From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, March 5, 2018 3:22 AM
  



https://tirto.id/pembantu-pembantu-khusus-daripada-soeharto-cFxD



 Ali Moertopo (kiri) saat menjadi asisten pribadi Soeharto. FOTO/Dok. Aloysius 
Sugiyanto 
6 Shares 
Reporter: Petrik Matanasi 
04 Maret, 2018 dibaca normal 3:30 menit 
  a.. Pengaruh Staf Pribadi Soeharto lebih kuat ketimbang kabinet dan dianggap 
sebagai pemerintahan bayangan. 
Sejak menjadi Ketua Presidium Kabinet Ampera, Soeharto yang lama berdinas di 
militer tentu butuh pembantu ahli dalam bidang ekonomi dan politik. Ia 
mengangkat orang-orang terdekatnya dari Kostrad sebagai staf pribadi. 

tirto.id - Sejak Soeharto pelan-pelan naik ke panggung kekuasaan pada 11 Maret 
1966, banyak sekali urusan yang dia hadapi. Hampir seluruh karier Soeharto 
dihabiskan di dunia militer dan pendidikan akademisnya sangat terbatas. Karena 
itu, Soeharto membutuhkan pembantu yang ahli dalam urusan ekonomi dan politik. 

Satu hari setelah Sidang Umum MPRS IV 1966 selesai, Mayor Jenderal Alamsjah 
Ratu Prawiranegara dipanggil Letnan Jenderal Soeharto. Jabatan Alamsjah kala 
itu adalah Asisten Keuangan dari Soeharto yang menjabat Menteri Panglima 
Angkatan Darat sekaligus Ketua Presidium Kabinet Ampera. 

“Beliau meminta saya membentuk tim yang akan membantu beliau melaksanakan tugas 
selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera. Tim ini kemudian dikenal sebagai Staf 
Pribadi Ketua Presidium Kabinet Ampera,” aku Alamsjah dalam H. Alamsjah Ratu 
Prawiranegara: Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu (1995: 184) yang 
disusun Suparwan Parikesit dan Krisna Sempurnadjaja.. 

Tiga hari kemudian, Alamsjah datang ke Soeharto untuk menyerahkan susunan staf 
pribadi. Alamsjah dipercaya sebagai koordinator. Bidang politik diserahkan 
kepada Mayor Jenderal Soenarso, bidang ekonomi dipegang Kolonel Soedjono 
Hoemardani, bidang pembangunan ada Kolonel Slamet Danusudirdjo, staf 
administrasi dan organisasi diisi Kolonel Abdul Kadir, bidang keuangan diampu 
Brigadir Jenderal Surjo Wiryohadiputro, urusan intelijen dalam negeri ada 
Kolonel Yoga Sugama, dan urusan intelijen luar negeri ada Letnan Kolonel Ali 
Moertopo. 


Baca juga: Yoga Soegomo, Kepala Intelijen yang Minta Soeharto Mundur 

Alamsjah mengaku, dirinya mencalonkan Suhardiman untuk mengisi bidang ekonomi, 
akan tetapi Soeharto bilang, “biar Soedjono saja.” Tiga bulan kemudian, 
Brigadir Jenderal Yusuf Singadekane dan Brigadir Jenderal Isman masuk ke dalam 
tim. 

Bertindak Bak Pemerintahan Bayangan
Belakangan, sejak 1967 dan kekuasaan Soeharto semakin kuat, Staf Pribadi—biasa 
disingkat Spri—menjelma bak lembaga resmi negara. Seperti dicatat David Jenkins 
dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983 
(2010), saat itu Spri berisikan “enam orang perwira tinggi Angkatan Darat serta 
dua tim sipil, para spesialis di bidang ekonomi” (hlm. 27-29). 

Menurut Jenkins, orang seperti Alamsjah, Moertopo, Soegama, dan Hoemardani 
bukan orang baru bagi Soeharto. Setidaknya mereka sama-sama pernah di Kostrad. 
Pengalaman di Kostrad berpengaruh terhadap apa yang dikerjakan di Spri. 

Misal, Ali Moertopo adalah kepala Operasi Khusus (Opsus) yang didirikan di 
Kostrad dalam rangka menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia pada 1964, maka 
ia pun mendapat tugas mengurusi intelijen luar negeri. Soedjono Hoemardani, 
yang mengurusi bagian keuangan selama di Kostrad, ditugasi untuk urusan 
ekonomi. 


Baca juga: Spektrum Politik di Seputar Kampanye Ganyang Malaysia

Tim ahli sipil kebanyakan berasal dari Universitas Indonesia. Ada Widjojo 
Nitisastro, Ali Wardhana, Sadli, Emil Salim di bidang ekonomi. Ada Sarbini 
Sumawinata, Fuad Hasan, Hariri Hadi, Deliar Noor, Sulaeman Sumardi di bidang 
politik. Mereka berkantor di Merdeka Barat nomor 15, yang merupakan kantor dari 
Ketua Presidium Kabinet Ampera. Sebelumnya tempat itu adalah rumah dinas dari 
Wakil Perdana Menteri (Waperdam) dr. Subandrio. 

“Secara umum, tugas para staf ahli ini adalah semacam think tank yang membantu 
Ketua Presidium Kabinet Ampera dalam melaksanakan tugas sehari-hari,” tutur 
Alamsjah. 

Spri juga ikut melakukan kontak-kontak ke luar negeri. Seperti dilakukan 
Widjojo Nitisastro, yang bersama Sri Sultan Hamengkubuwana IX berunding dengan 
Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato pada 1967. 

“Atas prakarsa PM Sato diundanglah beberapa negara ke Tokyo untuk membicarakan 
kemungkinan bantuan kepada Indonesia. Pertemuan ini menghasilkan dibentuknya 
Tokyo Club dan dalam pertemuan inilah Indonesia berhasil mendapat pinjaman 
sebesar US$ 170 Juta,” aku Alamsjah. 

Pada 1968, Tokyo Club berubah menjadi Paris Club. Belakangan, para negara donor 
membentuk Inter-Governmental Group of Indonesia (IGGI).


Baca juga: IGGI dan Asal-Usul Utang Luar Negeri Indonesia

Kuasa Spri begitu istimewa hingga dianggap sebagai pemerintah bayangan. 
Pengaruhnya dianggap lebih kuat ketimbang Kabinet Pembangunan yang dipimpin 
Soeharto. Kritik atas Spri pun bermunculan. Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia 
(KASI), misalnya, pada November 1967 menyebut “bahaya timbulnya kembali 
lembaga-lembaga yang berada di luar UUD.” 

SPRI lalu dibubarkan di bulan Juni 1968. Meski lembaganya sudah tidak ada, 
orang-orang di dalamnya tetap berperan penting dalam pemerintahan Soeharto. 
“Para ekonom diberi tugas lagi sebagai menteri-menteri yang menangani 
urusan-urusan ekonomi di dalam kabinet baru yang dibentuk dalam bulan yang sama 
oleh Suharto sebagai presiden penuh,” tulis Mochtar Mas'oed dalam Ekonomi dan 
Struktur Politik Orde Baru, 1966-1971 (1989: 178). 


Baca juga laporan in-depth Tirto tentang Soeharto: 
  a.. Modus Soeharto Mencatut Uang Publik Lewat Yayasan 
  b.. Barisan Besan daripada Soeharto 
  c.. Gurita Bisnis Keluarga Soeharto 
  d.. Menziarahi Hidup dan Mati Soeharto 
  e.. Harta Soeharto: Lika-Liku Penyitaan Aset Yayasan Supersemar 
  f.. Mengenang Soeharto dari Toyota Kijang 
  g.. Mengulik Masa Lalu Soeharto Lewat Tiga Biografi 

 
share infografik


Habis Spri, Terbitlah Aspri
Sebelum Spri bubar, sejak 30 Januari 1968 Alamsjah sudah menjadi Sekretaris 
Negara Republik Indonesia. Ia kemudian tersingkir. Setelah tahun 1971 berakhir, 
Alamsjah dijadikan Duta Besar Indonesia untuk Belanda. 

“Sebagian karena ia gagal dalam tugas keuangan yang sulit, sebagian yang lain 
karena adanya intrik yang dilakukan anggota inti lainnya, mungkin sekali oleh 
Ali Moertopo,” tulis David Jenkins. 

Yoga Soegama kemudian dijadikan sebagai Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelejen 
(Bakin) dan tak lama kemudian jadi kepalanya. Hanya tiga orang yang tetap jadi 
pembantu khusus Soeharto: Surjo Wiryohadiputro, Soedjono Hoemardani, dan Ali 
Moertopo. Mereka dijadikan Asisten Pribadi (Aspri) presiden. 

Baik Ali Moertopo juga Soedjono Hoemardani dikenal sangat dekat dengan 
Soeharto. Dalam lembaga Aspri, urusan intelijen dan keamanan dipegang Ali. 
Sementara Soedjono, seperti biasa, mengurusi keuangan dan ekonomi. 

“Sejak tahun 1968, Ia (Soeharto) sudah mendengar kritik orang tentang Asprinya. 
Ia sendiri merasa heran mengapa banyak orang tidak mengerti bahwa ia memerlukan 
sebuah tim yang dapat ia percayai dapat menolongnya melaksanakan tugas-tugasnya 
yang sangat berat,” bela Retnowati Abdulgani Knapp dalam Soeharto: The Life and 
Legacy of Indonesia's Second President (2007: 95). 

Aspri juga tidak bebas kritik. “Bagaimanapun itu bukanlah akhir dari 
masalahnya. Kritik-kritik terhadap Aspri sebagai suatu badan yang berada di 
luar konstitusi kembali dilancarkan akhir tahun 1973,” tulis O.G.. Roeder dalam 
Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1984: 277). 

Soeharto pun akhirnya terpaksa membubarkan Aspri pada 28 Januari 1974, beberapa 
hari setelah peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Bagi Soeharto, 
tidak masalah jika lembaga Aspri bubar. Nyatanya orang-orang yang berada di 
dalam Aspri tetap dekat dan diandalkan Soeharto. 


Baca juga: Malari 1974: Protes Mahasiswa yang Ditunggangi Para Jenderal

Setelah Aspri bubar, Ali Moertopo tetap menjadi Wakil Kepala Bakin dan 
penasehat politik presiden. Belakangan, ia ditunjuk sebagai Menteri Penerangan 
dari 1978 hingga 1983. Sementara Soedjono Hoemardani, yang sempat menjadi 
anggota DPR/MPR, kemudian diangkat untuk menjabat Inspektur Jenderal 
Pembangunan. 

Kedua jenderal itu bersama-sama membangun lembaga bernama Centre for Strategic 
and International Studies (CSIS), think tank bagi kebijakan politik Soeharto. 
Satu dekade setelah Aspri bubar, keduanya satu-persatu meninggal. Sementara 
Surjo kemudian mengurus hotel-hotel milik negara. 

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi 

(tirto.id - pet/ivn) 







Kirim email ke