Dua anak Soeharto di panggung politik, indikasi kebangkitan dinasti Soeharto?
Ayomi AmindoniBBC Indonesia
  a.. 9 jam lalu
Hak atas fotoAFPImage captionTommy Soeharto dan Titiek Soeharto merupakan kader 
Golkar, keduanya bahkan sempat mencalonkan diri menjadi ketua umum partai 
berlambang beringin itu.
 
Diusulkannya Titiek Soeharto -putri mantan presiden Soeharto-menjadi wakil 
ketua MPR oleh Partai Golkar dinilai semakin mempertegas indikasi kebangkitan 
dinasti Soeharto dan menunjukkan 'kelupaan' sebagian kalangan terhadap rezim 
Orde Baru

Sebelumnya, Tommy Soeharto juga kembali terjun di dunia politik dengan 
menggawangi Partai Berkarya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan sosok sang 
ayah, ingin ia hidupkan lagi lewat partai baru tersebut.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Aditya Permana, 
memandang kemunculan Tommy dan Titiek dalam kancah politik Indonesia 
mempertegas kebangkitan dinasti Soeharto dan ketidakpahaman massal, terutama 
dari generasi muda, tentang Orde Baru.

"Hal yang paling menarik untuk dilihat adalah apakah generasi-generasi anak 
muda sekarang atau milenial hari ini itu ngerti dan paham tentang apa yang 
terjadi pada masa Orde Baru?" ujar Adit kepada BBC Indonesia.

  a.. Seberapa kuat partai 'bernuansa Orde Baru' bertarung di Pemilu 2019? 
  b.. Seberapa jauh langkah partai politik baru di Pemilu 2019? 
  c.. 10 tahun meninggalnya Soeharto, makamnya dipenuhi pengunjung
"Saya yakin tidak. Karena kan yang menjadi pemilih itu adalah mereka. Mereka 
mayoritas di dalam pemilu 2019 nanti," imbuhnya.

Hal ini pula diamini oleh Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi. 
Menurutnya, dinasti Soeharto memiliki kans untuk bangkit, apalagi jika menyasar 
generasi muda yang 'terpesona dengan masa silam'.

"Dan itu kelihatannya 'kekosongan' itu bisa diisi dengan kampanye bahwa zaman 
lalu lebih enak dari zaman sekarang dan itu saya kira bisa kita baca bahwa 
mereka melakukan framing terhadap sejumlah isu, dan itu fokusnya pada 
kesejahteraaan," ujar Dodi.

Kekuatan dukungan
Rapat pleno Partai Golkar pada Minggu (18/03) menyetujui Siti Hediati Hariyadi 
atauTitiek Soeharto menjadi wakil ketua MPR menggantikan Mahyudin.

"Rapat pleno tadi salah satunya menyetujui pergantian wakil ketua MPR RI kepada 
Titiek Soeharto," ujar Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily seperti 
dilansir dari Kompas.com.

Sebelumnya, usulan ini dilontarkan oleh Ketua Umum Golkar Airlangga Hartato 
saat berpidato di pelantikan pengurus pimpinan organisasi sayap Golkar, 
Kesatuan Perempuan Indonesia (KPPG), beberapa saat sebelumnya.

"Dalam periode ini saya mengusulkan kader perempuan dari Partai Golkar di MPR, 
kita dorong Mba Titiek untuk mengisi pimpinan MPR," ujarnya.

Hak atas fotoKOMPAS.COM / DANI PRABOWOImage captionTitiek Soeharto, putri 
Soeharto yang sebelumnya berada di belakang layar politik, kini muncul di 
kancah politik sebagai wakil ketua MPR
 
Wakil ketua MPR dari Fraksi Golkar saat ini masih dijabat oleh Mahyudin.

Meski posisi pimpinan MPR hanya sebagai simbol dan bukan merupakan posisi 
sentral dalam peta politik Indonesia, kemunculan nama Titiek sebagai wakil 
ketua MPR mengindikasikan besarnya pengaruh.

"Titiek-nya sendiri punya kekuatan finansial ataupun kekuatan dukungan yang 
diharapkan pimpinan Golkar saat ini. Jadi lebih ke arah taktis buat pergerakan 
Golkar untuk bisa mendapatkan voters atau suara yang lebih banyak," ujar Adit.

Seminggu sebelumnya, Tommy Soeharto, yang lebih terkenal sebagai pebisnis dan 
sempat menjadi kader Golkar di masa lampau dinobatkan sebagai ketua umum Partai 
Berkarya yang baru saja dibentuknya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan 
sosok sang ayah, disebutkan ingin hidupkan lagi lewat Partai Berkarya.

Hak atas fotoAFPImage captionTommy Suharto menjabat sebagai ketua umum Partai 
Berkarya sejak Senin (12/03)
 
"Sekarang Pak Tommy akan meneruskan kinerja ayahanda yang belum terselesaikan 
dalam trilogi pembangunannya, repelitanya, masalah ekonomi kerakyatannya," ujar 
fungsionaris Partai Berkarya Neneng Tetty.

Diakui Neneng, partainya menjual sosok Soeharto untuk meraup suara. Partai ini 
berharap bisa menarik pemilih yang merindukan zaman keemasan Soeharto dengan 
stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Sebagai putra bungsu, figur Tommy 
Soeharto diyakini bisa menarik massa pemilih, termasuk generasi muda..

"Pengurus di daerah juga banyak yang anak-anak muda, kisaran 27 - 30 tahun, 
sampai usia 70 tahun yang masih termasuk eranya Soeharto," paparnya.

'Terpesona masa lalu'
Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi memandang Partai Berkarya 
memiliki kans untuk menebus suara dalam pemilu meskipun porsinya tidak banyak.

"Mereka itu lolos threshold saja belum tentu. Jadi partai-partai baru, 
[seperti] Partai Berkarya, Partai Garuda dan termasuk PSI itu, publik yang tahu 
saja tidak banyak. Mereka itu perolehannya dibawah 1% untuk survei yang 
akhir-akhir ini," ujar Dodi.

"Jadi masih pekerjaan besar bagi mereka untuk mengenalkan ke publik," kata dia.

Selain Partai Berkarya, tiga partai baru yang akan berpartisipasi pada Pemilu 
2019 adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai Persatuan 
Indonesia (Perindo), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Merujuk data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih pada pemilu 2019 
berusia 17-38 tahun.

  a.. Petinggi Polri dan TNI maju di Pilkada 2018, Indonesia kembali ke Orde 
Baru? 
  b.. Mengapa Muslimat NU merangkul Tommy Soeharto ?
Lalu, bagaimana tanggapan generasi muda soal Soeharto dan kebangkitan 
dinastinya?

Asraf, pelajar yang lahir pada awal 2000-an mengaku mengenal Orde Baru dari 
buku sejarah. Soeharto yang ia kenal adalah bahwa mantan presiden tersebut 
pekerja keras dan merakyat.

Anis, perempuan berusia 28 tahun mengaku pada era Orde Baru dirinya masih duduk 
di sekolah dasar. Namun, hal yang ia paling ingat adalah kerusuhan yang terjadi 
pada saat Soeharto diturunkan pada Mei 1998.

"Karena aku melihat sendiri, lagi jalan sama mama tiba-tiba ada orang rusuh 
yang pada melempar batu. Kayak yang trauma saja. Tapi kalau buat 
pemerintahannya kan aku memang masih kecil banget jadi belum paham," ujar Anis 
ketika ditemui BBC Indonesia.

Sama halnya dengan Herlambang yang berusia 30 tahun. Ketika Soeharto masih 
berkuasa, dirinya pula masih duduk di sekolah dasar. Namun, yang paling ia 
ingat pada masa Orde Baru adalah pencapaian swasembada beras.

Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage captionMerujuk data Saiful Mujani 
Research & Consulting, 55% pemilih pada Pemilu 2019 berusia 17-38 tahun.
 
Namun menurutnya, masa sekarang lebih baik ketimbang masa Orde Baru.

"Beda sama Orde Baru kita kan nggak bebas, nggak demokrasi. Kita nggak bisa 
ngomong apa kan. Kalau sekarang zaman reformasi kita bisa bebas ngomong," ujar 
Herlambang.

Ditanya soal kebangkitan dinasti Soeharto, Danar, seorang konsultan IT 
memandang bahwa masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilih sosok pemimpin.

"Karena kita sudah bukan seperti zaman dulu lagi yang bisa dibohongi dengan 
program-program yang tidak berjalan Tapi kita melihatnya dari sudut pandang 
kita seperti apa karakter dan historikal [dari sosok itu]."

Perubahan signifikan

Pengamat politik dari Puskapol UI, Aditya Permana memandang suatu masalah besar 
jika generasi muda tidak memahami apa yang terjadi pada masa Orde Baru..

"Menariknya adalah bagaimana [membuat] publik paham dan tahu ada yang berubah 
antara Orde Baru dan sesudah Orde Baru. Itu yang semestinya digulirkan untuk 
mengatakan ada banyak perubahan yang signifikan antara Orde Baru dan setelah 
Orde Baru," papar Adit.

"Yang paling kelihatan ya soal partisipasi politik hari ini yang lebih terbuka 
dan lebih bebas ketimbang Zaman Orde Baru yang dikekang, dan kemudian menjadi 
sebuah ketakutan di masyarakat karena ada ancaman atau ada hal yang membuat 
mereka tidak bisa bebas seperti masa sekarang," imbuhnya.

Selain itu, menurut Adit, ruang terhadap perbedaan menjadi pembeda yang 
signifikan antara Orde Baru dan masa reformasi.

Hak atas fotoAFPImage captionPutri sulung Suharto, Siti Hardijanti alias Mbak 
Tutut, sempat aktif berpolitik pada pemilu 2004. Namun sejak saat itu, 
partainya tak lolos lagi untuk menjadi peserta pemilu.
 
Setelah era reformasi, partai bernuansa keluarga Soeharto yang pernah 
berpartisipasi pada pemilu adalah Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), yaitu pada 
2004 dan 2009.

PKBP meraih dua kursi pada 2004, namun gagal menempatkan perwakilan di DPR pada 
2009. Tahun 2004, PKBP secara terang-terangan berniat mengusung putri sulung 
Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menjadi presiden..

Namun rencana itu gagal karena PKBP tak mencapai batas ambang pencalonan 
presiden.

Dua partai lain yang pernah didirikan anggota keluarga Cendana adalah Partai 
Karya Republik dan Partai Nasional Republik. Dua partai itu tidak pernah 
mengikuti pemilu.

Kirim email ke