Bagaimana Memahami Modernitas PKT Era Kini

Zheng YongNian

(Penulis adalah direktur Institut Asia Timur dari Universitas Nasional Singapura

Diterjemahkan dari Bahasa Tionghoa “Harian Pagi”-Singapore)

17 Oktober 2017

http://www.zaobao.com/zopinions/views/story20171017-803542

   



Selama lima tahun sejak Kongres Nasional PKT ke-18, telah terjadi banyak 
perubahan besar dalam ranah politik Tiongkok. Perubahan dalam "Ranah Politik" 
yang disebutkan di sini adalah perubahan yang telah terjadi pada internal PKT. 
Karena PKT adalah subjek utama perpolitikan di Tiongkok, tidak sulit untuk 
memahami bahwa perubahan politik di Tiongkok terutama berkisar pada perubahan 
PKT sendiri. Lagi pula, perubahan internal PKT juga terdapat "Faktor Luapan 
Keluar", yang berakibat perubahan eksternal di berbagai bidang dalam kaitan 
dengan perubahan tersebut.



Tidak sulit dapat terpantau, jika dibandingkan dg era sebelum Konggres ke-18, 
PKT lebih menitikberatkan penyesuaian pada apa yg terjadi dg perubahan hubungan 
external, yaitu Partai Penguasa melakukan penyesuaian & adaptasi "Sesuai 
Kemajuan Jaman" terhadap perubahan sosial ekonomi, berbagai macam penyesuaian 
kadang-kadang tercermin responsif dan reaktif, bahka pada saat tertentu lebih 
tercermin sebagai pola "Keterpaksaan" atau dengan kata yg lazim disebut pola 
"Pemadam Kebakaran".



Namun kondisi sejak Konggres ke-18 PKT menjadi sangat berbeda, perubahan utama 
terjadi pada diri internal Partai, bahkan perubahan yang terjadi sudah jauh 
melampaui penyesuaian hubungan internal, melainkan Me-"Restruktur" berbagai 
Hubungan Penting, yang mencakup Mekanisme Operasional pada Top Level Kekuasaan, 
hingga level bawah termasuk Acuan Kehidupan Politik Internal Partai di semua 
tataran.



Singkat kata, perubahan ini tercermin pada 2 sisi “Membongkar” dan 
“Menegakkan”. Bisa dicontohkan dalam Gerakan Anti Korupsi.  Gerakan 
anti-korupsi diawali dengan "Rambu Delapan Pasal" yang diketok-palu oleh 
Politbiro pada akhir tahun 2012, dg isi cakupan panyederhanaan penggunaan 
kendaraan, pengendalian ketat terhadap personil rombongan dalam melakukan 
kunjungan, pelaksanaan yang ketat dalam Distribusi Perumahan, Kendaraan, serta 
layanan lain secara komperhensif. Hingga saat ini, gerakan antikorupsi  pada 
umumnya dianggap sebagai gerakan paling berkesinambungan dan mendalam sejak 
tahun 1949,  ketika  berdirinya  Republik Rakyat Tiongkok.



Menurut situs jaringan Komisi Disiplin Partai Pusat, selama lima tahun ini, PKT 
total telah menjatuhkan hukuman pada dua juta anggota partai, hampir 2% dari 
jumlah seluruh anggota Partai. Di antaranya telah diadukan dan diadili, lebih 
dari 280 orang kader tingkat Wakil Menteri, lebih dari 8.600 kader tingkat Biro 
dan 66.000 kader tingkat Kabupaten. Selain Pemberantasan korupsi pada kader 
Tingkat Tinggi, PKT mendorong secara menyeluruh penertiban Partai menjalar 
hingga ketingkat paling bawah, selama lima tahun, menjatuhkan hukuman pada 
kader dan anggota partai ditingkat dari kabupaten kebawah sampai tingkat di 
atas  desa sebanyak 1.343.000 orang, menjatuhkan hukuman pada kader dan anggota 
partai tingkat Desa 648.000 orang.



Ada “Membongkar” berarti ada “Menegakkan”, “Menegakkan” tercermin dalam bentuk 
membangun mekanisme sistem “Menata Partai dengan Disiplin (ketat dan serius)”, 
sebagai partai berkuasa, “Menata Partai dengan Disiplin (ketat dan serius)” 
senantiasa menjadi penekanan paling khusus atau prioritas utama dari pimpinan 
tinggi PKT sejak Kongres ke-13 PKT pada tahun 1987, tiap kali Laporan Konggres 
Partai senantiasa menekankan secara khusus "Menata Partai dengan Disiplin 
(ketat dan serius)". Namun, setelah Kongres ke-18, selangkah maju kedepan, PKT 
mengusulkan “Menata Partai Secara Komperhensif dengan Disiplin Tinggi”. Konsep 
ini pertama kali diusulkan oleh Xi Jinping pada tahun 2014 ditengah Konferensi 
Penyimpulan Garis Massa PKT tentang Kegiatan Praktek Pendidikan,  yang kemudian 
menjadi "Komprehensif" terakhir dalam "Empat Komprehensif".



Tiga "Komprehensif" lainnya adalah “Mewujudkan Masyarakat Berkecukupan Secara 
Komperhensif”, “Memperdalam Reformasi secara Komperhensif”, dan “Menata Negara 
Berlandas Hukum Secara Komperhensif" namun, "Komperhensif" terakhir ini 
sebenarnya yang paling penting. Alasannya sederhana, PKT adalah Subjek Politik 
Tiongkok, satu-satunya partai yang berkuasa, tanpa "Komprehensif" terakhir ini, 
tiga "Komprehensif" lainnya tidak mungkin dibahas.



Terhadap masalah Style Partai dan Disiplin Partai, pada tahun 2015 PKT telah 
menerbitkan revisi “Regulasi Hukuman Disiplin Partai PKT”. Kemudian, pada 
Konferensi Paripurna ke-6 Konggres ke-18 PKT telah mengetok-palu dua buah 
Dokumen Penting Politik, yaitu, "Tentang Beberapa Pedoman Kehidupan Politik 
Internal Partai dalam Situasi Baru" dan "Regulasi Pengawasan Internal PKT".



TUJUAN SEBENARNYA DIBALIK ANTI KORUPSI PKT



Terhadap berbagai perubahan yang terjadi dalam internal PKT, baik di internal 
maupun external partai, banyak orang tidak paham, bahkan sangat tidak paham. 
Misalnya, terhadap masalah antikorupsi, terdapat pandangan dan pendapat yang 
sangat berbeda. Sebagian orang menganggap anti-korupsi sudah kelewat batas, 
sudah kebablasan. Sebagian lain berpendapat bahwa anti korupsi terkesan "tebang 
pilih", Atau manifestasi “Garis Politik” (Menyingkirkan Lawan Politik). 
Sebagian orang beranggapan secara sederhana, gencarnya tindakan anti korupsi, 
hanyalah karena generasi pemimpin saat ini ingin membangun citra "Prestasi 
Hebat" untuk dirinya. Tentu saja, lebih banyak orang tetap berpandangan secara 
tradisional, yaitu berpendapat bahwa anti korupsi yang dilakukan PKT bertujuan 
menjaga eksistensi dan perkembangan PKT itu sendiri.



Namun, semua pandangan ini mengabaikan tujuan sebenarnya di balik anti-korupsi 
PKT, yaitu sebagai Partai Berkuasa dalam mengejar cita-cita akan modernitas 
yang diyakini sendiri sangat keras dan melelahkan. Masalah masa kini bukan 
sekedar masalah eksistensi dan perkembangan PKT, tapi lebih dari itu adalah 
masalah karakteristik PKT. Mengejaran modernitas menunjukkan PKT harus menjawab 
serangkaian pertanyaan tentang era baru, termasuk partai macam apa PKT itu? 
Berlandaskan apa dalam memerintah? Bagaimana mendapatkan legitimasi? Bagaimana 
memerintah dan lain sebagainya.



Bagaimana menjelaskan modernitas yg diyakini oleh PKT? Persoalan ini harus 
memposisikan PKT pada Sejarah Modern yg menginspirasi Pergerakan Politik. 
Sebagai suatu organisasi politik modern, organisasi semacam PKT selamanya belum 
pernah lahir dalam sejarah Tiongkok, Dia adalah Produk dari Inspirasi Gerakan 
Politik Tiongkok modern.



Ada konsensus di antara para ilmuwan Tiongkok dan mancanegara, bahwa perbedaan 
terbesar antara sistem politik tradisional dan sistem politik modern di 
Tiongkok adalah, bahwa tujuan sistem politik tradisional untuk Mempertahankan 
Status Quo, dan tujuan sistem politik modern adalah untuk kemajuan. Sistem 
tradisional juga bukan tanpa perubahan, namun sasaran perubahannya adalah untuk 
Mempertahankan Status Quo,  yaitu mencegah terjadinya perubahan revolusioner.



Filsuf Jerman Hegel menganggap bahwa Tiongkok tidak memiliki sejarah. Memang, 
selama ribuan tahun dari Kaisar Qin Shi Huangti sampai pada masa akhir dinasti 
Qing (Mancuria), Di Tiongkok hanya ada Pergantian Dinasti, tidak ada Perubahan 
Sistem yg Mendasar. Orang bisa mengatakan bahwa inilah Vitalitas Sistem Politik 
Tradisional, namun juga bisa dikatakan sebagai Langkanya Perubahan Struktural 
selama ribuan tahun.



Sistem politik saat ini sudah jauh berbeda, terutama disebabkan oleh dalam 
proses Inspirasi Pergerakan telah ditegakkan dengan kokoh Konsep Pandangan 
Progresif. Dari revolusi Sun Yat Sen ke Kuomintangnya Chiang Kai Sek hingga 
revolusi Partai Komunis, beberapa generasi orang Tiongkok senantiasa mencari 
perubahan, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin mengubah Tiongkok.



Dalam Inspirasi Pergerakan Modern, orang-orang melakukan serangan dan kritik 
yang paling tajam dan radikal terhadap ajaran etika pribadi Confusianisme, yang 
mempertahankan system lama. Namun, walau ajaran masa lalu sudah tidak relevan 
lagi, tapi kekuatan politik dari berbagai aliran tidak pernah mencapai 
kesepakatan tentang bagaimana ujud masa depan. Tiongkok membutuhkan perubahan 
yang bagaimana, tentang bagaimana mengejar perubahan, setiap kelompok memiliki 
pandangan yang berbeda. 



PKT memilih mengejar perubahan yang paling radikal dan mendalam, revolusi 
sosialis adalah yang dikejar oleh PKT sejak pendiriannya, dengan revolusi untuk 
menumbangkan rezim kekuasaan lama, secara tuntas mengubah masyarakat lama, 
membangun sebuah system baru.  



Setelah pertengahan tahun sembilan puluhan abad yang lalu, seiring dengan 
berlalunya generasi tua para tokoh politik pelaku revolusi, PKT memulai sebuah 
transformasi besar, yaitu transformasi dari semula “Partai Revolusioner” 
menjadi “Partai Berkuasa”, arah transformasi ini sangat jelas, tetapi terhadap 
“Apakah itu Partai Berkuasa”, semua orang tidaklah begitu jelas.     



Dapat dikatakan bahwa sejak awal transformasi, baik pada tataran teori maupun 
tataran praktek, petinggi PKT senantiasa berada dalam posisi Proses Pencarian, 
Penjelajahan, Mengexplorasi terhadap masalah tersebut. Tetapi ada suatu hal 
yang sangat jelas,  apabila suatu partai hanya demi berkuasa asal berkuasa, 
niscaya partai berkuasa tersebut akan menuju kemerosotan. Ini sangat jelas 
tercermin pada sejarah Partai Komunis Uni Soviet dan Partai-Partai Komunis 
Eropa Timur. Juga tercermin pada sejarah Partai-Partai Politik di dunia Barat 
yang mendapat Justifikasi Kekuasaan berdasar perolehan suara dalam pemilihan. 



Tantangan yang dihadapi PKT saat ini adalah bagaimana dalam proses transformasi 
menuju Partai Berkuasa yang Modern tanpa kehilangan sifat "Revolusioner". 
Setelah menjadi Partai Berkuasa, dalam arti tradisional melanjutkan pencerahan 
dan revolusi jelas tidak bisa diadopsi lagi. Bagaimanapun, revolusi adalah 
untuk menggulingkan sistem lama, Sebaliknya, berkuasa adalah mempertahankan  
sistem  birokrasi yang dibangun sendiri dan sedang berlangsung saat ini.



Setelah tahun 1949, Mao Zedong, yang dipengaruhi oleh Inspirasi Pemikiran 
Radikal, masih ingin "Melanjutkan Revolusi", berarti akan menggulingkan sistem 
birokrasi yang dibangunnya sendiri, paling tidak untuk menghindari system 
birokrasi kembali pada karakter sistem lama, ini menjadi berseberangan dengan 
sifat partai yang berkuasa, dan ini telah menimbulkan konsekwensi terjadinya 
malapetaka dalam tubuh partai, juga menciptakan “Pemerataan Kemiskinan” padahal 
justru itu adalah target yg akan dimusnahkan oleh revolusi yg dipimpin oleh Mao 
ZeDong.



Setelah Mao Zedong, PKT, yang dipimpin oleh Deng XiaoPing, meredefinisikan 
Modernitas PKT, yaitu menyelesaikan masalah "Pemerataan Kemiskinan" yang 
menjadi sasaran awal revolusi.  Namun, di era Deng XiaoPing, sementara 
meRedefinisikan Modernitas PKT, juga berusaha dengan keras mempertahankan atau 
melestarikan "Sifat Revolusioner" Partai Berkuasa. "Empat Cetak Kader" yang 
dipromosikan oleh Deng Xiaoping adalah contoh yang bagus, yaitu “Cetak Kader 
Revolusioner”, “Cetak Kader Muda”, “Cetak Kader Intelektual”, dan “Cetak Kader 
Profesional”. “Revolusionerisasi” adalah Hal Terpenting, hanya dengan 
“Revolusionerisasi” dapat mendorong Partai Berkuasa mencapai misi baru yang 
dirancang, sekaligus mewujudkan Modernitas Partai.  



Karena modernitas di era Deng Xiaoping terutama ditentukan oleh Modernitas 
Ekonomi Negara, maka Modernitas Partai Berkuasa tidak dapat terhindar dari 
Pengaruh Modernitas Ekonomi Negara. Di Ranah Ekonomi, RRT dengan cepat 
terbentuk Doktrin PDB. Dalam hal Pembangunan Ekonomi, jasa doktrin PDB tidak 
dapat dipungkiri, dalam beberapa dekade Tiongkok telah secara tuntas mengubah 
wajah “Sosialisme yang Miskin”.



KECENDERUNGAN SERIUS KOMERSIALISASI DALAM TUBUH PARTAI BERKUASA



Hingga sebelum Konggres ke-18 PKT, yaitu pada tahun 2013, Tiongkok telah 
menjadi Entitas Ekonomi terbesar kedua di dunia, negara perdagangan terbesar di 
dunia, dan bahkan pendapatan nasional per kapita dari tahun 1980-an masih di 
bawah 300 US$ melonjak menjadi 8.000 US$ pada tahun 2013, lebih penting lagi, 
Tiongkok telah membuat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan absolut, 
prestasi ini oleh masyarakat internasional dipandang sebagai "Keajaiban 
Tiongkok" dalam sejarah ekonomi dunia.



Namun doktrin PDB juga membawa pengaruh mendalam pada Partai Berkuasa sebagai 
organisasi itu sendiri, mempengaruhi perilaku anggota, kader-kader partai. 
Singkat kata, Partai Berkuasa itu sendiri telah terkomersialisasi secara serius 
dan kehilangan tradisi sifat "Kerevolusioneran"nya.



Sepenggal ucapan Xi JinPing di depan Konferensi Paripurna ke-6 Konggres ke-18 
PKT, memberikan diskripsi yang sangat intuitif tentang kondisi Partai Berkuasa 
yang sangat suram. Xi Jinping berkata : 

“Sebagian anggota dan kader2 partai, termasuk di antaranya kader teras, tidak 
memiliki cukup idealisme keyakinan yang kokoh, tidak setia dan jujur pada 
partai, disiplin kendor, meninggalkan massa, semena-mena, penuh kepalsuan dan 
penipuan, tidak kenal malu, tidak berkarya, individualisme, decentralisme, 
liberalisme, "Good Person"isme (tidak menyalahkan siapapun), Sectarism, 
Premanisme, Mamonisme (Pemuja Uang) ditemukan ditingkat tertentu. Formalisme, 
Birokratisme, Hedonisme dan perilaku bermewah-mewah, penghamburan sangat 
menonjol, Nipotisme, Mencari Jabatan, Mengejar Jabatan Jual Beli Jabatan, 
Fenomena Suap Pemilih deni Suara meski berulangkali dilarang namun tidak pernah 
berhenti, Menyalah Gunakan Kekuasaan, Korupsi Terima Suap, Dekadensi, Fenomena 
Pelanggaran Disiplin Tumbuh Subur dan Menjalar. Khusus sebagian kecil di antara 
Kader Teras terjadi Pembengkakan Ambisi Politik, Mabok dalam Nafsu Jabatan, 
Bermuka Dua, Memanfaatkan Partai untuk Kepentongan Pribadi, Koncoisme, Geng & 
Kelompok, Berupaya Merebut Kekuasaan, Jabatan dan lain-lain Kegiatan Konspirsi 
Politik.”



Yang dikatakan di sini bukan saja bentuk perilaku pribadi anggota Partai 
Berkuasa, juga ada perilaku secara kolektif, baik ditingkat daerah  maupun 
ditingkat pusat. Di sini melibatkan Faksi, Oligarki Politik, Dekaden Kolektif 
dan lain sebagainya, dan itu semuanya sudah bukan lagi dapat diartikan dalam 
Ruang Lingkup Pengertian "Korupsi".



Lagi pula, Komersialisasi yang lebih menonjol terjadi pada organisasi lingkar 
luar Partai Berkuasa, terutama perubahan yang terjadi pada Liga Pemuda Komunis, 
Xi Jinping melakukan kritik yang  pedas dan serius terhadap Liga Pemuda 
Komunis, bahwa Liga Pemuda sudah menjadi organisasi bersifat “adminisasi, 
birokratisasi, aristokrasi, intertainisasi”, fenomena ini tidak hanya terjadi 
pada Liga Pemuda Komunis, tapi juda terjadi pada hampir di semua organisasi 
yang struktural terafiliasi dengan PKT.



Tidak perduli fenomena yang muncul dalam tubuh PKT, atau fenomena yang muncul 
pada Liga Pemuda Komunis, barangkali ini adalah fenomena umum masyarakat bisnis 
modern, atau katakanlah fenomena ini juga mengandung modernitas tidak perduli 
orang suka atau tidak suka, tapi bagaimanapun juga modernitas semacam inilah 
yang harus berusaha sekuat tenaga dihindari oleh PKT sebagai Partai Berkuasa, 
jika PKT mengakomodasi moderniitas semacam ini, kemunduran dan kemerosotan PKT 
tidak akan terelakan.



Oleh karena itu, PKT perlu melalui me"Redefinisi"kan misinya sendiri, 
membangkitkan ulang Modernitas Diri Sendiri. Seperti tersebut di atas, Visi Mao 
Zedong adalah melalui “Melanjutkan Revolusi” Mempertahankan Modernitas Partai 
Berkuasa, namun experimennya tidak berhasil. Modenisasi Ekonomi Negara yang 
dicanangkan Deng Xioping  telah berhasil, namun akibatnya dalam tubah Partai 
Berkuasa juga muncul Masalah Besar.



Sejak Kongres Nasional ke-18, melalui gerakan anti korupsi skala besar-besaran 
Partai Berkuasa "Mendobrak" sifat Komersialisasi Partai, dan me"Rdefinisi"kan 
Modernitas Partai melalui pembentukan System dan Mekanisme Kelembagaan Baru 
untuk mengatur Perilaku Organisasi Partai, Anggota dan Kader Partai..



Sejak zaman modern, konsep "Partai Politik" diperkenalkan dari Dunia Barat ke 
Tiongkok, Tetapi kemudian maknanya telah mengalami perubahan sangat besar sejak 
diperkenalan.



Partai politik adalah batang tubuh aksi politik, tindakannya bukan sekedar 
untuk mempertahan eksistensi dan berkembang, namun juga untuk memimpin 
perkembangan negara disegala aspek. Artinya, Modernitas Partai Politik tidak 
didefinisikan dan ditentukan secara pasif oleh perubahan lingkungan, 
sebaliknya, Partai Berkuasa harus melalui Tindakan Proaktif menentukan 
Modernitas diri sendiri, mengejar Modernitas diri sendiri. Dengan melalui 
memperbaharui dan menentukan modernitasnya secara terus menerus, Partai 
Berkuasa baru dapat memperbarui diri, sekaligus tetap mempertahankan 
Kepemimpinan dalam Misi Pembangunan Masyarakat.



Translate 31 oktober 2017.


Kirim email ke