Redaksi Cara Wiebe Wakker Belajar Ilmu EO (1)
Pengalaman Besar Diperenguti Satpam
Oleh: Dahlan Iskan
SABTU, 17 MAR 2018 13:19 | EDITOR : EBIET A. MUBAROK
 
Dahlan Iskan (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)


Berita Terkait
  a.. Debat Kesepakatan dan Ketidakwajaran 
  b.. Menarif Mahal, Ditagih MahalKOLOM - Dia ambil mata kuliah event 
organizer. Di jurusan manajemen. Dia berjanji pada dosen yang meluluskannya: 
ilmunya itu akan langsung dia praktikkan. Sebagai bukti bahwa dia lulus sarjana 
bukan asal lulus.

Dia akan mengorganisir sebuah event unik. Dan harus sukses: mengorganisasi 
perjalanan dari Belanda ke Australia. Mulai cari pelaku, sponsor, dan 
merumuskan anggaran.

Event yang dia rancang itu dibilang unik karena perjalanan itu harus perjalanan 
darat. Harus setir mobil. Harus sendirian. Mobilnya harus mobil listrik.

Harus tidak boleh bawa uang lebih. Uang di saku harus hanya cukup untuk makan 
satu hari. Tidak boleh ada uang untuk menginap di hotel. Harus bisa cari makan 
sendiri. Cari penginapan sendiri. Dan cari jalan keluar sendiri.

Kalau semua itu sukses barulah dia merasa menjadi sarjana ilmu event organizer 
yang sebenarnya.

Untuk mencari pelakunya dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun: dia pilih 
dirinya sendiri.

Nama dirinya: Wiebe Wakker. Wiebe masih bujang. Tentu. Tidak ada beban. Bahwa 
ada syarat lain dia tidak boleh bawa uang Wiebe juga tidak sulit. “Saya dari 
keluarga miskin,” katanya saat ngobrol di rumah saya di Surabaya.

Bapaknya pegawai biasa di sebuah instansi di Belanda. Rumahnya sekitar 30 km 
arah barat Amsterdam.

Hari itu Wiebe datang ke rumah saya karena ingin melihat Tesla. Mobil listrik 
yang saya beli dari Amerika.

Sejak dia masih di luar negeri sudah tahu saya memiliki Tesla. Dan, kalau 
boleh, ingin merasakan mengemudikannya.

Tentu saja boleh. Hanya saja harus menunggu dua jam kemudian. Hujan lagi deras 
sekali. Tidak ada tanda-tanda segera reda. Kami ngobrol di teras sambil makan 
sanggar yang masih panas. Yakni pisang goreng ala Kalimantan. Salah satu 
keistimewaan masakan istri saya.

Saya tidak takut Teslanya kehujanan. Tapi saya sendiri yang takut kehujanan.. 
Dalam kondisi badan yang baru sakit keras saya harus jaga diri.

Setelah dua jam menghabiskan satu piring sanggar hujan berhenti. Kami pun 
siap-siap naik Tesla.

Dia yang mengemudikan. Saya di sebelahnya. Akan saya ajak dia ke bengkelnya 
Jonathan. Di Jalan Kendangsari, Surabaya. Di situlah mobil Jaguar saya 
dibongkar. Untuk diubah menjadi mobil listrik.

Saya ingin memperlihatkan pada Wiebe: mobil biasa juga bisa jadi mobil listrik.

Kami pun segera masuk Tesla. Sebagai pemuda Belanda yang badannya tinggi, Wiebe 
harus banyak mengorganisir tempat duduk di belakang kemudi. Lalu mengambil 
barang di tasnya.

Ternyata kamera kecil. Dia tempelkan kamera itu di kaca depan. Menghadap ke 
dirinya. Wiebe begitu siap ingin mengabadikan peristiwa mengemudikan Tesla 
justru di Indonesia.

Begitu keluar rumah, Wiebe tertegun. Banjir. Jalan di dekat rumah saya memang 
selalu tergenang. Tinggi. Apalagi habis hujan deras dua jam.

Beberapa sepeda motor tidak berani lewat. Dia ragu apakah berani memasukkan 
Tesla melewati genangan panjang itu. “Go!.” kata saya.

Dia pun mengajukan beberapa pertanyaan. Intinya: amankah baterainya? Tidak 
konsletkah?

Ternyata Wiebe trauma. Dia mengalami nasib buruk saat melewati India. Mobil 
listriknya bermasalah saat merenangi genangan di India.

Saya pun menceritakan pengalaman saya dua bulan sebelumnya. Saat mengemudikan 
Tesla di genangan yang sama.

Saat itulah saya kaget. Begitu memasuki genangan, suspensinya naik sendiri. 
Otomatis. Saat genangannya lebih dalam suspensinya naik sekali lagi.

Saya pun melihat layar lebar di Tesla itu. Ternyata ada empat tingkatan 
suspensi: low, standard, high, dan very high.

Wiebe pun tidak lagi ragu-ragu. Dia masukkan Tesla ke genangan. Dengan 
kecepatan relatif tinggi. Lalu berhenti di dekat portal. Portalnya tutup.

Satpam di kampung saya itu mendekat. Dengan wajah merengut. Saya buka kaca: 
kenapa portal ditutup?

“Maaf pak, agar tidak ada mobil berjalan cepat. Gelombang airnya masuk rumah,” 
katanya sambil membuka portal.

Ganti saya yang minta maaf pada pak satpam. “Ini teman saya Belanda. Dia tidak 
paham soal dampak gelombang air di jalan raya,” kata saya. Lalu menerjemahkan 
permintaan maaf saya itu ke Wiebe.

Tentu Wiebe juga tidak pernah mendapat ilmu tentang dampak gelombang air di 
jalan raya saat dia kuliah ilmu event organizer di Belanda. (dis/baca 
sambungannya besok, bagaimana Wiebe jalan-jalan tanpa uang).

Catatan Admin:

Tulisan ini dibuat di mobil dalam perjalanan sepanjang 200 km dari Kota Weifang 
ke Kota Qingdao di Provinsi Shandong, China.

(bj/ch/bet/JPR)

Kirim email ke