https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?
_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937
Senin 02 April 2018, 16:08 WIB
Kolom
Hilangnya Damai di Asia
Anis Matta - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
Anis Matta
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
13 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
Hilangnya Damai di Asia Anis Matta (Foto: istimewa)
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3949330/hilangnya-damai-di-asia?_ga=2.38781987.1660270311.1522691937-2145674104.1522691937#>
*Jakarta* - Asia tak pernah luput dari perhatian dunia. Pada 1993, Bank
Dunia menerbitkan laporan tebal bertajuk /The East Asian Miracle:
Economic Growth and Public Policy/. Buku ini mencoba mengungkap
kebijakan apa saja yang berperan hingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi
dramatis, kesejahteraan manusia yang meningkat, dan makin meratanya
distribusi pendapatan dalam periode 1965-1990. Ternyata laporan ini
hanya berumur empat tahun, karena Asia Timur, terutama Thailand,
Indonesia dan Malaysia terguncang krisis moneter 1997. Di Indonesia,
krisis itu menimbulkan krisis politik hingga 1998.
Dalam setengah abad, keajaiban ekonomi Asia ditopang oleh kestabilan
kawasan dan masing-masing negara. Indonesia, Malaysia, Filipina, dan
Singapura memiliki pemerintahan dan pemimpin yang kuat. Kesejahteraan
hadir dengan ongkos diredamnya kebebasan politik. Ketegangan politik
antarnegara, seperti antara Indonesia dan Malaysia yang meningkat dalam
kasus Ambalat (2005), tidak muncul ke permukaan.
Dalam dinamika kawasan, terjadi kebangkitan dan peralihan ekonomi ke
Asia secara bertahap: Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menggeliat pada
1960-an; ASEAN pada 1970-an-terutama dengan bonanza minyak yang
dinikmati Indonesia; dan China pada 1980-an ketika Deng Xiao Ping
menggulirkan reformasi ekonomi. Akumulasi dari semua proses itu, walau
sempat terinterupsi krisis moneter 1997, kini Asia Pasifik menikmati 40%
kue Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Di lain pihak, Amerika Serikat
dan Eropa yang pernah menikmati sekitar 80% kue PDB dunia kini menyusut
hingga sekitar setengahnya.
Meningkatnya dinamika bukan tanpa konsekuensi. Makin intensnya
lalu-lintas uang, barang, dan orang di Asia mulai memperuncing perbedaan
kepentingan masing-masing negara yang tidak jarang berujung pada
ketegangan politik. Eskalasi di Laut China Selatan diperkirakan akan
membuat situasi tidak nyaman dalam waktu yang cukup lama. Ada lima
negara yang berkepentingan langsung dengan laut yang dilalui lalu lintas
perdagangan senilai USD 5 tirliun per tahun itu, yaitu China (termasuk
Taiwan), Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, dan Indonesia. Laporan
mengenai cadangan minyak dan gas menambah sedap bumbu ketegangan isu ini.
Ketegangan antara Vietnam dan China sempat mendingin dengan beberapa
pertemuan dan kesepakatan pada pengujung 2017. Ketenangan itu kembali
terusik karena beberapa hari lalu, China menggelar unjuk kekuatan
besar-besaran dengan kapal induk, kapal selam, dan sekitar 40 kapal
tempur. Pengamat militer menyatakan bahwa gelar kekuatan ini lebih
bertujuan propaganda (/Reuters/, 29/3).
Selain ketegangan militer antarnegara, situasi Asia juga terkoyak oleh
konflik primordial seperti yang terjadi di Rohingya. Kekerasan terhadap
minoritas muslim di negara itu telah memancing kemarahan komunitas
muslim dunia. Sampai saat ini, reaksi umat muslim masih sebatas
pernyataan solidaritas dan bantuan kemanusiaan. Namun, bukan tidak
mungkin muncul upaya retaliasi berupa kekuatan sipil bersenjata yang
masuk ke wilayah itu.
Paruh kedua 2017 Asia dan dunia dikejutkan oleh serangan Islamic State
of Iraq and Syria (ISIS) di Marawi, Filipina. Konflik ini dipicu oleh
usaha penangkapan Isnilon Hapilon, pemimpin milisi Abu Sayyaf yang
berafiliasi ke ISIS. Tidak ada yang menyangka, di negara mayoritas
Katolik itu ada begitu banyak serdadu ISIS hingga mampu mengobarkan
perang kota selama lima bulan. Nuansa primordial dalam konflik-konflik
tersebut (Buddha vs Islam, atau Islam vs Katolik) menambah kompleksitas
konflik karena potensi balas dendam yang tak berkesudahan.
Semenanjung Korea menjadi /hotspot/ lain. Pernyataan Korea Utara bahwa
pihaknya baru menguji coba rudal nuklir terbarunya dibalas dengan
latihan militer bersama Amerika Serikat-Korea Selatan pada Desember
2017. Banyak pengamat menyatakan ini adalah latihan terbesar, dengan
melibatkan enam pesawat tempur siluman F-22 Raptor, jet F-35 dan lebih
dari 200 pesawat. Amerika mengirim tak kurang dari 12.000 prajurit untuk
bergabung bersama serdadu Korea Selatan. Tak heran jika Pyongyang
menganggap latihan itu merupakan tindakan menghasut.
Masih banyak titik-titik panas di Asia. Jepang telah mengamandemen
konstitusi yang memungkinkannya melakukan perang di luar negeri.
Angkatan perang Jepang berubah dari pasukan bela diri pasifis menjadi
militer murni yang memiliki legitimasi untuk melakukan ekspansi.
Amandemen ini dikecam keras oleh China dan Korea Selatan yang menyimpan
trauma sejarah agresi Jepang di masa lalu. Jepang sendiri berdalih
amandemen tersebut dibutuhkan untuk mengantisipasi ancaman dari Korea
Utara dan China.
Keinginan junta militer di Thailand untuk terus berkuasa sejak kudeta
2014 dan sentimen politik identitas dan primordial yang merebak di
Indonesia, walaupun merupakan dinamika internal, juga menyumbang
kerawanan kawasan. Pada saat yang sama, para sekutu AS-Australia,
Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India makin gencar melakukan
konsolidasi. Amerika merasa perlu menegakkan wibawa militernya yang
melemah akibat kegagalan invasi Irak 2013. Di atas kertas Paman Sam
masih yang paling digdaya, tapi kekuatan itu tidak memancarkan
/confidence/ dan kemampuan konsolidasi seperti masa-masa sebelumnya.
Ancaman terbesar dari hilangnya damai adalah hancurnya iklim investasi
di Asia. Ini bisa menjadi interupsi besar bagi pertumbuhan ekonomi
kawasan dalam jangka menengah dan panjang.
*Kepentingan Indonesia*
Indonesia harus segera menakar daya tahan sistem keamanan dan pertahanan
terhadap goncangan geopolitik kawasan dan dunia. Lebih jauh lagi,
Indonesia harus ikut mempertahankan situasi kawasan yang kondusif
sebagai dasar bagi iklim investasi dan ekonomi di dalam negeri.
Agar dapat menjadi salah satu kekuatan utama, kita harus memperkuat
sektor ekonomi, teknologi, dan militer. Kekuatan dan keandalan pada tiga
sektor tersebut membuat kita independen dan tidak terombang-ambing
agenda pihak lain. Jumlah penduduk yang besar merupakan modal agar
Indonesia menjadi jangkar kestabilan kawasan. Pertumbuhan PDB dan
kontribusi terhadap pertumbuhan PDB regional merupakan kartu truf yang
harus dimainkan dengan cermat. Indonesia masuk lima besar PDB Asia,
bersama China, India, Jepang, dan Rusia. Ini berarti Indonesia memiliki
legitimasi untuk memprakarsai suatu usaha menjaga kestabilan di Asia
untuk mempertahankan dan meningkatkan aktivitas ekonomi yang berujung
pada kesejahteraan rakyat.
Yang tidak kalah penting, dalam jangka menengah Indonesia perlu
memikirkan untuk membangun aliansi strategis global baru. Dengan siapa
kita beraliansi? Apa yang kita dapat? Untuk dapat menghitung siapa
sekutu Indonesia, kita perlu melakukan pemetaan kembali dunia
berdasarkan kepentingan nasional kita. Tarik-menarik kepentingan,
perhitungan biaya-manfaat, serta /chemistry/ ideologi dan budaya semua
dibedah dalam menyusun aliansi baru tersebut. Hanya dengan posisi yang
kuat itulah, Indonesia akan duduk di meja utama perundingan Asia dan dunia.
*Anis Matta* /pengamat politik internasional/
*(mmu/mmu)
*