*FORPA-BD Tolak Rencana Pembangunan Bendungan PLTA Sungai Kao*

Posted pada 13/02/2018 oleh Tribun Arafura
<https://tribun-arafura.com/author/tribunarafura/> in Aksi Protes
<https://tribun-arafura.com/category/berita/aksi-protes/>, Berita
<https://tribun-arafura.com/category/berita/>, Fakta Tanah Papua
<https://tribun-arafura.com/category/berita/fakta-tanah-papua/>, PLTA
Sungai Kao <https://tribun-arafura.com/category/plta-sungai-kao/> // 0
Comments

FORPA-BD didampingi tokoh Adat Kati-Wambon melakukan Konferensi Pers di
Prima Garden Waena, Jayapura, Senin (12/02) kemarin. Mereka secara tegas
menolak Rencana Pembangunan PLTA Sungai Kao.@forpa-bd

*JAYAPURA, Tribun-Arafura.com* — Forum Rakyat Papua Boven Digoel (FORPA-BD)
menolak Rencana Pembangunan Bendungan PLTA Sungai Kao di distrik Waropko
dan distrik Ambatkwi, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Hal ini ditegaskan
Sekretaris FORPA-BD Everistus Kayep melalui sambungan telepon di Merauke
siang tadi, Selasa (13/02).

“FORPA-BD dengan tegas menolak Pembangunan PLTA Sungai Kao karena lokasi
yang dipilih merupakan tempat- tempat keramat yang memiliki nilai historis
dan spiritual. Tempat-tempat ini telah dihormati secara turun-temurun dan
tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Masyarakat Kati-Wambon,” jelas Kayep.

Kayep mengatakan, Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop adalah anak asli
Wambon, kerabat Kati, sehingga tanpa perlu dijelaskan, beliau secara pasti
mengetahui nilai historis dan spiritual tempat-tempat keramat tersebut.

Menurut Kayep, pihaknya telah menginventarisir, setidaknya terdapat 24
tempat keramat di lokasi yang diincar pihak Pemerintah tanpa berkonsultasi
atau sosialisasi dengan pemilik dusun. (*Download*: *Sketsa Tempat-Tempat
Keramat*
<https://tribunarafura.files.wordpress.com/2018/02/sketsa-tempat2-keramat.pdf>
).

“Ini seperti pencuri, diam-diam lakukan *survey*untuk studi kelayakan
seolah-olah tanah ini tidak bertuan. Nanti setelah ada penolakan dari
masyarakat baru pemerintah tersadar dari kekeliruannya dan kalang kabut
mulai bikin jadwal sosialisasi,” jelas Kayep.

Alasan lainnya, menurut Kayep, Rencana Pembangunan PLTA Sungai Kao
disinyalir merupakan agenda terselubung pihak korporasi di wilayah Selatan
Papua yang membutuhkan pasokan listrik murah dan irigasi. (*Download* : *Peta
Sawit Papua*
<https://tribunarafura.files.wordpress.com/2018/01/atlas-sawit-papua.pdf>
<https://tribunarafura.files.wordpress.com/2018/01/atlas-sawit-papua.pdf>
dan *Peta Analisis Tanah Obyek Reforma Agraria di Boven Digoel*
<https://tribunarafura.files.wordpress.com/2018/02/peta-analisis-tora-piaps-kabupaten-boven-digoel.pdf>
).

“Puluhan perusahaan Kelapa Sawit, Padi, Tebu, Kedelai, Jagung, HTI dan
pabrik turunannya yang menguasai jutaan hektar tanah-tanah adat di Papua
Selatan perlu pasokan listrik murah dan irigasi sehingga PLTA Sungai Kao
berkapasitas 65,13 Megawatt merupakan jawaban pemerintah atas kebutuhan
mereka,” jelasnya.

Kayep mengatakan, pihaknya sempat menggelar Konferensi Pers di Jayapura
pada Senin (12/02) kemarin didampingi para Tokoh Adat Kati dan Wambon dan
mereka dengan tegas menolak rencana Pembangunan PLTA Sungai Kao.
(*Baca* :*Siaran
Pers FORPA-BD Tentang Penolakan Pembangunan PLTA Sungai Kao*
<https://forpabd.wordpress.com/2018/02/12/siaran-pers-forpa-bd-tolak-rencana-pembangunan-bendungan-plta-sungai-kao/amp>
).

Ditanya tentang status proyek ini, Kayep menjelaskan, FORPA-BD sudah
menelusurinya ke Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR di Jakarta.
“Sumber kami di Ditjen SDA mengatakan, yang terprogram secara nasional
hanya 65 Bendungan sejak 2014-2019. PLTA Sungai Kao tidak terdaftar untuk
proyek TA 2018 maupun TA 2019. Di Papua yang terdaftar untuk dibangun pada
TA 2018 adalah Bendungan Baliem di Kabupaten Jawawijaya,” jelas Kayep.

Kayep menjelaskan, apa yang sedang dilakukan oleh PT. Aditya Engineering
Consultant dari Bandung bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten Boven Digoel
saat ini adalah Studi Kelayakan untuk mengkaji, apakah PLTA layak dibangun
di Sungai Kao.

“PT. Aditya Engineering Consultant sudah memenangkan lelang untuk Studi
Kelayakan Pembangunan Bendungan Digoel di Kementerian PUPR dengan nilai
penawaran sama dengan nilai terkoreksi sebesar Rp 7 Milyar lebih,” kata
Kayep sembari mengatakan, pengumuman pelelangan dan pemenang tender bisa
diakses secara *online*melalui alamat
*https://lpse.pu.go.id/eproc/lelang/pemenang/28759064
<https://lpse.pu.go.id/eproc/lelang/pemenang/28759064>*.

Menyikapi Rencana Pembangunan PLTA Sungai Kao yang terkesan dipaksakan ini,
Kayep mengatakan FORPA-BD siap mengawal pemilik tanah untuk melakukan
penolakan sampai pihak pemerintah membatalkan rencana ini.

“Kami sejalan dengan Masyarakat Adat Kati-Wambon, akan lakukan penolakan
dengan berbagai cara, mulai dari Konferensi Pers, Mengirim Surat ke
Kementerian PUPR Demonstrasi Massa, sampai pada pemalangan lokasi yang
sudah di-*survey*,” tegas Kayep.

Dari data yang dihimpun media ini, diketahui bahwa Rencana Pembangunan PLTA
Sungai Kao dan *Survey* untuk Studi Kelayakan dilakukan tanpa sosialisasi
dan menyasar tempat-tempat keramat sehingga mendapat penolakan dari
berbagai komponen Masyarakat Adat Kati-Wambon di Waropko, Tanah Merah,
Merauke dan Jayapura. (*Baca* : *PLTA Sungai Kao Ditolak Karena Menyasar
Banyak Tempat Keramat
<https://tribun-arafura.com/2018/02/10/plta-sungai-kao-ditolak-karena-menyasar-banyak-tempat-keramat/>*
*).*[AB/TA].

https://tribun-arafura.com/2018/02/13/forpa-bd-tolak-rencana-pembangunan-bendungan-plta-sungai-kao/

Kirim email ke