Sekarang ini di Belanda sudah agak banyak mobil  listrik Tesla.
Harganya mahal, meskipun banyak dibebaskan dari macam2 pajak,
Tetapi yang pakai bilang, listriknya jauh lebih murah dari bensin,.
Ini kalau di Belanda. Kalau di Indonesia tidak tahu.
Di Tiongkok harga mobil listrik disubsidi banyak sekali. Produsen mobil
diharuskan 10 % dari produksi mobilnya harus listrik atau hibride.
Ini untuk mengurangi smog di kota2.
Tiongkok bakal mempunyai pabrik batterai mobil, yang akan jauh
lebih besar dari milikTesla, Pabrik batterai mobil CATL Tiongkok dengan
pusatnya di Ningde, Fujian. Laboratoriumnya di Ningde dan Berlin.

2018-03-17 7:42 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Redaksi <https://www.jawapos.com/radarbojonegoro/category/346/redaksi>
> Cara Wiebe Wakker Belajar Ilmu EO (1) Pengalaman Besar Diperenguti Satpam 
> Oleh:
> Dahlan Iskan
>
> SABTU, 17 MAR 2018 13:19 | EDITOR : EBIET A. MUBAROK
> [image: Dahlan Iskan]
> <https://www.jawapos.com/radar/uploads/radarbojonegoro/news/2018/03/17/pengalaman-besar-diperenguti-satpam_m_57834.jpeg>
>
> Dahlan Iskan *(Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)*
> Berita Terkait
>
>    - Debat Kesepakatan dan Ketidakwajaran
>    
> <https://www.jawapos.com/radarbojonegoro/read/2018/03/16/57626/debat-kesepakatan-dan-ketidakwajaran>
>    - Menarif Mahal, Ditagih Mahal
>    
> <https://www.jawapos.com/radarbojonegoro/read/2018/03/15/57338/menarif-mahal-ditagih-mahal>
>
> KOLOM - Dia ambil mata kuliah event organizer. Di jurusan manajemen. Dia
> berjanji pada dosen yang meluluskannya: ilmunya itu akan langsung dia
> praktikkan. Sebagai bukti bahwa dia lulus sarjana bukan asal lulus.
>
> Dia akan mengorganisir sebuah event unik. Dan harus sukses: mengorganisasi
> perjalanan dari Belanda ke Australia. Mulai cari pelaku, sponsor, dan
> merumuskan anggaran.
>
> Event yang dia rancang itu dibilang unik karena perjalanan itu harus
> perjalanan darat. Harus setir mobil. Harus sendirian. Mobilnya harus mobil
> listrik.
>
> Harus tidak boleh bawa uang lebih. Uang di saku harus hanya cukup untuk
> makan satu hari. Tidak boleh ada uang untuk menginap di hotel. Harus bisa
> cari makan sendiri. Cari penginapan sendiri. Dan cari jalan keluar sendiri.
>
> Kalau semua itu sukses barulah dia merasa menjadi sarjana ilmu event
> organizer yang sebenarnya.
>
> Untuk mencari pelakunya dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun: dia
> pilih dirinya sendiri.
>
> Nama dirinya: Wiebe Wakker. Wiebe masih bujang. Tentu. Tidak ada beban.
> Bahwa ada syarat lain dia tidak boleh bawa uang Wiebe juga tidak sulit.
> “Saya dari keluarga miskin,” katanya saat ngobrol di rumah saya di Surabaya.
>
> Bapaknya pegawai biasa di sebuah instansi di Belanda. Rumahnya sekitar 30
> km arah barat Amsterdam.
>
> Hari itu Wiebe datang ke rumah saya karena ingin melihat Tesla. Mobil
> listrik yang saya beli dari Amerika.
>
> Sejak dia masih di luar negeri sudah tahu saya memiliki Tesla. Dan, kalau
> boleh, ingin merasakan mengemudikannya.
>
> Tentu saja boleh. Hanya saja harus menunggu dua jam kemudian. Hujan lagi
> deras sekali. Tidak ada tanda-tanda segera reda. Kami ngobrol di teras
> sambil makan sanggar yang masih panas. Yakni pisang goreng ala Kalimantan..
> Salah satu keistimewaan masakan istri saya.
>
> Saya tidak takut Teslanya kehujanan. Tapi saya sendiri yang takut
> kehujanan. Dalam kondisi badan yang baru sakit keras saya harus jaga diri..
>
> Setelah dua jam menghabiskan satu piring sanggar hujan berhenti. Kami pun
> siap-siap naik Tesla.
>
> Dia yang mengemudikan. Saya di sebelahnya. Akan saya ajak dia ke
> bengkelnya Jonathan. Di Jalan Kendangsari, Surabaya. Di situlah mobil
> Jaguar saya dibongkar. Untuk diubah menjadi mobil listrik.
>
> Saya ingin memperlihatkan pada Wiebe: mobil biasa juga bisa jadi mobil
> listrik.
>
> Kami pun segera masuk Tesla. Sebagai pemuda Belanda yang badannya tinggi,
> Wiebe harus banyak mengorganisir tempat duduk di belakang kemudi. Lalu
> mengambil barang di tasnya.
>
> Ternyata kamera kecil. Dia tempelkan kamera itu di kaca depan. Menghadap
> ke dirinya. Wiebe begitu siap ingin mengabadikan peristiwa mengemudikan
> Tesla justru di Indonesia.
>
> Begitu keluar rumah, Wiebe tertegun. Banjir. Jalan di dekat rumah saya
> memang selalu tergenang. Tinggi. Apalagi habis hujan deras dua jam.
>
> Beberapa sepeda motor tidak berani lewat. Dia ragu apakah berani
> memasukkan Tesla melewati genangan panjang itu. “Go!.” kata saya.
>
> Dia pun mengajukan beberapa pertanyaan. Intinya: amankah baterainya? Tidak
> konsletkah?
>
> Ternyata Wiebe trauma. Dia mengalami nasib buruk saat melewati India.
> Mobil listriknya bermasalah saat merenangi genangan di India.
>
> Saya pun menceritakan pengalaman saya dua bulan sebelumnya. Saat
> mengemudikan Tesla di genangan yang sama.
>
> Saat itulah saya kaget. Begitu memasuki genangan, suspensinya naik
> sendiri. Otomatis. Saat genangannya lebih dalam suspensinya naik sekali
> lagi.
>
> Saya pun melihat layar lebar di Tesla itu. Ternyata ada empat tingkatan
> suspensi: low, standard, high, dan very high.
>
> Wiebe pun tidak lagi ragu-ragu. Dia masukkan Tesla ke genangan. Dengan
> kecepatan relatif tinggi. Lalu berhenti di dekat portal. Portalnya tutup.
>
> Satpam di kampung saya itu mendekat. Dengan wajah merengut. Saya buka
> kaca: kenapa portal ditutup?
>
> “Maaf pak, agar tidak ada mobil berjalan cepat. Gelombang airnya masuk
> rumah,” katanya sambil membuka portal.
>
> Ganti saya yang minta maaf pada pak satpam. “Ini teman saya Belanda. Dia
> tidak paham soal dampak gelombang air di jalan raya,” kata saya. Lalu
> menerjemahkan permintaan maaf saya itu ke Wiebe.
>
> Tentu Wiebe juga tidak pernah mendapat ilmu tentang dampak gelombang air
> di jalan raya saat dia kuliah ilmu event organizer di Belanda.. (dis/baca
> sambungannya besok, bagaimana Wiebe jalan-jalan tanpa uang).
>
> Catatan Admin:
>
> Tulisan ini dibuat di mobil dalam perjalanan sepanjang 200 km dari Kota
> Weifang ke Kota Qingdao di Provinsi Shandong, China.
>
> *(bj/ch/bet/JPR)*
>
> 
>

Kirim email ke