerintah
Kabupaten Bekasi dan Kementerian Lingkungan Hidup, namun sampai sekarang
belum ada penanganannya.
"Saya malah disuruh cari dari mana asal limbah itu. Bagaimana saya mau
nyari, caranya saja saya tidak tahu dan setiap hari saya sibuk cari ikan
di laut," ujarnya.
Warga Desa Pantai Mekar ini dihuni oleh 500 Kepala Keluarga yang
mayoritasnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan bertani padi.
Kampung Nelayan Pantai Mekar berada ujung pesisir laut Kabupaten Bekasi.
Sejumlah nelayan juga mengeluhkan abrasi yang sering terjadi karena
tidak adanya infrastruktur pemecah ombak.
Selama ini untuk menghindari abrasi, nelayan menanam mangrove untuk
memperkuat pondasi rumah mereka di bibir laut.
Namun tanaman mangrove tak mampu menahan abrasi yang cukup kuat sehingga
lahan tempat tinggal warga terus tergerus.
"Kami ingin pemimpin Jabar nanti bisa membangun pemecah ombak agar
abrasi tidak terus terjadi," kata nelayan lainnya, Marudi (60).
Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa di desanya kesulitan air bersih
karena instalasi air bersih belum tembus hingga ke desanya.
"Air tanah di sini asin, kami berharap ada air bersih, " kata Muradi.
Selain itu, kata dia, sungai citarum yang mengarah ke laut saat ini
sudah mengalami sedimentasi dan diharapkan bisa segera dilakukan
normalisasi agar air dari Sungai Citarum bisa mendorong air laut hasil
abrasi ke laut.
Menanggapi keluhan nelayan, Ridwan Kamil menyatakan pihaknya sudah
mencatat dan akan mempersiapkan solusinya berupa pembuatan dam dan hutan
mangrove harus tetap dilestarikan.
"Soal limbah laut, biar pemerintah yang mencarikan solusinya. Nggak
masuk akal kalau nelayan yang harus selidiki limbah," ujarnya.
Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018