Kisah Kelam Pembantaian di Tepi Sungai Bengawan Solo 
https://tirto.id/kisah-kelam-pembantaian-di-tepi-sungai-bengawan-solo-cGQ6
 https://tirto.id/kisah-kelam-pembantaian-di-tepi-sungai-bengawan-solo-cGQ6

 
 

 

 





 Ilustrasi Putri HB I yang Membantai Orang Tionghoa. tirto.id/Fiz

 31 Maret 2018



 

 Sekitar seratus orang Tionghoa tewas dalam penyerbuan yang dipimpin oleh Raden 
Ayu Yudakusuma pada 1825.
 tirto.id https://tirto.id/ - “Tanpa mempedulikan jerit dan tangisan para 
perempuan dan anak-anak Tionghoa, seluruh anggota masyarakat yang terdapat di 
Ngawi, habis dibantai. Tubuh-tubuh yang telah terpotong-potong dibiarkan 
bergelimpangan di muka pintu, jalanan, dan rumah-rumah yang penuh lumuran 
darah.” 

Begitulah Benny G. Setiono melalui buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008) 
meriwayatkan tragedi pembantaian etnis keturunan Cina yang terjadi di Ngawi 
pada 23 September 1825 (hlm. 173).

Pagi pada hari Jumat sebelum tragedi terjadi, datang ratusan prajurit berkuda 
ke Ngawi, menuju pemukiman orang-orang Tionghoa di daerah perbatasan antara 
Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Tanpa basa-basi, pasukan kavaleri itu 
langsung membantai setiap orang peranakan Cina yang mereka temui.

 Baca juga: Tragedi Berdarah Pembantaian Mangkuk Merah 
https://tirto.id/tragedi-berdarah-pembantaian-mangkuk-merah-cEUq

Pemimpin pasukan berkuda itu adalah seorang perempuan, bernama Raden Ayu 
Yudakusuma. Ia salah satu anak Pangeran Mangkubumi atau yang sejak 1755 
mendeklarasikan diri sebagai pemimpin Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri 
Sultan Hamengkubuwana I (1755 -1792). 

 Nenek Panglima DiponegoroRaden Ayu Yudakusuma adalah putri Hamengkubuwana I 
dari salah satu selirnya. Ibundanya yang diperistri sultan, Raden Ayu 
Srenggoro, merupakan putri Adipati Natayuda III yang pernah menjabat sebagai 
Bupati Kedu.

Sejak mulai bertakhta sebagai raja pertama Yogyakarta, perkawinan menjadi satu 
dari sekian cara yang dilakukan Hamengkubuwana I untuk mempertahankan sekaligus 
meluaskan pengaruhnya. Maka, sang sultan pun menikahkan putra-putrinya dengan 
para penguasa lokal yang tersebar di berbagai wilayah.

Raden Ayu Yudakusuma salah satunya. Ia dikawinkan dengan Raden Tumenggung 
Wirasari, Bupati Ngawi. Sesuai isi Perjanjian Giyanti yang diteken pada 13 
Februari 1755, Ngawi—yang semula milik Kasunanan Surakarta—termasuk wilayah 
bekas Mataram yang diberikan kepada Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana I.

 Baca juga: Belanda Membelah Jawa dengan Perjanjian Giyanti 
https://tirto.id/belanda-membelah-jawa-dengan-perjanjian-giyanti-cEpq

Pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa yang terjadi pada 23 September 1825 
itu ternyata masih ada kaitannya dengan Perang Jawa melawan Belanda yang 
dipimpin Pangeran Diponegoro. 

Antara Raden Ayu Yudakusuma dan Pangeran Diponegoro masih terbilang kerabat 
dekat. Diponegoro adalah salah satu putra Hamengkubuwana III. Sultan yang dua 
kali berkuasa (1810-1811 dan 1812-1814) ini merupakan anak Hamengkubuwana II 
yang tidak lain adalah kakak Raden Ayu Yudakusuma. Dengan demikian, Raden Ayu 
Yudakusuma masih terhitung nenek Pangeran Diponegoro meskipun sebenarnya mereka 
berusia sepantaran.

 Baca juga: Hamengkubuwana II: Sultan yang Berkuasa Tiga Kali 
https://tirto.id/hamengkubuwana-ii-sultan-yang-berkuasa-tiga-kali-cCFF

Raden Ayu Yudakusuma diperkirakan lahir tahun 1787 
https://www.geni.com/people/BRAy-Yudokusumo-I/6000000038487436867?through=6000000017938537380,
 sementara Diponegoro pada 1785. Hubungan nenek-cucu antara Raden Ayu 
Yudakusuma dan Diponegoro dimungkinkan karena Hamengkubuwana I—yang wafat pada 
1792—memiliki banyak istri. Raden Ayu Srenggoro 
https://www.geni.com/people/Raden-Ayu-Srenggoro/6000000019585537407?through=6000000038487436867#/tab/timeline,
 ibunda Raden Ayu Yudakusuma, diperkirakan lahir pada 1752.

Ketika Perang Jawa mulai meletus sejak 1825, Raden Ayu Yudakusuma turut 
membantu perjuangan cucunya, Diponegoro, melawan Belanda, sebagai komandan 
pasukan wanita. Peter Carey dalam The British in Java 1811-1816: A Javanese 
Account (1992) menyebut Raden Ayu Yudakusuma sebagai “perempuan yang sangat 
cerdas dengan kecerdikan yang benar-benar jantan” (hlm. 30).

 Baca juga: Pecah Kongsi Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo 
https://tirto.id/pecah-kongsi-pangeran-diponegoro-dan-kyai-mojo-cwyp

Carey juga menulis bahwa Raden Ayu Yudakusuma, secara pribadi, adalah orang 
yang bertanggung jawab atas pembantaian terhadap komunitas Tionghoa dalam 
jumlah yang cukup besar, di Ngawi, dekat Sungai Sala (Bengawan Solo), pada 23 
September 1825 itu.

 Retaknya Harmonisasi Pribumi-CinaDalam bukunya yang lain, Orang Jawa & 
Masyarakat Cina 1775-1825 (1985), Peter Carey menyebut bahwa sebelum penyerbuan 
itu terjadi, antara orang-orang peranakan Cina dan warga lokal di Ngawi 
sebenarnya terjalin relasi yang cukup harmonis. Dua golongan ini saling 
membantu. Tidak jarang Raden Ayu Yudakusuma meminta bantuan kepada warga 
keturunan Tionghoa. Istri Bupati Ngawi ini bahkan pernah meminjam uang kepada 
saudagar Cina di wilayah itu (hlm. 84).

Namun, kemesraan tersebut mulai retak karena ulah sejumlah oknum orang Tionghoa 
yang oleh Belanda dipercaya sebagai petugas pemungut pajak, atau petugas yang 
berjaga di jalan-jalan utama, jembatan, bandar dagang atau pelabuhan di dermaga 
maupun di sungai-sungai, hingga di pasar-pasar.

 Baca juga: Republik Lanfang, Republik Pertama di Nusantara 
https://tirto.id/republik-lanfang-republik-pertama-di-nusantara-cwtg

Tak hanya Belanda, para pejabat lokal, termasuk raja, juga merangkul kaum 
Tionghoa untuk tugas serupa. Menurut Benny Setiono, para pejabat lokal itu 
sering berutang uang kepada orang-orang Cina kaya yang ada di wilayahnya (hlm. 
175). Tanah-tanah milik kerajaan banyak yang disewakan kepada orang Tionghoa 
yang kemudian menggarapnya dengan baik. 

Peter Carey menyebut, sebagian orang Tionghoa itu justru bertindak seenaknya 
karena memperoleh “jabatan” dari pemerintah (Belanda) dan merasa dibutuhkan 
oleh pejabat pribumi. Inilah yang menjadi salah satu pemicu kebencian rakyat 
lokal terhadap mereka (hlm. 242).

Jabatan petugas pemungut pajak pun menjadi lahan basah yang menggiurkan 
sehingga semakin banyak orang Tionghoa yang mengajukan penawaran untuk 
mendapatkan izin memungut pajak. Para raja atau pejabat-pejabat pribumi maupun 
Belanda, terutama di daerah, memanfaatkan situasi ini dengan menaikkan uang 
sebagai persyaratan bagi orang-orang Tionghoa yang mengajukan penawaran.

Akibatnya, seperti dipaparkan Benny Setiono (hlm. 176) 
https://books.google.co.id/books?id=CH0p3zHladEC&pg=PA173&lpg=PA173&dq=Raden+Ayu+Yudakusuma&source=bl&ots=9QdDN2hnn0&sig=UyIEbToA6tgLZz8Yq5SsekUDmYo&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiX0J_nv4vaAhWDqI8KHY4lAZoQ6AEIXjAK#v=onepage&q=Raden%20Ayu%20Yudakusuma&f=false,
 para bandar pajak mencari jalan untuk memungut pajak yang sebesar-besarnya 
dengan cara yang lebih kejam kepada penduduk. Bahkan, pungutan yang lebih 
tinggi diterapkan kepada sesama orang Tionghoa yang terkadang harus membayar 
sampai tiga kali lebih banyak daripada yang harus dibayar orang Jawa.

Oknum bandar pajak dari kalangan Tionghoa ini bertindak sewenang-wenang tanpa 
rasa takut, karena mereka mendapatkan perlindungan hukum dari raja, sultan, 
pejabat lokal, juga pemerintah Belanda. Kedudukan mereka baru dapat diganti 
jika memperoleh persetujuan dari kompeni.

 Baca juga: Inilah Politikus Ulung Abad ke-18: Hamengkubuwana I 
https://tirto.id/inilah-politikus-ulung-abad-ke-18-hamengkubuwana-i-cGrF

Dalam beberapa kasus di sejumlah daerah, termasuk di Ngawi, situasi semakin 
memanas setelah bandar-bandar pajak yang orang Tionghoa itu membentuk pasukan 
pengawal khusus dan bertindak selayaknya pejabat yang mahakuasa. 

Kebencian penduduk lokal pun memuncak, seperti yang digambarkan oleh A.R.T. 
Kemasang dalam disertasinya bertajuk “The 1740 Chinese Massacres In Java: How 
Dutch Colonialism a Problem Minority in Its Effort to Thwart Indonesia’s 
Domestic Bourgeoisie” (1988) berikut ini:

“[…] belum pernah terjadi sebelumnya, mereka yang berasal dari berbagai 
‘kebangsaan’ merasa mempunyai persamaan, yaitu menghadapi musuh bersama: 
orang-orang Tionghoa, yang seperti biasa dianggap ‘eksklusif’. Satu-satunya ras 
yang tidak muncul di jalan bersama-sama mereka, termasuk para majikan mereka 
(yaitu) orang-orang Belanda” (hlm. 1-2).

 Pembantaian di Tepi Bengawan SoloHingga akhirnya, tanggal 23 September 1825, 
Raden Ayu Yudakusuma menggerakkan pasukan berkuda ke area permukiman warga 
keturunan Tionghoa yang terletak tidak jauh dari aliran sungai Bengawan Solo. 
Di sisi lain, Bupati Ngawi, suami Raden Ayu Yudakusuma, tidak mampu bertindak 
tegas karena sedang terbaring sakit-sakitan.

Ngawi, tulis Nurhadiantomo dalam Hukum Reintegrasi Sosial: Konflik-konflik 
Sosial Pri-Non pri dan Hukum Keadilan Sosial (2004), saat itu menjadi menjadi 
pos perdagangan yang sangat penting, dihuni oleh banyak etnis Tionghoa yang 
terdiri dari bandar beras, pedagang kecil, kuli, tukang, dan lain-lain (hlm. 
152).

 Baca juga: 13 Hari Pembantaian Orang Cina di Jakarta 
https://tirto.id/13-hari-pembantaian-orang-cina-di-jakarta-cx2Y

Untuk menghadapi serbuan pasukan kavaleri pimpinan Raden Ayu Yudakusuma, 
orang-orang Tionghoa setempat sudah berusaha membangun pertahanan, akan tetapi 
serangan yang mereka hadapi ternyata terlalu sukar untuk ditangkal. 

Hanya saja, para serdadu Jawa itu tidak pandang bulu dalam menjalankan 
tugasnya. Setiap orang keturunan Cina, tidak peduli siapa dan apa profesinya, 
termasuk wanita dan anak-anak, yang mereka temukan pasti dihabisi, tanpa 
terkecuali.

 


Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Jaringan Asia 
https://books.google.co.id/books?id=CLF-Q44wza4C&pg=PA359&lpg=PA359&dq=raden+ayu+yudakusuma+cina+ngawi&source=bl&ots=NOXUgVIN4m&sig=RNsZYe5ykrfWHYfhrzVJ2gVTLbQ&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj964qhxovaAhXJPI8KHeDAD-sQ6AEIaDAK#v=onepage&q=yudakusuma&f=false
 (1996) menuliskan bahwa sekitar seratus orang Tionghoa tewas dalam aksi 
pembantaian di Ngawi itu (hlm. 359). Sementara yang bisa lolos kemudian 
menyelamatkan diri ke daerah-daerah pesisir pantai utara Jawa yang mereka 
anggap relatif lebih aman, atau ke kota-kota di mana terdapat pasukan Belanda 
yang diharapkan dapat memberikan perlindungan.

Tragedi berdarah di Ngawi tersebut menjadi salah satu peristiwa pilu dalam 
perjalanan sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa, dalam hubungannya dengan 
orang-orang keturunan Tionghoa. Peristiwa ini juga memicu sejumlah kejadian 
serupa di daerah lain, atau yang kerap disebut dengan istilah geger pecinan.

 Baca juga: Adriaan Valckenier, Gubernur Pembantai Cina di Batavia 
https://tirto.id/adriaan-valckenier-gubernur-pembantai-cina-di-batavia-cqbh

Terlebih lagi, retaknya hubungan antara warga lokal dengan kaum Tionghoa di 
Ngawi itu berbarengan dengan meletusnya Perang Jawa. Moch. Sa'dun dalam Pri dan 
Nonpri: Mencari Format Baru Pembauran (1999) bahkan menyebut, perang Diponegoro 
bukan hanya terbatas sebagai perlawanan terhadap Belanda, tapi juga peluang 
yang tidak disia-siakan orang Jawa guna melampiaskan kebencian kepada kaum 
peranakan Cina (hlm. 61).

Meskipun sering mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan, namun orang-orang 
keturunan Tionghoa di Jawa, dan di wilayah-wilayah Nusantara lainnya, tetap 
menjalin relasi positif dengan kaum bumiputra. Relasi macam itu bahkan terjadi 
selama Perang Jawa, atau tidak seberapa lama usai terjadinya peristiwa 
pembantaian di Ngawi.

Benny Setiono (hlm. 174) mengungkapkan, banyak orang Tionghoa yang ikut 
berjuang bersama pasukan Diponegoro, terutama dalam menyediakan uang, perak, 
senjata, candu, dan lain-lain untuk keperluan perang. Bahkan, tidak sedikit 
para pemuda keturunan Cina yang turut bertempur melawan Belanda, misalnya dalam 
pertempuran di Lasem yang dipimpin ipar Diponegoro, Raden Tumenggung 
Sasradilaga, pada 1827-1828.

 Baca juga: Mengenang Jumat Petaka di Banjarmasin 
https://tirto.id/mengenang-jumat-petaka-di-banjarmasin-cpie

Barangkali tidak terhitung kejadian-kejadian miris terkait konflik antara 
“pribumi” dengan warga keturunan, khususnya peranakan Tionghoa. Namun, sekali 
lagi, setiap kali ada masa “surut”, pasti akan datang masa “pasang”. Relasi 
pasang-surut itu mewarnai hampir setiap babak perjalanan sejarah Indonesia, 
terjalin abadi melintasi zaman dan generasi, bahkan hingga saat ini.
 
 
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA 
https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword
 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya 
https://tirto.id/author/iswara?utm_source=internal&utm_medium=topauthor


 (tirto.id - Sosial Budaya) 

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan


 

Kirim email ke