PCINU Tiongkok Protes ke Harian Republika 
https://www.nu.or.id/post/read/88075/pcinu-tiongkok-protes-ke-harian-republika
 Senin, 02 April 2018 00:30Nasional https://www.nu.or.id/post/44/nasional/ 
Bagikan    
https://www.nu.or.id/post/read/88075/pcinu-tiongkok-protes-ke-harian-republika

 
 Rais PCI Tiongkok H Imron Rosyadi Hamid

 Surabaya, NU Online

 Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Tiongkok, protes kepada Harian 
Republika yang menulis bahwa di China Pelajar Indonesia dapat pelajaran 
ideologi komunis, berita itu dimuat harian ibukota itu pada tanggal 1 April 
2018.
 

 Karena pemberitaan di  Republika tersebut dinilai terlalu mengada-ngada dan 
tidak sesuai dengan kenyataan yang ada maka PCI  NU Tiongkok  melakukan protes 
ke Harian Republika melalui surat resmi Nomor : 010/PCINU/IV/2018, Perihal : 
Sikap Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok atas berita 
Harian Republika tanggal 01 April 2018. 
 

 Surat tertanggal  1 April 2018 yang ditujukan langsung ke Harian Republika 
tersebut ditanda tangani pengurus harian lengkap diantaranya  Rais H Imron 
Rosyadi Hamid, Katib Su'udut Tasdiq, Ketua Nur Widyanto, dan Sekretaris Jazuli 
Khanafi.
 

 “Kami keberatan dengan judul maupun isi berita yang tidak didasari fakta, 
tulisan itu bersifat insinuatif dan provokatif," ujar Rais PCI NU Tiongkok 
kepada NU Online, Ahad (1/4) sore.
 

 Menurut Gus Imron panggilan akrabnya, tulisan ini sangat  mengada-ngada sebab 
berdasarkan pengalamannya di universitas di Tiongkok tidak diajarkan idelologi 
komunisme sebagaimana yang di beritakan di Republika tadi. 
 

 “Untuk itu kami sangat keberatan," ungkapnya.
 

 Untuk itu lanjut Gus Imron, pihaknya meminta kepada redaktur Republika untuk 
menarik pemberitaan itu karena dapat menganggu kenyamanan puluhan ribu 
mahasiswa Indonesia yang sekarang tengah belajar di Tiongkok. 
 

 “Tulisan ini sangat mengganggu kami-kami yang sedang belajar di Tiongkok," 
jelas Imron.
 

 Alief Ilham Akbar mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Hangzhou 
Tiongkok asal Surabaya Jawa Timur melalui akun Facebook menjelaskan, selama 
dirinya kuliah di Negeri Tirai Bambu pihak universitas di Tiongkok tidak pernah 
ada percobaan kepada dirinya untuk mengajarkan idelologi tertentu, bahkan kerap 
datang banyak dosen tamu dari berbagai penjuru dunia untuk mengajar dirinya 
atau riset bersama, termasuk dari negara negara barat yang demokrasi dan 
merupakan anti thesis dari ideologi komunis.
 

 Dijelaskan, Jika dilihat pelajar asing yang paling banyak di Tiongkok adalah 
pelajar dari Pakistan dan Korea Selatan yang kedua-duanya merupakan bukan 
negara komunis tetapi negara dengan mayoritas Islam (Pakistan) dan bersistem 
demokrasi (Korea Selatan).
 

 "Memang ada pelajaran wajib tentang Tiongkok, tetapi yang dibahas adalah semua 
seluk beluk tentang negara ini secara komprehensif mulai dari budaya, politik, 
ekonomi, kuliner, kaligrafi, sejarah, bahkan tentang perkembangan Islam di 
Tiongkok," ujarnya.
 

 Apa yang dia sampaikan melalui akun facebooknya adalah fakta karena dirinya 
tinggal langsung di Tiongkok untuk penjelasan ke khalayak umum agar tidak 
terbawa opini yang menyesatkan da tidak berdasarkan fakta yang ada. (Imam 
Kusnin Ahmad/Muiz).
 



 Rais PCI Tiongkok H Imron Rosyadi Hamid

 Surabaya, NU Online

 Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Tiongkok, protes kepada Harian 
Republika yang menulis bahwa di China Pelajar Indonesia dapat pelajaran 
ideologi komunis, berita itu dimuat harian ibukota itu pada tanggal 1 April 
2018.
 

 Karena pemberitaan di  Republika tersebut dinilai terlalu mengada-ngada dan 
tidak sesuai dengan kenyataan yang ada maka PCI  NU Tiongkok  melakukan protes 
ke Harian Republika melalui surat resmi Nomor : 010/PCINU/IV/2018, Perihal : 
Sikap Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok atas berita 
Harian Republika tanggal 01 April 2018. 
 

 Surat tertanggal  1 April 2018 yang ditujukan langsung ke Harian Republika 
tersebut ditanda tangani pengurus harian lengkap diantaranya  Rais H Imron 
Rosyadi Hamid, Katib Su'udut Tasdiq, Ketua Nur Widyanto, dan Sekretaris Jazuli 
Khanafi.
 

 “Kami keberatan dengan judul maupun isi berita yang tidak didasari fakta, 
tulisan itu bersifat insinuatif dan provokatif," ujar Rais PCI NU Tiongkok 
kepada NU Online, Ahad (1/4) sore.
 

 Menurut Gus Imron panggilan akrabnya, tulisan ini sangat  mengada-ngada sebab 
berdasarkan pengalamannya di universitas di Tiongkok tidak diajarkan idelologi 
komunisme sebagaimana yang di beritakan di Republika tadi. 
 

 “Untuk itu kami sangat keberatan," ungkapnya.
 

 Untuk itu lanjut Gus Imron, pihaknya meminta kepada redaktur Republika untuk 
menarik pemberitaan itu karena dapat menganggu kenyamanan puluhan ribu 
mahasiswa Indonesia yang sekarang tengah belajar di Tiongkok. 
 

 “Tulisan ini sangat mengganggu kami-kami yang sedang belajar di Tiongkok," 
jelas Imron.
 

 Alief Ilham Akbar mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Hangzhou 
Tiongkok asal Surabaya Jawa Timur melalui akun Facebook menjelaskan, selama 
dirinya kuliah di Negeri Tirai Bambu pihak universitas di Tiongkok tidak pernah 
ada percobaan kepada dirinya untuk mengajarkan idelologi tertentu, bahkan kerap 
datang banyak dosen tamu dari berbagai penjuru dunia untuk mengajar dirinya 
atau riset bersama, termasuk dari negara negara barat yang demokrasi dan 
merupakan anti thesis dari ideologi komunis.
 

 Dijelaskan, Jika dilihat pelajar asing yang paling banyak di Tiongkok adalah 
pelajar dari Pakistan dan Korea Selatan yang kedua-duanya merupakan bukan 
negara komunis tetapi negara dengan mayoritas Islam (Pakistan) dan bersistem 
demokrasi (Korea Selatan).
 

 "Memang ada pelajaran wajib tentang Tiongkok, tetapi yang dibahas adalah semua 
seluk beluk tentang negara ini secara komprehensif mulai dari budaya, politik, 
ekonomi, kuliner, kaligrafi, sejarah, bahkan tentang perkembangan Islam di 
Tiongkok," ujarnya.
 

 Apa yang dia sampaikan melalui akun facebooknya adalah fakta karena dirinya 
tinggal langsung di Tiongkok untuk penjelasan ke khalayak umum agar tidak 
terbawa opini yang menyesatkan da tidak berdasarkan fakta yang ada. (Imam 
Kusnin Ahmad/Muiz).





 

Kirim email ke