Baguuuslah kalau pemerintah bisa mengambil KEPUTUSAN TEGAS dan CEPAT, relokasi 
ratusan kampung di Asmat untuk lebih dahulu menangani masalah mendesak 
KESEHATAN anak-anak di kampung2 Asmat yg sangat buruh kondisinya itu! Jangan 
biarkan masalah kurang gizi, masalah kesehatan anak-anak TERTUNDA 
berkepanjangan, ... yang pasti bisa fatal bagi pertumbuhan dimasa dewasa mereka!


From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, March 6, 2018 6:28 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [GELORA45] Pemerintah mau relokasi ratusan kampung di Asmat, ada apa?

  



http://tabloidjubi.com/artikel-14159-pemerintah-mau-relokasi-ratusan-kampung-di-asmat-ada-apa.html



Pemerintah mau relokasi ratusan kampung di Asmat, ada apa?
 

"Jika air laut pasang maka air rawa akan naik dan memasuki rumah dengan membawa 
berbagai kuman," ujarnya.

Tim kesehatan sedang memeriksa anak-anak korban gizi buruk dan campak di Asmat 
- Jubi/Dok. 

ANTARA



Tabanan, Jubi – Akses yang sulit dijangkau, menjadi alasan bagi Pemerintah 
Indonesia untuk menyusun rencana relokasi 224 kampung di Kabupaten Asmat, 
Papua, ke daerah yang mudah dijangkau.

"Memang lokasinya sangat jauh harus ditempuh dengan sepuluh jam perjalanan 
dengan menggunakan kapal cepat," kata Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, 
saat ditemui disela-sela kampanye kampanye Imunisasi Japanese Enchepalitis (JE) 
di Tabanan, Bali, Kamis (1/3/2018).

Nila menegaskan, relokasi ini dilakukan untuk memudahkan tim kesehatan 
melakukan pendampingan dan pelayanan. Jika ditelisik,  kasus kejadian luar 
biasa (KLB)  campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat sebenarnya 
sudah bisa teratasi.

Untuk itu, pemerintah bersama Kementerian Kesehatan saat ini akan memfokuskan 
pada keadaan lingkungan dan budaya di kabupaten setempat. Pihaknya menilai 
bahwa lingkungan di Kabupaten Asmat sangat mudah menularkan penyakit karena 
penduduk yang tinggal di atas rawa-rawa dan muara.

"Jika air laut pasang maka air rawa akan naik dan memasuki rumah dengan membawa 
berbagai kuman," ujarnya.

Nila kembali menyebutkan, persoalan ketersediaan pangan juga menjadi masalah, 
karena penduduk lokal hanya mengonsumsi umbi-umbian yang ditanam seadanya.

Sementara itu, Menkes Nila Farid Moeloek saat mencanangkan kampanye Imunisasi 
JE di SMP Negeri 1 Tabanan menegaskan, bahwa imunisasi JE dilakukan untuk 
mencegah penyakit radang otak itu dengan meningkatkan kekebalan spesifik 
individu terhadap virus JE.

"Hari ini kita akan canangkan dimulainya kampanye imunisasi JE di seluruh 
Provinsi Bali. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua bulan penuh dengan 
menyasar anak berusia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun," katanya. (*)





Kirim email ke