Mur2 jembatan Suramadu sudah dilas sekarang. Rel2 untuk kereta api kecepatan tinggi sekarang juga dilas. Meskipun dengan kecepatan tinggi, tidak terasa grenjal grenjol seperti jaman dulu. Beberapa tahun yang lalu saya naik kereta api Beijing - Tianjin, waktu itu masih dengan kecepatan 200 km/jam. Mulus sekali. Bisa tidur nyenyak. Hanya WC nya kotor, karena pagi2 bangun dipakai begitu banyak orang, sedangkan malamnya masih bersih. Tempat gosok giginya panjang sekali, bisa puluhan orang sekaligus gosok gigi dengan banyak kran2nya. Sekarang kabarnya railnya sudah diganti untuk kecepatan sekarang 250 km/jam..
2018-03-05 10:02 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Yang mau dipakai dari Jakarta Bandung, bukan dgn. teknologi ini dan kalau > tidak salah kecepatannya kira2 350 km/jam. Yg. sukses ujicoba 1000/jam > adalah pakai teknologi Maglev seperti yg. dipakai antara kota Shanghai dan > airportnya tetapi kecepatannya kira2 dibawah 400 km/jam.. > > ---In [email protected], <marthajan04@...> wrote : > > Indonesia juga sudah pesan kan untuk Jakarta Bandung dan Jakarta Surabaya? > padahal baru uji coba? > Juga saya sih ngeri dimana orang indo masih banyak yang tega nyopoti rel2 > kereta api hanya untuk dapat beberapa ribu rupiah. Ingat jembatan Suramadu > saja dicopoti mur2nya hanya untuk dijualin sebagai besi tua. Atau ditimpuki > waktu lewat. > Wis, ga ampun kalau sampai kejadian. > > > > ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : > > China sukses ujicoba kereta maglev berkecepatan 1.000 km/jam > > * Senin, 5 Maret 2018 07:23 WIB* > [image: China sukses ujicoba kereta maglev berkecepatan 1.000 km/jam] > > *Kereta super cepat, Shanghai Maglev, di China. (Screenshot video YouTube)* > Beijing (ANTARA News) - Kereta api berteknologi levitasi magnetik (maglev) > yang melaju dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam berhasil diujicobakan > di China. > > Namun, para pakar di negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu > mengingatkan beberapa persoalan teknis masih membutuhkan penanganan serius > sebelum kereta berjuluk "super maglev" itu dioperasikan. > > Purwa rupa kereta di lintasan 45 meter sedang dikembangkan Deng Zigang dan > timnya di laboratorium Southwest Jiaotong University, Chengdu, Provinsi > Sichuan, sebagaimana tayangan CCTV, saluran televisi resmi China, Senin. > > Kereta tersebut menggabungkan dua teknologi, yakni teknologi maglev yang > berarti mengurangi gesekan roda dengan rel dan evakuasi tabung gerbong > untuk mengurangi gesekan dengan udara, demikian tesis Deng dan timnya yang > dipublikasikan di laman Institute of Electrical and Electronics Engineers, > asosiasi para profesional berkantor pusat di Amerika Serikat. > > Deng dan timnya mengurangi tekanan udara serendah mungkin hingga 2,6 > centibar atau 2,9 kilopaskal unit tekanan dalam eksperimen pada garis > tengah 6 meter saat uji laju berkecepatan 50 kilometer per jam. > > Perlu diketahui bahwa tekanan atmosfir bumi standarnya 101,32 kilopaskal. > > Penemuan tersebut kedengarannya sangat dahsyat. Namun masih banyak > persoalan teknis yang dihadapi, seperti faktor keselamatan dan biaya > sebagaimana dikemukakan Sun Zhang, seorang profesor dan pakar > perkeretaapian dari Shanghai Tongji University. > > "Kereta api itu harus bisa berhenti kapan saja diperlukan. Hal itu bisa > dilakukan di ruang terbuka dengan memanfaatkan resistensi udara. Namun akan > menjadi persoalan karena tabung hampa (di teknologi tersebut) tidak ada > resisteni udaranya," katanya sebagaimana dikutip Global Times. > > "Bagaimana jika tabung aus dan udara masuk ke sistem teknologi itu? > Bukankah ini akan menjadi persoalan lain?" ujar Sun mengingatkan. > > Dalam teknologi perkeretaapian China berupaya keras bisa menyaingi Jepang.. > Pada 2015, Jepang telah berhasil menjalankan kereta maglev dengan kecepatan > maksimum 603 kilometer per jam, seperti laporan The Guardian, surat kabar > harian asal London, Inggris. > > Pewarta: M. Irfan Ilmie > Editor: Suryanto > > >
