*Tidak mengherankan, karena sistem feodal mojopahit memberikan hak kekuasaan dimiliki turun temurun.*
2018-03-20 8:05 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [nasional-list] < [email protected]>: > > > Dua anak Soeharto di panggung politik, indikasi kebangkitan dinasti > Soeharto? > Ayomi AmindoniBBC Indonesia > > - 9 jam lalu > > [image: Tommy Soeharto]Hak atas fotoAFPImage captionTommy Soeharto dan > Titiek Soeharto merupakan kader Golkar, keduanya bahkan sempat mencalonkan > diri menjadi ketua umum partai berlambang beringin itu. > > *Diusulkannya Titiek Soeharto -putri mantan presiden Soeharto-menjadi > wakil ketua MPR oleh Partai Golkar dinilai semakin mempertegas indikasi > kebangkitan dinasti Soeharto dan menunjukkan 'kelupaan' sebagian kalangan > terhadap rezim Orde Baru* > > Sebelumnya, Tommy Soeharto juga kembali terjun di dunia politik dengan > menggawangi Partai Berkarya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan sosok > sang ayah, ingin ia hidupkan lagi lewat partai baru tersebut. > > Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Aditya > Permana, memandang kemunculan Tommy dan Titiek dalam kancah politik > Indonesia mempertegas kebangkitan dinasti Soeharto dan ketidakpahaman > massal, terutama dari generasi muda, tentang Orde Baru. > > "Hal yang paling menarik untuk dilihat adalah apakah generasi-generasi > anak muda sekarang atau milenial hari ini itu ngerti dan paham tentang apa > yang terjadi pada masa Orde Baru?" ujar Adit kepada BBC Indonesia. > > - *Seberapa kuat partai 'bernuansa Orde Baru' bertarung di Pemilu > 2019?* <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43116035> > - *Seberapa jauh langkah partai politik baru di Pemilu 2019?* > <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41676375> > - *10 tahun meninggalnya Soeharto, makamnya dipenuhi pengunjung* > <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42843948> > > "Saya yakin tidak. Karena kan yang menjadi pemilih itu adalah mereka. > Mereka mayoritas di dalam pemilu 2019 nanti," imbuhnya. > > Hal ini pula diamini oleh Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi > Ambardi. Menurutnya, dinasti Soeharto memiliki kans untuk bangkit, apalagi > jika menyasar generasi muda yang 'terpesona dengan masa silam'. > > "Dan itu kelihatannya 'kekosongan' itu bisa diisi dengan kampanye bahwa > zaman lalu lebih enak dari zaman sekarang dan itu saya kira bisa kita baca > bahwa mereka melakukan *framing* terhadap sejumlah isu, dan itu fokusnya > pada kesejahteraaan," ujar Dodi. > Kekuatan dukungan > > Rapat pleno Partai Golkar pada Minggu (18/03) menyetujui Siti Hediati > Hariyadi atauTitiek Soeharto menjadi wakil ketua MPR menggantikan Mahyudin. > > "Rapat pleno tadi salah satunya menyetujui pergantian wakil ketua MPR RI > kepada Titiek Soeharto," ujar Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily > seperti dilansir dari Kompas.com. > > Sebelumnya, usulan ini dilontarkan oleh Ketua Umum Golkar Airlangga > Hartato saat berpidato di pelantikan pengurus pimpinan organisasi sayap > Golkar, Kesatuan Perempuan Indonesia (KPPG), beberapa saat sebelumnya. > > "Dalam periode ini saya mengusulkan kader perempuan dari Partai Golkar di > MPR, kita dorong Mba Titiek untuk mengisi pimpinan MPR," ujarnya. > [image: Titiek Soeharto]Hak atas fotoKOMPAS.COM / DANI PRABOWOImage > captionTitiek Soeharto, putri Soeharto yang sebelumnya berada di belakang > layar politik, kini muncul di kancah politik sebagai wakil ketua MPR > > Wakil ketua MPR dari Fraksi Golkar saat ini masih dijabat oleh Mahyudin. > > Meski posisi pimpinan MPR hanya sebagai simbol dan bukan merupakan posisi > sentral dalam peta politik Indonesia, kemunculan nama Titiek sebagai wakil > ketua MPR mengindikasikan besarnya pengaruh. > > "Titiek-nya sendiri punya kekuatan finansial ataupun kekuatan dukungan > yang diharapkan pimpinan Golkar saat ini. Jadi lebih ke arah taktis buat > pergerakan Golkar untuk bisa mendapatkan voters atau suara yang lebih > banyak," ujar Adit. > > Seminggu sebelumnya, Tommy Soeharto, yang lebih terkenal sebagai pebisnis > dan sempat menjadi kader Golkar di masa lampau dinobatkan sebagai ketua > umum Partai Berkarya yang baru saja dibentuknya. Romantisme Orde Baru yang > lekat dengan sosok sang ayah, disebutkan ingin hidupkan lagi lewat Partai > Berkarya. > [image: Tommy]Hak atas fotoAFPImage captionTommy Suharto menjabat sebagai > ketua umum Partai Berkarya sejak Senin (12/03) > > "Sekarang Pak Tommy akan meneruskan kinerja ayahanda yang belum > terselesaikan dalam trilogi pembangunannya, repelitanya, masalah ekonomi > kerakyatannya," ujar fungsionaris Partai Berkarya Neneng Tetty. > > Diakui Neneng, partainya menjual sosok Soeharto untuk meraup suara. Partai > ini berharap bisa menarik pemilih yang merindukan zaman keemasan Soeharto > dengan stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Sebagai putra bungsu, > figur Tommy Soeharto diyakini bisa menarik massa pemilih, termasuk generasi > muda. > > "Pengurus di daerah juga banyak yang anak-anak muda, kisaran 27 - 30 > tahun, sampai usia 70 tahun yang masih termasuk eranya Soeharto," paparnya. > 'Terpesona masa lalu' > > Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi memandang Partai > Berkarya memiliki kans untuk menebus suara dalam pemilu meskipun porsinya > tidak banyak. > > "Mereka itu lolos *threshold* saja belum tentu. Jadi partai-partai baru, > [seperti] Partai Berkarya, Partai Garuda dan termasuk PSI itu, publik yang > tahu saja tidak banyak. Mereka itu perolehannya dibawah 1% untuk survei > yang akhir-akhir ini," ujar Dodi. > > "Jadi masih pekerjaan besar bagi mereka untuk mengenalkan ke publik," kata > dia. > > Selain Partai Berkarya, tiga partai baru yang akan berpartisipasi pada > Pemilu 2019 adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai > Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) > > Merujuk data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih pada pemilu > 2019 berusia 17-38 tahun. > > - *Petinggi Polri dan TNI maju di Pilkada 2018, Indonesia kembali ke > Orde Baru?* <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42443613> > - *Mengapa Muslimat NU merangkul Tommy Soeharto ?* > <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39402493> > > Lalu, bagaimana tanggapan generasi muda soal Soeharto dan kebangkitan > dinastinya? > > Asraf, pelajar yang lahir pada awal 2000-an mengaku mengenal Orde Baru > dari buku sejarah. Soeharto yang ia kenal adalah bahwa mantan presiden > tersebut pekerja keras dan merakyat. > > Anis, perempuan berusia 28 tahun mengaku pada era Orde Baru dirinya masih > duduk di sekolah dasar. Namun, hal yang ia paling ingat adalah kerusuhan > yang terjadi pada saat Soeharto diturunkan pada Mei 1998. > > "Karena aku melihat sendiri, lagi jalan sama mama tiba-tiba ada orang > rusuh yang pada melempar batu. Kayak yang trauma saja. Tapi kalau buat > pemerintahannya kan aku memang masih kecil banget jadi belum paham," ujar > Anis ketika ditemui BBC Indonesia. > > Sama halnya dengan Herlambang yang berusia 30 tahun. Ketika Soeharto masih > berkuasa, dirinya pula masih duduk di sekolah dasar. Namun, yang paling ia > ingat pada masa Orde Baru adalah pencapaian swasembada beras. > [image: Young Voters]Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage > captionMerujuk > data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih pada Pemilu 2019 > berusia 17-38 tahun. > > Namun menurutnya, masa sekarang lebih baik ketimbang masa Orde Baru. > > "Beda sama Orde Baru kita kan nggak bebas, nggak demokrasi. Kita nggak > bisa ngomong apa kan. Kalau sekarang zaman reformasi kita bisa bebas > ngomong," ujar Herlambang. > > Ditanya soal kebangkitan dinasti Soeharto, Danar, seorang konsultan IT > memandang bahwa masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilih sosok pemimpin. > > "Karena kita sudah bukan seperti zaman dulu lagi yang bisa dibohongi > dengan program-program yang tidak berjalan Tapi kita melihatnya dari sudut > pandang kita seperti apa karakter dan historikal [dari sosok itu]." > > *Perubahan signifikan* > > Pengamat politik dari Puskapol UI, Aditya Permana memandang suatu masalah > besar jika generasi muda tidak memahami apa yang terjadi pada masa Orde > Baru. > > "Menariknya adalah bagaimana [membuat] publik paham dan tahu ada yang > berubah antara Orde Baru dan sesudah Orde Baru. Itu yang semestinya > digulirkan untuk mengatakan ada banyak perubahan yang signifikan antara > Orde Baru dan setelah Orde Baru," papar Adit. > > "Yang paling kelihatan ya soal partisipasi politik hari ini yang lebih > terbuka dan lebih bebas ketimbang Zaman Orde Baru yang dikekang, dan > kemudian menjadi sebuah ketakutan di masyarakat karena ada ancaman atau ada > hal yang membuat mereka tidak bisa bebas seperti masa sekarang," imbuhnya.. > > Selain itu, menurut Adit, ruang terhadap perbedaan menjadi pembeda yang > signifikan antara Orde Baru dan masa reformasi. > [image: Mbak Tutut]Hak atas fotoAFPImage captionPutri sulung Suharto, > Siti Hardijanti alias Mbak Tutut, sempat aktif berpolitik pada pemilu 2004. > Namun sejak saat itu, partainya tak lolos lagi untuk menjadi peserta pemilu. > > Setelah era reformasi, partai bernuansa keluarga Soeharto yang pernah > berpartisipasi pada pemilu adalah Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), yaitu > pada 2004 dan 2009. > > PKBP meraih dua kursi pada 2004, namun gagal menempatkan perwakilan di DPR > pada 2009. Tahun 2004, PKBP secara terang-terangan berniat mengusung putri > sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menjadi presiden. > > Namun rencana itu gagal karena PKBP tak mencapai batas ambang pencalonan > presiden. > > Dua partai lain yang pernah didirikan anggota keluarga Cendana adalah > Partai Karya Republik dan Partai Nasional Republik. Dua partai itu tidak > pernah mengikuti pemilu. > > >
