From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, March 5, 2018 3:02 AM
  







https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3898111/kerukunan-umat-beragama-di-festival-balaganjur-banyuwangi?_ga=2.228226330.64370047.1520189494-1493099696.1520189494Follow
 

detikcom 

Minggu 04 Maret 2018, 22:29 WIB
Kerukunan Umat Beragama di Festival 

Balaganjur Banyuwangi
Ardian Fanani - detikNews

 Ogoh-ogoh diarak (Foto: Ardian Fanani) 

Banyuwangi - Banyuwangi menggelar Festival Balaganjur dan Ogoh-ogoh. Event 
perdana yang masuk dalam Banyuwangi Festival ini menampilkan 45 barisan musik 
tradisional khas Bali. Akulturasi budaya seni Bali dan Banyuwangi, menyatu 
dalam kegiatan ini.

Tak hanya akulturasi budaya dan seni, kerukunan umat beragama terlihat di 
gelaran Parade Ogoh-Ogoh dan Balaganjur yang digelar di Desa Karetan, Kecamatan 
Purwoharjo, Banyuwangi, Minggu (4/3/2018). Masyarakat di Purwoharjo, bahu 
membahu menggelar parade yang digelar menjelang Hari Raya Nyepi tersebut.. 

      Baca juga: Hadiri Karnaval Cap Go Meh, Ketua MPR: Indonesia Bangsa 
Toleran 
      Baca juga: Cap Go Meh di Magelang, Kesenian Jawa dan Tionghoa Tampil 
Bersama 


Parade kali ini diikuti oleh 35 ogoh-ogoh berbagai bentuk, mulai dari karakter 
Hanuman, Rahwana, dan karakter lainnya. Satu ogoh-ogoh rata-rata harus digotong 
oleh 10 orang.

Di belakang ogoh-ogoh terdapat barisan balaganjur yang mengiringi. Terdapat 45 
grup balaganjur. Balaganjur berasal dari kata Bala dan Ganjur. Bala memiliki 
arti pasukan atau barisan, sedangkan Ganjur berarti berjalan. Balaganjur 
berarti pasukan atau barisan yang sedang berjalan dengan membawa gamelan. 

Bupati Anas mengatakan tahun ini banyak kebudayaan dan tradisi di berbagai 
daerah Banyuwangi diangkat dalam Banyuwangi Festival. 

      Foto: Ardian Fanani 
Menurut bupati 44 tahun tersebut, festival merupakan cara Banyuwangi untuk 
konsolidasi masyarakat. Masyarakat yang kesehariannya sibuk bekerja, atau 
banyak berada di dalam rumah, melalui festival mereka keluar rumah dan menyapa 
tetangga.

"Ini cara Banyuwangi memupuk persatuan masyarakat," kata Anas.

Purwoharjo merupakan kecamatan yang dihuni berbagai umat beragama. Tempat 
ibadah dari berbagai agama terletak berdekatan di kecamatan ini. Semua 
masyarakat dari berbagai agama membaur dalam pagelaran ini.

Tidak jauh dari lokasi parade, ribuan umat Islam menggelar pengajian di Pondok 
Pesantren Salafiyah, Al Falah Purwoharjo. Usai pengajian mereka menyaksikan 
Parade Ogoh-ogoh dan Balaganjur. 

Bahkan sebelum membuka Parade Ogoh-Ogoh dan Balaganjur, Anas menyempatkan untuk 
hadir dalam acara pengajian. "Hari ini kita menyaksikan bagaimana kerukunan 
umat beragama di Purwoharjo," kata Anas. 

Dalam parade tersebut juga hadir tokoh-tokoh lintas agama, untuk menyemarakkan 
parade yang tahun ini masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. 

"Acara ini murni dari masyarakat, yang tahun ini kami masukkan dalam agenda 
Banyuwangi Festival. Festival ini diharapkan kian menguatkan kerukunan antar 
umat beragama, dan masyarakat," kata Anas. 
(iwd/iwd)









Kirim email ke