----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Marco 45665 [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>Cc: 
Chalik Hamid <[email protected]>; Sunny ambon 
<[email protected]>; Jakarta Globe <[email protected]>; K. 
Prawira <[email protected]>; kh djie <[email protected]>; Billy Gunadi 
<[email protected]>; RKB <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>; Hubert Tanzil 
<[email protected]>; Dharma Hutauruk <[email protected]>; 
Faturrachman Djamaluddin <[email protected]>; Awind 
<[email protected]>; '[email protected]' [email protected] 
[temu_eropa] <[email protected]>; Gelora 45 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; DISKUSI 
FORUM HLD <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 16 Maret 2018 16.22.02 GMT+1Judul: 
Re: #sastra-pembebasan# Re: [nasional-list] Fw: [GELORA45] Merahnya Jokowi dan 
Politik 2019
     

SUATU ANALYSA  tentang Warna MERAH YANG PERLU DISEMPURNKAN dan tidak hanya 
dalam pengertian dan CONTEXT POLITIK atau IDEOLOGI SEMATA  / karena justru bisa 
menimbulkan Apriori yang lebih mendalam di kalangan Mayoritas Masyarakat yang 
justru sangat Sawan terhadap segalanya Warna Merah ..... Termasuk DARAHNYA 
SENDIR dan Benedranya  yang MERAH-PUTIH ..../
** Saya Kutip Tulisan Penulis dibawah ini (​Penulis adalah Direktur Eksekutif 
Sabang Merauke Circle (SMC).​Merah adalah adalah simbol sosialisme. Warna ini 
menjadi dasar bagi atribut yang dikaitkan dengan partai partai ataupun gerakan 
sosialis. Gerakan sosialis ini bervariasi dari yang ekstrim kiri, yaitu 
komunis, sampai ke sosialis tengah , sosialis demokrat. dsb /...
WARNA MERAH sebagai WARNA
WARNA MERAH TIDAK dan BUKAN​ ​ simbol Politis atau Ideologi semata.​-  De Facto 
- memang banyak digunakan  dan atau diseragamkan sebagai Symbol Partai ​Politik 
atau Gerakan Massa dan atau Symbol Ideologis
​   ​yang berfungsi sebagai IKON atau IMAGE POLITIK dan atau IMAGE KEPARTAIAN, 
kendatipun diantara masing2 Ideologi dan Politik    Kepartaian itu sendiri 
TIDAK HARUS ABSOLUT SAMA satu sama Lainnya , baik dari segi Dasar dan Tujuan 
Politiknya maupun dari Dasar2 ​   ​Pemikiran Ideologinya​ ​masing2 ​ ( lain 
Ideologi Komunis,​lain pula Socialis, dan sudah lebih lain pula Social Demokrat 
dan sudah semakin jauh    pula Yang dikatakan dengan " ALIRAN KIRI - atau SAYAP 
KIRIyang begitu banyak, Ragam dan Coraknya , dasar dan Tujuannya , Organisasi   
Strukturnya serta Bentuk Gerakan atau Tujuan Perjuangannya.....dll,dll.​-  De 
FACTO ( Dalam Kenyataannya) pun Warna MERAH banyak dipakai sebagai Seragam atau 
symbol Warna Merah yang dominant dan atau    untuk Tujuan lain . Contoh : 
Produk  Sport Mobil​ ​Ferrari dari Perusahaan Mobil Italy milik ENZO FERRARI 
​Wrana Dominannya juga WARNA    MERAH .... ( LAH...nanti salah2 itu Milyar dan 
Kapitalis Italz Enyo Ferrari adalah keturunan PKI .... hahhaaaha) ​, Lalu 
bagimana jika Tommy     Soeharto punza Mobil Merah dan pak Jendral Kivlan Zein 
naik mobiů dng Bendera Merah dan Bintang2 Kuning -- Kok engga pada bilang     
itu Jendral Komunis RRT karena Bendaeran​y​a serupa Bendera RRT.... ​seprti yg 
Habib Rieziq pernah  Bilang itu​ Benda seperti Palu Arit PKI)​...​    Kemudian 
pula Symbol mobil HONDA juga berwana MERAH dng Huruf H ditengahnya .....Mungkin 
Tauan HIndapun PKI /KOMUNIS  kan...?-   Atau Bendera Merah yang sering (la 
Muleta roja )dipakai MATADOR  dalam Arena Pertarungannya  dengan Banteng( 
CORRIDA DEL TOROS)    juga selelu berwarna MERAH ....... Apa Nanti sang Matdor 
atau Bantengnya juga dianggap Komunis.....?-   dan yang terakhir ADALAH PDI P 
... yang mempunyai dna menggeankan seragam MERAH ...tak Urung Pula di Cap 
PKI.....
POLITICAL HOAX / KAMPANYE HITAM  dI Indonesia INI SUNGGUH SANGAT STUPID dan 
URAKAN Seperti PARA PEMBUATNYA SENDIRI.....​Contoh Sederhana lainnya.=   Untuk 
memudahkan dan sangat menyederhanakan ​Pemahaman dan Pnegerian tentang Istilah 
"" YANG KIRI "" secara AWAM bagi MAYORITAS AWAM  ialah bahwa .    JIka anda 
berdiri disebelah KANAN saya ....maka saya berdiri disebelah KIRI ....  dan 
dari segi pandang Anda secara sederhana dan diambil gampangnya.. Tiba2 buat 
Anda , saya ini    jadi TETANGGA  KIRI   Anda..... ( Lalu bagaimana jika 
sebaliknya ...? Anda yang berdiri disebelah KIRI saya....  Lha Anda tiba2 jadi 
Bingung dan Resah  ...dan Anda pikir Andalah yang     KIRI .... waduh  ..Anda 
ini tiba2 ada di Posisi KIRI ... Bisa dianggap Kafir  dan Komunis  nanti 
GUE..ini..?=  Naaah ...Jadi soal iastilah KIRI atau KANAN  sabenarnya itu 
adalah soal POSISI atau SOAL tempat DIMANA ANDA BERDIRI  ( Jadi TIDAK ADA 
HUBUNGANNYA dengan KAFIR  atau    NON MUSLIM dan atau PKI ATAU TIDAKNYA .....   
( Sebagai Umat Moslem ... Anda pun bisa saja dianggap KIRI ( yang menurut 
bayangan Anda , KIRI = PKI ). CUKUP  jika ANDA adalah    seorang  RADIKAL dan 
sekaligus  FANATIK MUSLIM  dan atau EXTREM  MOSLEM ( Artinya sebagai Orang 
Kanan Extrim...maka Anda sebanArnya Sudah menEmpatkan diri Anda     sebagai 
ORANG KIRI  , karena Anda  berada diposisi yang Paling Kanan atau Extrem Kanan 
yang akhirnYa berpaduan dngan EXTREM KIRI ( atau yz Anda pahami sbg PKI ) ..    
dan pada akhirnya Andapun sebagai FANATIK DAN RADIKAL MOSLEM bisa dianggap sama 
KIRI - NYA sebagai PKI  pula ...... KAN BAKALAN REPOT ANDA ,  yang justru 
karena     KE-EXTREMAN ANDA dalam banyak hal Kehidupan serta karena Lemahya 
PENGEATAHUAN ANDA  dari banyak segi nanti salah2 ANDA dicap  KIRI =  PKI dan 
KAFIR pula ..,     Kendatipun Anda rajin sembahyang..... dan SANGAT RAJIN 
MENCIPTAKAN HOAX ......
= JADI JANGAN SEMBARANG MENUDUH ORANG LAIN SEENAKNYA sebagai PKI , atua 
Keturunan PKI dan atau Keturunan Soeharto  dan ataupun menuduh Orang seeankanya 
sebagai KAFIR . Mungkin Jika ALLAH bisa langsung bicara dan berkata pada Anda 
sebagai si Penuduh terhadap orang lain - Khususnya terhadap  Pak JOKOWI  Anda 
tuduh tanpa dasar  sebgai PKI dll yang tak alin Hanya Ingin ciptaan ILLAHI.


2018-03-16 14:35 GMT+01:00 Marco 45665 [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]>:

     

Setiap Tuduhan seperti itu TIDAK PERNAH MEMPUNYAI LANDASAN HUKUM  DAN TIDAK 
JUGA LANDASAN POLITIK  dan ataupun LANDASAN ARGUMENTASI  yang bisa dibenarkan 
dan dipercaya . Dan dengan sendirinya  Tidak mempunyai ALASAN , DASAR DAN 
KEKUATAN HUKUM ..
>  Tuduhan seperti dan sejenis itu sif​a​tnya Membabi Buta - lahir dari 
>KEKALAPAN  dan atau dari Ketidaksanggupan dan Tidak
Kehilangan arah dan Kepercayaan diri tentang adanya Kemungkinan lain yang bisa 
dipakai sebagai ARGUMENT yang Logis dan Membumi untuk bisa menunjukkan 
KWALITASNYA SENDIRI dalam menghadapi Lawan Politiknya .....KELEMAHAN Mereka 
akan memuncak dan meledak pada puncaknya yang  tidak lain kita kenal sebagai 
KAMPANYE HITAM      ( dengan segala Cara dan segala kemungkinan YANG TERBURUK 
menyudutkan PIHAK LAIN  agar  bertekuk lutut dan atau agar         tersingkir 
dari Kedudukannya atau dari Persaingan yang sulit untuk dihadapinya dan 
dimenangkannya......
>  Jika Kampanye Hitam sejenis ini  (selalu)  dilakukan oleh Perorangan  atau 
>kelompok  dengan segala RASA KEBENCIAN dan atau KECURIGAAN yang TAK HABIS2NYA  
>terhadap Pihak lain ....maka yang bersangkutan biasanya adalah Manusia2 Yang 
>menderita : INFERIORITY COMPLEX SYNDROM 
>  Dan Kampanye Hitam sejenis ini  (selalu)  dilakukan oleh sementara Partai 
>Politik , Aparatur  dan atau Ormas Politik dsb...Maka KAMPANYE HITAM sejenis 
>itu kita anggap sebagai INTRIK DAN PROVOKASI POLITIK , Yang bahkan bisa 
>menjurus kesuatu PERBUATAN MAKAR dan berkonotasi SUBVERSIF ........  ( ..dan 
>atau paling sedikit sebagai MASS INFERIORITY COMPLEX SYNDROM  dari sementara 
>Golongan ...)

Dan yang terakhir tetapi tidak kurang pentingnya ialah bahwa:** Lemahnya Sikap 
seseorang hanya akan menunjukkan Lemahnya Kharakter yang bersangkutan    - 
Sedangkan Lemahnya Argumentasi yang diberikan- hanya akan menunjukkan Lemahnya 
Alasan dan Dasar dari Argumentasi itu     sendiri......dan dengan demikian 
Tidak jauh dari Lemahnya Pengetahuan yang bersangkutan atas sesuatu Hal......


|  | Virus-free. www.avast.com  |


2018-03-16 6:35 GMT+01:00 Chalik Hamid [email protected] [nasional-list] 
<[email protected] >:

     

 Kasihan Jokowi. Oleh penjegal-penjegal Jokowi, dia dituduh pendukung neo 
liberal. Oleh lawan politik Jokowi, dia dituduh anak komunis. Bravo Jokowi. 
Jalan terus, singkirkan penjegal-penjegalmu, yang mengatakanmu neo liberal. 
Hantam terus lawan politikmu, yang menuduh engkau anak kumunis. Maju terus, 
yang penting pelan-pelan rakyat terhindar dari kemiskinan dan Indonesia menjadi 
negara makmur.
    ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 16 Maret 2018 03.52.29 GMT+1Judul: 
[GELORA45] Merahnya Jokowi dan Politik 2019
     





Merahnya Jokowi dan Politik 2019



 KAMIS, 08 MARET 2018 , 20:23:00 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN




SEBUAH stasiun TV nasional kemarin lalu menayangkan pidato Jokowi yang mengecam 
hoax, sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dalam perpolitikan kita. 
Antara lain, Jokowi menunjuk hoax yang mengatakan dia anak PKI, padahal dia 
baru lahir tahun 1961, di mana ketika G30S/PKI meletus, umur Jokowi baru 4 
tahun.





Ini adalah kali pertama Jokowi secara tegas membantah isu-isu keterkaitannya 
dengan Partai Komunis Indonesia, sejak masa Pilpres lalu. Beberapa media massa 
maupun online menurunkan berita berjudul "Masa Ada Balita Komunis".

Bantahan isu Jokowi komunis terjadi setelah Jokowi berkuasa lebih dari 3 tahun. 
Tepat setelah partai berlambang merah, PDIP, mencalonkan kembali Jokowi sebagai 
Capres 2019. Bagi seorang politisi, timing adalah faktor penting. Bukankah 
tahun 2018 ini sudah tahun politik?

Apa keuntungan dan kerugian politik Jokowi dengan bantahan isu PKI kemarin ini? 

Merah dan Massa


​​Merah adalah simbol sosialisme. Warna ini menjadi dasar bagi atribut yang 
dikaitkan dengan partai partai ataupun gerakan sosialis. Gerakan sosialis ini 
bervariasi dari yang ekstrim kiri, yaitu komunis, sampai ke sosialis tengah, 
sosialis demokrat.

Simbol merah ini semakin pekat jika sosialisme yang dibawa semakin ekstrim ke 
kiri.

Semakin kiri, sosialisme ini menawarkan gagasan kehidupan sosial tanpa kelas, 
di mana manusia tidak boleh memiliki asset (tanah), sehingga, perbedaaan kaya 
miskin hilang.

Dalam bentuk yang tidak terlalu ekstrim, seperti negara-negara Skandinavia, 
negara sosialis welfare state, hak memiliki properti tidak dilarang, namun cita 
cita kesamarataan digerakkan melalui tax progresif dan subsidi welfare.

Tawaran sosialisme ini bagi masyarakat miskin dan negara yang penuh 
ketimpangan, mendapatkan respon yang tinggi. Di Indonesia, misalnya dulu, 
jumlah massa pendukung politik sosialisme hampir setengah jumlah penduduk kita. 
Atau seperempatnya untuk yang sosialisme ektrim atau komunisme.

Massa pendukung kaum kiri (sosialisme), khususnya komunis, ketika dibubarkan 
tahun 1965 (Gestapu 30 S/PKI) sedikitnya mencapai 26 juta jiwa, dengan massa 
aktif sebanyak 3 juta. Ini yang dipercaya oleh YPKP 65/66 (Yayasan Penyelidikan 
Korban Pembunuhan).

YPKP meyakini bahwa 3 juta massa aktif ini sudah dibunuh pada masa 1965/1966. 
Angka ini lebih besar dari yang dilansir Newyork Times pada tahun 1966,  
Washington Post, dan Komnas HAM, yakni sekitar 500 ribu orang...

Massa inti komunis tersebut tentu sebagian besar sudah meninggal,  namun 
sebagiannya masih hidup dan punya keturunan. Jika mereka mempunyai anak, dan 
cucu, maka jumlah mereka tentu saat ini sudah mencapai jutaan, atau belasan 
juta dan bahkan puluhan juta yang bersifat tidak ideologis. Dan mereka adalah 
para pemilih (voters) dalam demokrasi kita saat ini.

Apakah jumlah massa yang besar ini hanya sekedar massa? ataukah mempunyai 
agenda politik?

Pertama, tentu saja dari sisi ideologis kita tidak pernah menyaksikan lagi 
adanya gerakan berkarakteristik sosialis saat ini.

32 tahun Orde Baru telah meluluh lantakkan politik ideologis menjadi pragmatis 
semata. Soekarnoisme, sebuah varian sosialisme, misalnya, menurut Rachmawati 
Soekarnoputri, kemarin ketika dikunjungi Dr. Rizal Ramli,  hanyalah alat jualan 
kelompok-kelompok tertentu yang menjual nama Bung Karno untuk kepentingan non 
ideologis.

Pragmatisme politik secara nyata diperlihatkan oleh hilangnya cita cita 
keadilan sosial, baik pada masa orde baru, hingga saat ini. Cita-cita 
sosialisme hanya jargon untuk meraih suara rakyat miskin pada konstestasi 
pilkada, pileg dan pilpres.

Kedua, secara politik, massa kaum kiri yang menjadi korban orde baru, tentu 
menuntut pemulihan nama baik mereka. Menurut mereka, versi sejarah yang ada 
saat ini, di mana mereka dianggap sebagai pemberontak tidaklah benar.

Sejak reformasi bergulir, kelompok eks komunis meminta pemerintah meminta maaf 
terhadap mereka. Menurut klaim mereka, Gus Dur sudah pernah meminta maaf. 
Namun, Gus Dur dalam kapasitas ketua umum NU maupun sebagai Presiden RI, sudah 
pernah meminta maaf, masih diperdebatkan. SBY juga awalnya ditenggarai akan 
minta maaf, namun tidak terjadi. Terakhir, dalam masa Jokowi, kaum ini meyakini 
bahwa pemerintah akan meminta maaf atas pelanggaran HAM terhadap mereka dan 
akan dilakukan pengadilan HAM. Hal ini diperkuat dengan dicantumkannya soal 
penyelesaian masalah ini pada Nawacita, janji Jokowi.

Namun, setelah Jokowi berkuasa selama 3 tahun lebih, permintaan maaf pemerintah 
atas pembunuhan massal terhadap orang orang komunis di seluruh penjuru 
Indonesia tidak terjadi. Euforia di awal pemerintahan Jokowi, di mana terkesan 
kebebasan politik dan aktualisasi diri keturunan eks PKI merebak, akhirnya 
redup kembali. Bahkan, pengadilan HAM atas kasus itu tidak juga terjadi. 
Sehingga akhirnya perkara itu dibawa ke pengadilan internasional di Belanda 
tahun lalu.

Dalam dimensi politik ini, tuntutan politik bisa jadi lebih penting dari urusan 
ideologis. Sebuah tuntutan akan kebenaran historis, bagi puluhan juta manusia 
(sebagiannya bertumpu dendam), menjadi agenda prinsip. Dan sejauh ini, massa 
keturunan komunis tidak mendapatkan sosok yang mampu menjembatani kepentingan 
politik mereka. Sekali lagi perlu digaris bawahi, Jokowi gagal membela mereka.

Jokowi dan Merah

Langkah dan manuver Jokowi selama ini -di satu sisi membuahkan dukungan politik 
PDIP kembali mencalonkan dia sebagai capres, dan statement Jokowi membantah dia 
anak atau keturunan PKI, mempunyai resultante politik yang ambiguous 
(membingungkan). Dukungan PDIP terhadap Jokowi tentu merisaukan semisal Golkar, 
yang sejak awal tidak menjadikan partainya sebagai "pelampung atau "ban serap", 
kalau-kalau Jokowi tidak didukung lagi oleh PDIP. Sebagai partai besar, Golkar 
tentunya ingin mencalonkan Jokowi sebagai partai pendukung utama. 

Kembalinya Jokowi dalam dukungan PDIP semakin mengukuhkan Jokowi sebagai kader 
"berwarna merah" (Pdip). Dalam sistem pilpres dan pileg serentak, hal itu akan 
menguntungkan PDIP. Sebab, antara Jokowi dan PDIP sama dan sebangun.. Sepanjang 
masa politiknya, Jokowi lebih intensif menggunakan simbol merah (pdip). Massa 
pemilih Jokowi pasti memilih PDIP, bukan Golkar.

Kerugian yang akan dipikul Golkar ke depan, sejak pencalonan kembali Jokowi 
oleh PDIP, mulai berbuah riak riak kecil di Golkar. Beberapa tokoh tokoh Golkar 
sudah mulai mewacanakan adanya pasangan pilpres calon ketiga (di luar yang 
santer disebut: Jokowi vs Prabowo)

Sementara, di sisi lain, bantahan Jokowi soal keturunan PKI, meski dapat 
membuahkan dukungan kelompok Islam dan nasionalis tengah, di satu hal, namun 
dalam hal lainnya, dapat menghilangkan dukungan politik anak anak keturunan 
komunis yang tadinya berharap padanya tentang pemulihan kehormatan mereka.

Apabila jumlah dukungan hilang dari kelompok merah eks turunan komunis ini 
lebih besar dari dukungan Islam dan kelompok nasionalis tengah tersebut, maka 
Jokowi akan beresiko besar kehilangan konstituen.

Kesimpulan

Jelas dapat disimpulkan, merahnya Jokowi adalah merahnya  PDIP.  Merah karena 
di partai yang berlambang merah. Jokowi hanya sebagai kader PDIP dan dipertegas 
dalam pencalonan kembali dia sebagai capres PDIP 2019.

Merah Jokowi ini, meski partainya berwarna merah, bukanlah sebuah merah 
ideologis. Sebab, merah ideologis adalah merah ala sosialisme. Dalam ajaran 
sosialisme, nasionalis me dan keadilan sosial menjadi kunci. Kedaulatan 
ekonomi, misalnya, harus tercermin dari politik ekonomi yang anti neoliberal, 
dan tidak mungkin punya menteri keuangan neoliberal. 

Dalam sosialisme, perlawanan terhadap oligarki dan korporatism (kekuasaan 
perusahaan atas negara) harus diutamakan. Hal ini, faktanya, masih jauh dan 
hanya sekedar cita cita.

Tanpa ideologi, warna merah Jokowi hanyalah merah sekedar warna, tanpa makna. 
Dan ini akan mempengaruhi dukungan kelompok militan ke depan. Khususnya, anak 
anak cucu keturunan PKI, yang mengharapkan pemulihan kehormatan dari sang 
presiden.[***]

​​Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle (SMC).








  

   



   

    

Kirim email ke