Ya rapopo Anda memahami nomor 7:19 itu sesuai kemampuan Anda. Yang pasti  kan 
19 itu tidak ujug-ujug begitu saja tanpa 18, 17, 16, 15 dst.
Perubahan ayat (juga dlm hukum, kontrak dll) biasanya dicantumkan, disebutkan, 
pada ayat bersangkutan, tidak pada ayat lain atau surat kontrak lain.
Masalahnya di sini kan Anda maunya 7:19 ini 'pasti' sedangkan perintah pada 
Imamat 11 yang mengharamkan babi itu 'tidak pasti'.
--- jonathangoeij@... wrote:


   Sdh jelas alkitab menyebut "Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan 
halal"
Perintah Tuhan dalam ayat Alkitab memang banyak berubah. 
--- ajegilelu@... wrote :

Konteksnya adalah najis yang tanpa sengaja tertelan bersama makanan (krn 
tangannya kotor misalnya). Dalam situasi tertelan seperti itu, makanannya 
sendiri ya tetap halal. Kecuali yang dimakan itu adalah makananyang memang 
diharamkan.
Nah, karena menyikapi ayat kitab suci ini sebagai 'kepastian', berarti ayat 
lain di kitab yang sama tentu bisaAnda sikapi sebagai 'kepastian' juga dong yah.
--- jonathangoeij@... wrote:
Alkitab dengan tegas mengatakan semua makanan halal. Penjelasan anda tentang 
najis yg tdk berkaitan dgn makanan halal haram adalah interpretasi anda saja, 
ya monggo saja interpretasi itu untuk anda.

| 7:18 | Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak 
tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak 
dapat menajiskannya, |
| 7:19 | karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu 
dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. |



--- ajegilelu@... wrote :

----- repost -----From: ajeg 
Sent: Saturday, March 24, 2018, 9:53:48 PM GMT+7
Lebih menarik waktu Anda tumben bisa memastikan suatumasalah; kebetulan tentang 
Yesus yang Anda pastikanmemakan makanan haram selama hidupnya. Padahal jelas 
Alkitab mengharamkan sejumlah makanan, termasuk babi. Ini kan sudah jadi 
rahasia umum, percuma ditutup-tutupi.
Mengenai ajaran Yesus di bawah kalau dibaca baik-baik,dicermati betul-betul, 
maka kelihatan konteksnya adalah tentang najis, bukan tentang makanan. Intinya, 
najis yang masuk ke badan karena terbawa makanan. Akal sehat pasti tidak 
membiarkan najis dimakan dengan sengaja. Kalaupun tidak sengaja tertelan, tetap 
saja tidak membuat si penelan menjadi orang yang najis. Lebih kurang seperti 
ituajarannya. Adapun Anda, mengacaukan pengertian antara 'najis' daaan 'haram'. 
Mencampuraduk keduanya.
--- jonathangoeij@... wrote:
Menarikjuga melihat pertanyaan2 anda, kelihatannya anda beranggapan ygtertulis 
pada kitab suci secara literal pasti dan tidak bisa berubah.Apakah benar begitu?

Btw,yg saya maksud Yesus pasti tidak pernah makan makanan halal itu 
dalamkonteks makanan halal dalam Islam v. kosher dalam Yahudi seperti 
ygdidiskusikan sebelumnya. Makanan halal dalam Islam setiap binatang 
ygdisembelih harus didoakan dulu baru halal, sedang kosher tidak perlu,doa 
hanya binatang pertama saja. Dan bukan hanya ritual penyembelihan ygjelas 
berbeda, tetapi juga content yg dimakan. Contoh sederhana Yesusminum anggur yg 
bukan makanan halal dalam Islam. 
Dilihat secara ajaran-pun Yesus mengajarkan yg menajiskan itu bukan makanan yg 
masuk kedalam tubuh keluar kejamban "Apakahkamu juga tidak dapat memahaminya? 
Tidak tahukah kamu bahwa segalasesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang 
tidak dapatmenajiskannya," tetapi yg membuat seseorang itu najis adalah yg 
keluar dari orang itu "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang 
menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, 
percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, 
kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.. Semua hal-hal 
jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Kitab Markus)

--- ajegilelu@... wrote :

Oh, berarti makanan y   

Kirim email ke