Dengan mengklaim sebagai "pemenang PD-II" jelas para 
pemimpin Barat sangat ketagihan membohongi diri sendiri 
lalu meningkatkan dosis kecanduannya terhadap realita palsuyang mereka nikmati 
di sepanjang jaman kolonial. Caranya, 
memodifikasi metode penindasannya dari penjajahan ilegal 
menjadi penjajahan "legal", alias mempertahankan hegemoninya 
dengan dasar legalitas. 

Dengan begitu, kegiatan yang tidak logis sekalipun bisa 
dinyatakan sah / legal hanya karena kegiatan tsb sesuai 
kepentingan dan memberi keuntungan kepada Barat / nekolim. 
Penjualan senjata misalnya, tetap legal selama itu sesuai 
kepentingan (dan memberi keuntungan) kepada kapitalis Barat, 
tetapi kegiatan yang sama oleh pihak lawan akan terus 
dicari-cari unsur melawan hukumnya. Itu sebabnya, usai 
PD-II para bekas penjajah berlomba-lomba menampilkan 
wajah manisnya sekalipun aktif mendiktekan undang-undang 
di wilayah "koloni" untuk melindungi penjajahan gaya baru mereka. 
Tidak terkecuali perundang-undangan di bidang kedokteran & 
farmasi.
Metode dr. Terawan ini misalnya, kalau memang menyalahi 
ilmu dan metode kedokteran, kenapa baru dipersoalkan sekian 
tahun kemudian setelah begitu banyak pasien merasakan 
manfaatnya? Itupun yang diangkat cuma persoalan etik, bukan 
metode ilmiahnya yang menurut para pasiennya ternyata cukup 
mujarab. Artinya, ya penyembuhan yang logis sekalipun tidak legal 
menurut ukuran IDI.

Ada apa dengan IDI, kenapa baru di tahun 2018 ini seperti mendadak 
sembuh dari penyakit mata & telinga atas kegiatan dr. Terawan? 
Ngapain saja IDI selama ini? Kenapa pula sekarang IDI ragu menetapkan 
putusan yang sudah diambil? Sekedar gertak untuk ikut pasang nama?

Alasan bocornya surat pemecatan dr Terawan melahirkan guyonan 
di masyarakat, "ini IDI atau KPK?"
Lantas, ke mana larinya itu semangat kebangkitan menentang 
kolonialisme-imperialisme yang hampir seabad lalu dipelopori 
kalangan dokter???
Sudah banyak yang hilang ingatan kayaknya.



--- SADAR@... wrote:
    Kali ini setuju Hendro, memang itu yang diinginkan masyarakat: sembuh! 
BENAR, yang dikehendaki masyarakat: SEMBUH! Pengobatan barat selama ini jelas 
lebih banyak menguntungkan pengusaha OBAT saja, kenyataan TIDAK MENYEMBUHKAN 
penyakit! Coba saja perhatikan orang yang kena darah-tinggi, jadi seumur hidup 
harus nelenin obat turunkan tekanan-darah! Belasan tahun bahkan puluhan tahun 
nenelin obat itu juga TIDAK SEMBUH! Bahkan sebaliknya tidak sedikit berakhir 
dengan kena stroke dan mati juga! Begitu juga yang kena gula-tinggi, 
kolestrol-tinggi, prostat, ... pasien harus nelenin obat bahkan tidak bisa 
lepas dari obat kalau hendak dikatakan masih sehat. Orang jadi HIDUP tergantung 
dari obat dan itu secara tidak langsung hanya memperkaya pengusaha obat saja! 
Masalah pengobatan alternatif tentu saja perlu dan HARUS dikembangkan 
sebaik-baiknya! Yang jadi masalah, jangan sampai terjadi ditunggangi sementara 
dr. nakal utk kepentingan pribadinya saja, dan pasien-pasiennya hanya dijadikan 
kelinci percobaan secara tidak bertanggungjawab! Oleh karena itu TETAP 
dibutuhkan pengontrolah KETAT, ... ada badan atau dewa kedokteran yang 
mengawasi dan memberikan KEPUTUSAN berwenang. TIDAK bisa dibiarkan dan MASA 
BODOH urusan akademis! Kasus dr. Terawan perlou didiskusikan secara ilmiah, 
meneliti lebih lanjut sampai dimana KEBENARAN terapi cuci-otak yg telah 
dilakukan cukup lama dan buaaanyak pasien! Ada dan mungkin banyak yang 
berhasil, termasuk Dahlan Iskan saat menjabat Menteri BUMN, dan kenyataan juga 
ada yang GAGAL, pasien menjadi LUMPUH, menjadi manusia-tumbuhtumbuhan sampai 
sekarang! Semua data itu tentunya sangat BERHARGA untuk diteliti lebih lanjut 
secara akademis, untuk membuat keputusan terapi cuci-otak itu bisa atau tidak 
dilanjutkan atau lebih dahulu harus disempurnakan untuk menhendirasi kegagalan 
yang terjadi! Salam,ChanCT
 From: ajeg ‘Masa bodoh urusan akademik, kita ingin sembuh’ 
"Kami akan kumpul untuk bergerak membela dia kalau sampai dia 
dicabut izin praktiknya." 
(Hendropriyono)
Kali ini setuju Hendro, memang itu yang diinginkan masyarakat: sembuh.
Karena dunia kedokteran (dan farmasi) kapitalis sering lebih mengutamakan 
dalih dan persyaratan, terutama 'mampu bayar', dibanding menyembuhkan 
maka banyak orang yang pilih ke penyembuhan alternatif.. Jadi, kalau betul 
dr. Terawan dipecat, sebaiknya gerakan Hendro cs adalah bersedia memfasilitasi 
beliau dr Terawan dkk untuk berpraktek pengobatan alternatif bagi Rakyat. 

Sudah saatnya Indonesia bangkit kembali sebagai gerakan penentang  
kolonialisme-imperialisme, termasuk kapitalisme di bidang kedokteran 
dan farmasi. 

Bangkit, to build the world a new (Soekarno).   On Tuesday, April 3, 2018 8:54 
PM ajeg wrote: Begini Metode Cuci Otak Dokter Terawan
Metode ini sebenarnya merupakan metode radiologi intervensi 
dengan memodifikasi DSA (Digital Substraction Angiogram). 
Tekniknya dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam 
pembuluh darah melalui pangkal paha.

Pemecatan Dokter Terawan, Para Politikus Bereaksi SELASA, 03 APR 2018 16:25 
EDITOR : NURUL ADRIYANA SALBIAH JawaPos.com – Dunia medis dihebohkan oleh 
pemecatan yang dialami Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rads, dokter militer 
sekaligus Direktur Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. 
Metodenya berupa ‘cuci otak’ pasien stroke sudah dikenal dunia sebagai 
terobosan. Namun metode tersebut dinilai kontroversial. Alhasil, warganet yang 
merasa pasien dan pernah berobat kepada dokter Terawan pun ikut berkomentar di 
media sosial. Tak hanya warga biasa, bahkan sejumlah pejabat ikut berkomentar 
dan pernah merasakan manfaat pengobatan tersebut. Salah satunya politikus 
senior Partai Golkar Aburizal Bakrie atau akrab disapa Ical. Ical juga 
menjelaskan tak hanya dirinya, tetapi temannya yang lain yang juga negarawan 
seperti Tri Sutrisno juga merasakan manfaat yang sama. “Saya sendiri termasuk 
yang merasakan manfaatnya, juga Pak Tri Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono, dan 
banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas. Mudah menemukan testimoni orang 
yang tertolong oleh dr Terawan. #SaveDokterTerawan,” tulis Ical di akun 
Twitter-nya, Selasa (3/4). Selain Ical, ada juga politisi Partai Golkar lainnya 
yang merupakan putra Agung Laksono, Dave Laksono. “Dr. Terawan telah berhasil 
menyelamatkan ribuan nyawa manusia, termasuk sejumlah keluarga saya. Kenapa IDI 
hanya memberi sanksi tanpa solusi! #SaveDokterTerawan,” ujar Dave. Tokoh 
lainnya, Mahfud MD juga menyatakan komentarnya terkait pemecatan dokter 
Terawan. Menurut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu, metoda pengobatan 
dokter Terawan sudah memberi manfaat bagi orang banyak. Dia berharap kasus ini 
selesai dengan baik. “Saya bukan dokter. Mungkin saja pemecatan dokter Terawan 
oleh IDI benar. Tetapi saya dan isteri pernah berobat kepada dr. Terawan dan 
hasilnya terasa baik. Mudah-mudahan semua berakhir baik,” tutup Mahfud. 
(ika/JPC) 
   

Kirim email ke