Wah, apa jadinya kalau Pembunuh Hakim nanti jadi anggota DPR, atau jadi pejabat ? Kalau mau jadi pejabat, kan ada aturannya, tidak pernah dijatuhi hukuman lebih lama dari 3 tahun ? Kalau mau jadi anggota DPR, pimpinan partai politik, bisa2 saja ?
2018-03-21 5:45 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > *Tidak mengherankan, karena sistem feodal mojopahit memberikan hak > kekuasaan dimiliki turun temurun.* > > 2018-03-20 8:05 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [nasional-list] < > [email protected]>: > >> >> >> Dua anak Soeharto di panggung politik, indikasi kebangkitan dinasti >> Soeharto? >> Ayomi AmindoniBBC Indonesia >> >> - 9 jam lalu >> >> [image: Tommy Soeharto]Hak atas fotoAFPImage captionTommy Soeharto dan >> Titiek Soeharto merupakan kader Golkar, keduanya bahkan sempat mencalonkan >> diri menjadi ketua umum partai berlambang beringin itu. >> >> *Diusulkannya Titiek Soeharto -putri mantan presiden Soeharto-menjadi >> wakil ketua MPR oleh Partai Golkar dinilai semakin mempertegas indikasi >> kebangkitan dinasti Soeharto dan menunjukkan 'kelupaan' sebagian kalangan >> terhadap rezim Orde Baru* >> >> Sebelumnya, Tommy Soeharto juga kembali terjun di dunia politik dengan >> menggawangi Partai Berkarya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan sosok >> sang ayah, ingin ia hidupkan lagi lewat partai baru tersebut. >> >> Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Aditya >> Permana, memandang kemunculan Tommy dan Titiek dalam kancah politik >> Indonesia mempertegas kebangkitan dinasti Soeharto dan ketidakpahaman >> massal, terutama dari generasi muda, tentang Orde Baru. >> >> "Hal yang paling menarik untuk dilihat adalah apakah generasi-generasi >> anak muda sekarang atau milenial hari ini itu ngerti dan paham tentang apa >> yang terjadi pada masa Orde Baru?" ujar Adit kepada BBC Indonesia. >> >> - *Seberapa kuat partai 'bernuansa Orde Baru' bertarung di Pemilu >> 2019?* <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43116035> >> - *Seberapa jauh langkah partai politik baru di Pemilu 2019?* >> <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41676375> >> - *10 tahun meninggalnya Soeharto, makamnya dipenuhi pengunjung* >> <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42843948> >> >> "Saya yakin tidak. Karena kan yang menjadi pemilih itu adalah mereka. >> Mereka mayoritas di dalam pemilu 2019 nanti," imbuhnya. >> >> Hal ini pula diamini oleh Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi >> Ambardi. Menurutnya, dinasti Soeharto memiliki kans untuk bangkit, apalagi >> jika menyasar generasi muda yang 'terpesona dengan masa silam'. >> >> "Dan itu kelihatannya 'kekosongan' itu bisa diisi dengan kampanye bahwa >> zaman lalu lebih enak dari zaman sekarang dan itu saya kira bisa kita baca >> bahwa mereka melakukan *framing* terhadap sejumlah isu, dan itu fokusnya >> pada kesejahteraaan," ujar Dodi. >> Kekuatan dukungan >> >> Rapat pleno Partai Golkar pada Minggu (18/03) menyetujui Siti Hediati >> Hariyadi atauTitiek Soeharto menjadi wakil ketua MPR menggantikan Mahyudin. >> >> "Rapat pleno tadi salah satunya menyetujui pergantian wakil ketua MPR RI >> kepada Titiek Soeharto," ujar Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily >> seperti dilansir dari Kompas.com. >> >> Sebelumnya, usulan ini dilontarkan oleh Ketua Umum Golkar Airlangga >> Hartato saat berpidato di pelantikan pengurus pimpinan organisasi sayap >> Golkar, Kesatuan Perempuan Indonesia (KPPG), beberapa saat sebelumnya. >> >> "Dalam periode ini saya mengusulkan kader perempuan dari Partai Golkar di >> MPR, kita dorong Mba Titiek untuk mengisi pimpinan MPR," ujarnya. >> [image: Titiek Soeharto]Hak atas fotoKOMPAS.COM / DANI PRABOWOImage >> captionTitiek Soeharto, putri Soeharto yang sebelumnya berada di >> belakang layar politik, kini muncul di kancah politik sebagai wakil ketua >> MPR >> >> Wakil ketua MPR dari Fraksi Golkar saat ini masih dijabat oleh Mahyudin. >> >> Meski posisi pimpinan MPR hanya sebagai simbol dan bukan merupakan posisi >> sentral dalam peta politik Indonesia, kemunculan nama Titiek sebagai wakil >> ketua MPR mengindikasikan besarnya pengaruh. >> >> "Titiek-nya sendiri punya kekuatan finansial ataupun kekuatan dukungan >> yang diharapkan pimpinan Golkar saat ini. Jadi lebih ke arah taktis buat >> pergerakan Golkar untuk bisa mendapatkan voters atau suara yang lebih >> banyak," ujar Adit. >> >> Seminggu sebelumnya, Tommy Soeharto, yang lebih terkenal sebagai pebisnis >> dan sempat menjadi kader Golkar di masa lampau dinobatkan sebagai ketua >> umum Partai Berkarya yang baru saja dibentuknya. Romantisme Orde Baru yang >> lekat dengan sosok sang ayah, disebutkan ingin hidupkan lagi lewat Partai >> Berkarya. >> [image: Tommy]Hak atas fotoAFPImage captionTommy Suharto menjabat >> sebagai ketua umum Partai Berkarya sejak Senin (12/03) >> >> "Sekarang Pak Tommy akan meneruskan kinerja ayahanda yang belum >> terselesaikan dalam trilogi pembangunannya, repelitanya, masalah ekonomi >> kerakyatannya," ujar fungsionaris Partai Berkarya Neneng Tetty. >> >> Diakui Neneng, partainya menjual sosok Soeharto untuk meraup suara. >> Partai ini berharap bisa menarik pemilih yang merindukan zaman keemasan >> Soeharto dengan stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Sebagai putra >> bungsu, figur Tommy Soeharto diyakini bisa menarik massa pemilih, termasuk >> generasi muda. >> >> "Pengurus di daerah juga banyak yang anak-anak muda, kisaran 27 - 30 >> tahun, sampai usia 70 tahun yang masih termasuk eranya Soeharto," paparnya. >> 'Terpesona masa lalu' >> >> Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi memandang Partai >> Berkarya memiliki kans untuk menebus suara dalam pemilu meskipun porsinya >> tidak banyak. >> >> "Mereka itu lolos *threshold* saja belum tentu. Jadi partai-partai baru, >> [seperti] Partai Berkarya, Partai Garuda dan termasuk PSI itu, publik yang >> tahu saja tidak banyak. Mereka itu perolehannya dibawah 1% untuk survei >> yang akhir-akhir ini," ujar Dodi. >> >> "Jadi masih pekerjaan besar bagi mereka untuk mengenalkan ke publik," >> kata dia. >> >> Selain Partai Berkarya, tiga partai baru yang akan berpartisipasi pada >> Pemilu 2019 adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai >> Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) >> >> Merujuk data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih pada pemilu >> 2019 berusia 17-38 tahun. >> >> - *Petinggi Polri dan TNI maju di Pilkada 2018, Indonesia kembali ke >> Orde Baru?* <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42443613> >> - *Mengapa Muslimat NU merangkul Tommy Soeharto ?* >> <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39402493> >> >> Lalu, bagaimana tanggapan generasi muda soal Soeharto dan kebangkitan >> dinastinya? >> >> Asraf, pelajar yang lahir pada awal 2000-an mengaku mengenal Orde Baru >> dari buku sejarah. Soeharto yang ia kenal adalah bahwa mantan presiden >> tersebut pekerja keras dan merakyat. >> >> Anis, perempuan berusia 28 tahun mengaku pada era Orde Baru dirinya masih >> duduk di sekolah dasar. Namun, hal yang ia paling ingat adalah kerusuhan >> yang terjadi pada saat Soeharto diturunkan pada Mei 1998. >> >> "Karena aku melihat sendiri, lagi jalan sama mama tiba-tiba ada orang >> rusuh yang pada melempar batu. Kayak yang trauma saja. Tapi kalau buat >> pemerintahannya kan aku memang masih kecil banget jadi belum paham," ujar >> Anis ketika ditemui BBC Indonesia. >> >> Sama halnya dengan Herlambang yang berusia 30 tahun. Ketika Soeharto >> masih berkuasa, dirinya pula masih duduk di sekolah dasar. Namun, yang >> paling ia ingat pada masa Orde Baru adalah pencapaian swasembada beras. >> [image: Young Voters]Hak atas fotoADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGESImage >> captionMerujuk data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih >> pada Pemilu 2019 berusia 17-38 tahun. >> >> Namun menurutnya, masa sekarang lebih baik ketimbang masa Orde Baru. >> >> "Beda sama Orde Baru kita kan nggak bebas, nggak demokrasi. Kita nggak >> bisa ngomong apa kan. Kalau sekarang zaman reformasi kita bisa bebas >> ngomong," ujar Herlambang. >> >> Ditanya soal kebangkitan dinasti Soeharto, Danar, seorang konsultan IT >> memandang bahwa masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilih sosok pemimpin. >> >> "Karena kita sudah bukan seperti zaman dulu lagi yang bisa dibohongi >> dengan program-program yang tidak berjalan Tapi kita melihatnya dari sudut >> pandang kita seperti apa karakter dan historikal [dari sosok itu]." >> >> *Perubahan signifikan* >> >> Pengamat politik dari Puskapol UI, Aditya Permana memandang suatu masalah >> besar jika generasi muda tidak memahami apa yang terjadi pada masa Orde >> Baru. >> >> "Menariknya adalah bagaimana [membuat] publik paham dan tahu ada yang >> berubah antara Orde Baru dan sesudah Orde Baru. Itu yang semestinya >> digulirkan untuk mengatakan ada banyak perubahan yang signifikan antara >> Orde Baru dan setelah Orde Baru," papar Adit. >> >> "Yang paling kelihatan ya soal partisipasi politik hari ini yang lebih >> terbuka dan lebih bebas ketimbang Zaman Orde Baru yang dikekang, dan >> kemudian menjadi sebuah ketakutan di masyarakat karena ada ancaman atau ada >> hal yang membuat mereka tidak bisa bebas seperti masa sekarang," imbuhnya. >> >> Selain itu, menurut Adit, ruang terhadap perbedaan menjadi pembeda yang >> signifikan antara Orde Baru dan masa reformasi. >> [image: Mbak Tutut]Hak atas fotoAFPImage captionPutri sulung Suharto, >> Siti Hardijanti alias Mbak Tutut, sempat aktif berpolitik pada pemilu 2004. >> Namun sejak saat itu, partainya tak lolos lagi untuk menjadi peserta pemilu. >> >> Setelah era reformasi, partai bernuansa keluarga Soeharto yang pernah >> berpartisipasi pada pemilu adalah Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), yaitu >> pada 2004 dan 2009. >> >> PKBP meraih dua kursi pada 2004, namun gagal menempatkan perwakilan di >> DPR pada 2009. Tahun 2004, PKBP secara terang-terangan berniat mengusung >> putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menjadi >> presiden. >> >> Namun rencana itu gagal karena PKBP tak mencapai batas ambang pencalonan >> presiden. >> >> Dua partai lain yang pernah didirikan anggota keluarga Cendana adalah >> Partai Karya Republik dan Partai Nasional Republik. Dua partai itu tidak >> pernah mengikuti pemilu. >> >> > >
