*Bagaimana bisa utang RI tidak lagi wajar? Bukankah belum lama Sri Mulyani
mendapat gelar ”Menteri Keuangan terbaik di dunia**”* (
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/11/154509626/sri-mulyani-jadi-menteri-terbaik-dunia-versi-world-government-summit).
*Gelar ini diperoleh di Dubai (UAE), Februari lalu. Para petinggi negara
termasuk presiden Jokowi gembira dan bangga. Kebanggaan Jokowi diucapkan
dalam beberapa pertemuan dengan umum. Kalau utang RI tak lagi wajar
dikaitkan dengan hadiah gelar sebagai menteri keuangan terbaik di dunia,
maka mungkin sekali timbul pertanyaan: ”Apakah hadiah terbaik itu ada
kaitannya utang? Makin banyak hutang maka diberi gelar menteri keuangan
terbaik di dunia?”*


https://www.kaskus.co.id/thread/5aa93f6b56e6aff3518b4576/pertumbuhan-ekonomi-cuma-5-jumlah-utang-ri-tak-lagi-wajar/


*Pertumbuhan Ekonomi Cuma 5%, Jumlah Utang RI Tak Lagi Wajar*


detik.com
Pertumbuhan Ekonomi Cuma 5%, Jumlah Utang RI Tak Lagi Wajar
Eduardo Simorangkir
2-3 minutes
Jakarta

- Jumlah utang pemerintah Indonesia hingga akhir Januari 2018 telah
mencapai kisaran Rp 3.958,7 triliun. Dengan capaian tersebut, rasio utang
terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia kini telah menyentuh angka
29,2%.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny
Sri Hartati mengatakan jumlah utang tersebut termasuk dalam kategori kontra
produktif dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pasalnya dengan
jumlah utang yang telah ditarik itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya
berada di kisaran 5%. Hal ini dianggap tak menunjukkan adanya produktifitas
dari jumlah utang yang telah dihasilkan.

"Kalau dilihat dari segi keamanan utang kita, ini sudah kontra produktif.
Di samping juga ukuran dari kesehatan fiskal pemerintah sendiri. Kalau
modal ditambah utang kok malah keseimbangan primernya defisit (APBN) itu
pasti sudah nggak sehat," katanya kepada detikFinance saat dihubungi, Rabu
(14/3/2018).

Untuk itu, menurut Enny ukuran aman atau tidaknya utang Indonesia tak bisa
dilihat hanya membandingkannya dengan PDB saja. Jumlah PDB Indonesia yang
besar memang menjadi modal yang kuat bagi pemerintah untuk bisa terus
menambah utang.

Namun PDB yang besar tersebut terhitung biasa saja jika dilihat dari jumlah
populasi dan wilayah Indonesia yang besar dan luas. Tapi jika PDB yang
besar namun tak diimplementasikan lewat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
pula, maka hal itu pun perlu menjadi lampu kuning.

"Seperti China, India, itu kan populasinya besar, tapi bedanya mereka punya
pertumbuhan yang tinggi. Negara-negara yang populasinya besar itu tidak
cukup kalau pertumbuhan ekonominya hanya 5%. China 6% lebih, India bahkan
pernah 8%. Jadi negara yang populasinya besar itu minimal ekonominya tumbuh
di atas 6%," kata Enny.

"Beda dengan negara-negara seperti Jepang, AS yang kalau tumbuh 3% itu
sudah stabil. Jadi membandingkannya itu harus apple to apple

, populasinya yang sizenya juga besar," tambahnya.

(eds/dna)

about:reader?url=https%3A%2F%2Fm.detik.com
%2Ffinance%2Fberita-ekonomi-bisnis%2Fd-3916750%2Fpertumbuhan-ekonomi-cuma-5-jumlah-utang-ri-tak-lagi-wajar

Quote:

yang penting dalil tekstualnya rasio masih aman nanti kalau sudah mendekati
point tidak aman tinggal gerombolan itu bikin legislasi baru sesuai kemauan
master slave

Kirim email ke