Saya berharap dr. Terawan tidak ceroboh menerapkan begitu saja metodenya langsung kepada pasien. Sebagai ilmuwan tentulah dia
punya dasar yang kuat lebih dulu bahwa metodenya memang layak digunakan - kalau tidak salah percobaan dengan subyek hewan dll adanya di tahap uji kelayakan ini. Penerapan dr. Terawan kepada pasien selama ini bisa jadi merupakan bagian dari tahap berikutnya yaitu, uji klinis (tolong dikoreksi kalau keliru istilahnya). Pada tahap uji klinis ini ya mau tidak mau metode baru apa pun perlu dilakukan terhadap pasien sungguhan untuk mendapatkan bukti / hasil sesungguhnya dari maksud yang dituju. Nah, apakah etika uji klinis -- al. memberitahu pasien dan mendapatkan persetujuannya untuk menjalani pengobatan dengan metode baru tsb dilanggar dr. Terawan, kita tunggu perkembangan selanjutnya. Ps. persetujuan pasien tentu harus tertulis --- SADAR@... wrote : Yaa, ... BETUL juga, percobaan awal tentu harus gunakan binatang, entah tikus, kelinci atgaupun monyet! Tapi kemudian juga harus berani dicoba pada manusia! Kalau dahulu Jepasng saat menjajah Tiongkok daratan, banyak kisah mereka gunakan banyak orang Tionghoa sebagai kelinci percobaan, ... KEJAAAAM! Itulah kenyataan, sejarah yang tidak dapat disangkal. Setelah hidup di HK, seorang sahabat yg kena gula-tinggi, kakinya memborok dan harus dioperasi! Karena masih muda dan harus bekerja utk hidup dia TIDAK MAU. Mencoba masuk ke Tiongkok ada abangnya di Beijing, ternyata sebagai penduduk HK, dan ketika itu masih dipertengah tahun 96-an, ... diperlakukan sb orang asing dengan hedak ditarik tarif tinggi, terpaksa balik kembali ke HK! Karena kesakitan dan tidak tahan lagi, disaat turun dari bus, dia jatuh pingsan, siuman sudah menggeletak di RS-HK. Karena tidak ada penghasilan lagi, dia ditanya oleh dokter, mau diamputasi atau kalau tidak mau masuk dalam grup percobaan menggunakan obat baru dari Jerman? Akhirnya dia ditangani dokter Jerman dan mencoba gunakan obat baru, sebagai percobaan! Borok di kaki nampak ada perkembangan baik, setelah 3 mingguan di RS, sudah dinyatakan tidak perlu diop-erasi. Pengobatan BERHASIL! Begitu terakhir kali saya nengok dia di RS dengan gembira minta saya perhatikan pekerjaan, beberapa hari lagi bisa keluar RS! Eeeiiih, ... 3 hari berikut, dapatkan telpon dari RS, sahabat itu coma, terjadi pendarahan di otak! Tidak sampai 2 minggu, jalan meninggalkan kita utk selamanya, ... Sungguh menyedihkan! Tentu saya tidak mengerti terapi Terawan itu apa dan bagaimana caranya cuci-otak bagian kiri, kanan dengan masukkan carian obat, ... yang PENTING apa yang telah dijalankan selama beberapa tahun ini jangan dilempar, diabaikan begitu saja! Kumpulkan sebagai PERCOBAAN nyata yang telah dilakukan Terawan itu, simpulkan secara ILMIAH, dimana kesalahan dan dimana pula keberhasilan yang nyata ada! Kalau ada yang berhasil kenapa dan mengapa ada yang gagal, dimana masalahnya? Jangan karena dianggap pelanggaran etika kedokteran lalu semua data praktek yg dijalankan dr. Terawan itu dibuang saja dalam tong sampah! Salam, ChanCT From: Karma, I Nengah [PT. BI-POS] Biasanya untuk percobaan pada obat serta makanan dilakukan melalui tikus putih untuk mengindari resiko pada manusia. Jika percobaan langsung pada manusia tentu salah besar apalagi zat yang dipakai nyoba langsung masuk tubuh/otak tentunya yang orang dicoba akan dirugikan From: Chan CT Kali ini setuju Hendro, memang itu yang diinginkan masyarakat: sembuh! BENAR, yang dikehendaki masyarakat: SEMBUH! Pengobatan barat selama ini jelas lebih banyak menguntungkan pengusaha OBAT saja, kenyataan TIDAK MENYEMBUHKAN penyakit! Coba saja perhatikan orang yang kena darah-tinggi, jadi seumur hidup harus nelenin obat turunkan tekanan-darah! Belasan tahun bahkan puluhan tahun nenelin obat itu juga TIDAK SEMBUH! Bahkan sebaliknya tidak sedikit berakhir dengan kena stroke dan mati juga! Begitu juga yang kena gula-tinggi, kolestrol-tinggi, prostat, ... pasien harus nelenin obat bahkan tidak bisa lepas dari obat kalau hendak dikatakan masih sehat. Orang jadi HIDUP tergantung dari obat dan itu secara tidak langsung hanya memperkaya pengusaha obat saja! Masalah pengobatan alternatif tentu saja perlu dan HARUS dikembangkan sebaik-baiknya! Yang jadi masalah, jangan sampai terjadi ditunggangi sementara dr. nakal utk kepentingan pribadinya saja, dan pasien-pasiennya hanya dijadikan kelinci percobaan secara tidak bertanggungjawab! Oleh karena itu TETAP dibutuhkan pengontrolah KETAT, ... ada badan atau dewa kedokteran yang mengawasi dan memberikan KEPUTUSAN berwenang. TIDAK bisa dibiarkan dan MASA BODOH urusan akademis! Kasus dr. Terawan perlou didiskusikan secara ilmiah, meneliti lebih lanjut sampai dimana KEBENARAN terapi cuci-otak yg telah dilakukan cukup lama dan buaaanyak pasien! Ada dan mungkin banyak yang berhasil, termasuk Dahlan Iskan saat menjabat Menteri BUMN, dan kenyataan juga ada yang GAGAL, pasien menjadi LUMPUH, menjadi manusia-tumbuhtumbuhan sampai sekarang! Semua data itu tentunya sangat BERHARGA untuk diteliti lebih lanjut secara akademis, untuk membuat keputusan terapi cuci-otak itu bisa atau tidak dilanjutkan atau lebih dahulu harus disempurnakan untuk menhendirasi kegagalan yang terjadi! Salam, ChanCT From: ajeg ‘Masa bodoh urusan akademik, kita ingin sembuh’ "Kami akan kumpul untuk bergerak membela dia kalau sampai dia dicabut izin praktiknya." (Hendropriyono) Kali ini setuju Hendro, memang itu yang diinginkan masyarakat: sembuh.
