Perlu diluruskan, saya bukan sedang menawarkan penanaman 

 modal asing sebagai alternatif, tetapi sedang menyampaikan 

 keadaan yang terjadi, sudah berlangsung sejak dibukanya 
 penanaman modal asing oleh rezim Orba. Jadi, modal asing 

 sebagai alternatif itu bukan lagi untuk disetujui atau ditolak, 

 lha sudah terjadi kok. 


 

 Penyebab dari timbulnya keadaan tersebut tidak lain ya karena 

 Indonesia dibuat berantakan supaya membuka lapangan kerja 
 yang memberi pemodal asing kesempatan untuk mengeruk 

 keuntungan, sambil diiming-iming: nanti Indonesia bisa berdikari. 

 

 Tentu saja ini menggelikan. Mana bisa Indonesia berdikari kalau 

 menegakkan bahasanya saja dipersoalkan. Ini kan serangan langsung 

 terhadap tuntutan Rakyat tentang alih teknologi melalui penanaman 

 modal asing. Negara lain mah silakan membahas alih teknologi saat 

 berunding dengan investor seperti kata Anda. Di Indonesia, alih 

 teknologi adalah tuntutan Rakyat yang tercantum dalam UU 

 Penanaman Modal Asing tahun 1967. Dan, bahasa Indonesia adalah 

 bahasa pengantar yang tepat untuk mengalihkan teknologi kepada 

 orang Indonesia. Inilah hak Indonesia untuk melindungi kepentingannya. 

 Merintangi hak ini ya berarti investasi asing itu memang cuma 

 untuk keuntungan pemodal asing. Omong kosong dengan perbaikan 

 ekonomi. Samasekali tak ada hubungannya antara investasi asing 

 dan perbaikan ekonomi nasional. Lantas, bagaimana bisa berdikari 

 sedangkan perbaikan saja tidak ada. 

 

 Seperti saya bilang di posting yang lain, saya tetap hargai posisi Anda 

 untuk berdiri di pihak investor RRC. Dan sebaiknya Anda tetap di situ 

 karena telah melupakan sejarah penolakan modal asing di Indonesia 

 sehingga memahami persoalan ini secara terbalik; investor asing dulu 

 baru berdikari. Dari sisi mana pun jelas ini berlawanan dengan 
character building dan Trisakti.



--- sadar@... wrote:
 
 Bung Ajeg, ... saya sepenuhnya SETUJUUU dengan masuknya modal-asing sebagai 
alternatif untuk mendorong maju ekonomi-nasional lebih cepat, dan tentunya 
harus lebih utamakan KEPENTINGAN RAKYAT banyak, khususnya membuka lapangan 
kerja dan melalui masuknya pengusaha asing itu untuk belajar dan mendapatkan 
teknologi canggih dan manajemen canggih, ... untuk kemudian bisa BERDIKARI!
 

 Hanya saja ada perbedaan bagaimana cara menempuhnya, saya bisa menyetujui 
pemikiran Jokowi mencabut ketentuan TKA wajib menguasai bhs. Indonesia, karena 
itu BISA MENGHAMBAT investasi modal di Indonesia dan dengan demikian jadi 
memperlambat semua proses mendorong maju ekonomi nasional dan meningkatkan 
kesejahteraan rakyat banyak! Dalam kata lain, sebaiknya warga Indonesia sendiri 
menyiapkan TENAGA yang bisa kuasai bhs. Tionghoa, dan kenyataan itulah yang 
terjadi! Bukankah kenyataan sudah banyak warga belajar bhs. Th., bahkan lebih 
banyak warga yang dinamakan “pribumi”! Kenyataan tidak sedikit gadis-gadis 
berjilbab juga belajar bhs. Th! Usaha Dahlan Iskan dengan yayasan yang 
dibentuknya, Indonesia Tionghoa Culture Center. ITCC. Tahun lalu ITCC kirim 350 
calon mahasiswa untuk kuliah di Tiongkok. Tiap tahun begitu. Sudah tujuh tahun 
lamanya. Dan masih akan terus. Total sudah lebih 1.000 yang kuliah di Tiongkok 
atas beasiswa yang dikoordinasikan ITCC. Begitu kata Dahlan Iskan. Karena 
mereka mengerti, dgn menguasai bhs. Th, mereka akan mendapatk ksempatan bekerja 
lebih baik dan membuka jalan lebih lapang bagi hari-depan mereka, ... Yaaa, 
seharusnya begitu, lebih baik dan akan lebih cepat menuntut pada diri sendiri 
sesuai kebutuhan, daripada menuntut orang lain untuk kepentingan kita sendiri!
 

 Saya perhatikan begitu juga yang TERJADI di RRT, bukan menuntut modal-asing 
masuk dengan membawa pekerja teknokrat dan buruh nya wajib menguasai bahasa 
Tionghoa, TIDAK! Tapi sebaliknya pemerintah TIongkok sendiri yang menuntut 
warga nya, digenjot dan dituntut harus belajar berbagai macam bhs. Asing, 
khususnya Inggris, Jerman, Perancis, Jepang dengan lebih baik!
 

 Sedang keharusan pengusaha-asing itu menurunkan teknologi canggih pada 
teknokrat setempat, ... yang saya ketahui, usaha itu harus dilakukan diawal 
perundingan penanaman modal. Tentu ada yang bersedia ada juga yang tidak mau 
menyerahkan keahlian nya pada orang lain. Perusahaan AS yang biasa sulit bahkan 
tidak mau menyerahkan rahasia produksi mereka, ... pihak Tiongkok lebih banyak 
dapatkan bocoran dari pengusaha Taiwan dan teknologi canggih katanya didapatkan 
dari pengusaha Israel, ... itu saluran yang resmi. Tapi, yang lebih banyak 
teknologi canggih dipelajari dari hasil menjiplak atau “mencuri” dengan berani 
mengembangkan kreatifitas mereka sendiri, mengembangkan hasil yang berbeda dan 
lebih baik, ... Apalagi setelah digenjot Trump tidak lagi menjual Chip canggih 
pada Zhong Hing, ZTE, tentu akan memaksa teknologi RRT untuk BERDIKARI penuh, 
tidak loagi bersandar pada AS! Begitulah ada sementara orang menyatakan, dalam 
hal ini Huawei tidak mengalami pukulan serius dari sikap Trump itu! Huawei 
sudah siap untuk mempercepat diluncurkannya smart phone G-5 yg sedang dalam 
percobaan, ujian itu, ...
 

 Salam,

 ChanCT 

 From: ajeg
 


 
 
 Setiap negara tentu punya hak untuk melindungi kepentingannya. 
 Begitu juga Indonesia yang masih bergulat dengan masalah 
 lapangan kerja bagi Rakyatnya. Ketika penanaman modal asing 
 dijadikan alternatif, maka syarat mutlak yang dituntut masyarakat 
 adalah terjadinya alih teknologi. Itu sebabnya faktor bahasa Indonesia 
 menjadi penting sebagai alat pengantar. Terbukti, akibat tidak tegaknya 
 aturan soal bahasa, alih teknologi pun tersendat sampai sekarang. 
 Apa yang terjadi di lapangan banyak mirip dengan praktek tanam paksa,
 si orang asing blabla melalui mandor dan tukang pukulnya sementara
 si pribumi hanya melaksanakan perintah, kerja-kerja-kerja.
 

 Ini sejarah, dan sejarah ini berulang lagi dengan gaya baru. Jadi, meributkan 
 hak Indonesia dalam melindungi kepentingan alih teknologi melalui 
 investasi asing ya sama saja memunjukkan kebutaannya pada sejarah, 
 tidak peduli 'jasmerah'. Wajar kalau sulit menjelaskan hubungan antara 
 investasi asing dan perbaikan ekonomi nasional.

 --- sadar@... wrote:

 
 Menurut saya sudah betul, keharusan menguasai bhs. Indonesia bagi TKA yang 
bekerja di Indonesia, dicabut! Bukankah mereka itu tugas utamanya BEKERJA untuk 
menjamin kelancaran jalannya pembangunan dan proses produksi, saja. Dan, ... 
mereka umumnya TKA sementara saja, setelah jalan lancar, katakanlah 1-2 tahun 
mereka akan kembali kenegara asal! Kalau diberi syarat keharusan menguasai bhs. 
Indonesia dengan baik, tentu akan menghambat kecepatan investasi modal di 
Indonesia.
 

 Sedang untuk menjamin kepentingan rakyat Indonesia sendiri, yang lebih 
PENTING, menjamin penggunaan TENAGA KERJA lokal tidak terganggu dengan masuk 
dan digunakannya TKA di perusahaan itu! Bagi Pemerintah yang berkuasa, yaa 
harus lebih TEGAS dalam mengeluarkan IJIN KERJA bagi TKA dan memberikan 
pengawasan lebih ketat bagi TKA liar yang TIDAK ada IJIN KERJA bekerja di 
perusahaan asing itu!
 

 Juga TIDAK KALAH PENTING, yang perlu masyarakat TIDAK terus dibakar dan 
termakan HOAX yg hanya untuk menyudutkan makin derasnya modal Tiongkok masuk 
Indonesia, sementarta modal AS, Jepang dll. jadi makin terdesak. Jadi, tidak 
aneh sementara pejabat yg selama ini diuntungkan dan menjadi gendut bersandar 
pada modal AS, Jepang mengeluarkan HOAX, Indonesia segera akan dikuasai 
Tiongkok, 10 juta BURUH Tiongkok akan membanjiri Indonesia, ... reklamasi 
pulau-pulau diteluk Jakarta itulah dibangun untuk menampung warga Tiongkok yang 
masuk!
 

 Padahal kenyataan, “Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah TKA di 
akhir tahun lalu mencapai 126 ribu orang atau meningkat 69,85 persen 
dibandingkan akhir 2016 sebanyak 74.813 orang. Mayoritas pekerja tersebut 
berasal dari China.” Mayoritas buruh asal China disebut bekerja di perusahaan 
infrastruktur dan pertambangan, khususnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga 
Uap (PLTU) dan smelter.. (CNN Indonesia18/04/2018 ) Atau katakanlah peningkatan 
TKA dibanding tahun 2016 itu seluruhnya lebih 74ribu itu dari Tiongkok, artinya 
TKA dari TIongkok yang bekerja di Indonesia juga tidak sampai 100 ribu! Apa yg 
bisa dikatakan Indonesia sudah dibanjiri buruh Tiongkok, merebut mangkok 
pekerja lokal??? Lha, TKI yang bekerja di HK saja sudah lebih dari 160 ribu, 
... dari jumlah penduduk HK yang hanya sekitar 7-8juta saja, juga gak ada orang 
yang bilang HK dikuasai Indonesia. Bagi Indonesia yang penduduknya lebih 250 
juta apalah artinya TKA yang berjumlah 100 ribu itu, ...!
 


 Salam,
 ChanCT
  
 
 From: ajeg
 

 Hanya dalam tempo 5 bulan, pernyataan Menaker pada Januari 2015 itu 
 dirobah atas permintaan Jokowi.
 

 -

 

 Alasan Menaker Hapus Syarat TKA Bisa Berbahasa Indonesia
 

 Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dakhiri menegaskan, penghapusan syarat 

 bisa berbahasa bagi tenaga kerja asing (TKA) supaya investasi tidak terhambat. 


 -
 

 Ternyata Aturan Pekerja Asing Wajib Bahasa Indonesia Sudah Dicabut
 

 Neneng Zubaidah
 Minggu, 23 Agustus 2015 - 15:41 WIB
 

 JAKARTA - Pemerintah ternyata telah merevisi Peraturan Menteri Tenaga Kerja 
(Permenaker) Nomor 12 Tahun 2013 yang isinya mengatur tentang syarat bagi 
pekerja asing memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. 

Peraturan tersebut direvisi dengan Permenaker Nomor 16 Tahun 2015 pada Juni 
lalu. Dengan demikian, pekerja asing tidak lagi diwajibkan untuk memiliki 
kemampuan berbahasa Indonesia. 
 
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengakui penghapusan syarat 
yang merupakan permintaan Presiden Jokowi itu sudah diakomodasi dengan 
diterbitkan Permenaker Nomor 16/2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja 
Asing. 

Dalam Permenaker baru itu tidak ada aturan yang mewajibkan tenaga kerja asing 
(TKA) memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. 

"Arahan Presiden itu sudah ditindaklanjuti dengan Permenaker Nomor 16 yang 
disahkan oleh Menkumham 29 Juni kemarin. Dalam regulasi itu TKA tidak lagi 
dikenakan syarat berbahasa Indonesia," katanya melalui pesan singkat, Minggu 
(23/8/2015).

Menurut Hanif, seluruh pihak tidak perlu khawatir penghapusan syarat tersebut 
akanakan mengancam pekerja dalam negeri.  "Jangan khawatir," ujarnya. 

Dia mengungkapkan masih banyak syarat  wajib dalam Permenaker 16/2015 yang 
menjadi instrumen perlindungan pekerja dalam negeri. 

Dalam Pasal 38 Permenaker 16/2015 disebutkan setiap pemberi kerja bagi tenaga 
kerja asing (TKA) wajib memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA).

Sementara untuk mendapatkan IMTA, pemberi kerja wajib mengajukan permohonan 
secara online dengan mengunggah bukti pembayaran Dana Kompensasi Penggunaan TKA 
(DKP-TKA), keputusan pengesahan Rencana Penggunaan TKA (RPTKA), paspor pekerja 
asing, foto, surat penunjukan TKI pendamping.

Selain itu, TKI diwajibkan memiliki pendidikan sesuai dengan syarat jabatan 
yang akan diduduki oleh pekerja asing, memiliki sertifikat kompetensi atau 
pengalaman kerja sesuai jabatan minimal lima tahun, draft perjanjian kerja atau 
perjanjian melakukan pekerjaan, bukti polis asuransi di perusahaan asuransi 
berbadan hukum Indonesia dan rekomendasi dari instansi yang berwenang apabila 
diperlukan untuk TKA yang akan dipekerjakan oleh pemberi kerja TKA.

Hanif mengakui, pemerintah dalam hal ini hanya ingin mempermudah pelayanan bagi 
TKA dengan posedur yang sederhana dan cepat. 

Hanif menjelaskan permintaan Presiden itu sebetulnya hanya ingin memberi contoh 
tentang deregulasi yang diperlukan untuk menciptakan iklim investasi yang 
kondusif. Di antaranya soal tenaga kerja asing yang terkena syarat bahasa 
Indonesia itu. 

Dia mengatakan, pelayanan terkait tenaga kerja asing tidak manual lagi 
melainkan secara online.  Menurut dia, sistem pelayanan TKA sudah diperbaiki 
dan memudahkan pelayanan. Hanif mengingatkan seluruh stakeholder untuk 
benar-benar mematuhi regulasi yang ada.
 

 "Jangan sampai ada TKA yang bekerja tanpa izin lagi. Kalau sudah dimudahkan 
tapi ada yang masih melanggar itu kebangetan namanya," ungkapnya.

Informasi tentang penghapusan syarat memiliki kemampuan berbahasa Indonesia 
bagi pekerja asing kali pertama terungkap dari pernyataan Sekretaris Kabinet 
(Seskab) Pramono Anung pada Jumat 21 Agustus 2015. 

Kebijakan yang diduga baru rencana itu telah mengundang kritik dari berbagai 
pihak. Pasalnya, kebijakan itu dianggap dapat mengancam kesempatan kerja bagi 
tenaga kerja lokal.
 

 (dam)
 

 

From: ajeg

 Menteri: Pekerja Asing Wajib Bisa Berbahasa Indonesia 

 Jumat 02 January 2015 16:39 WIB
 Red: Didi Purwadi
  
 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dhakiri, 
mengatakan bahwa pihaknya segera memgimplementasikan peraturan pemerintah 
terkait tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia diwajibkan menguasai 
Bahasa Indonesia.
 

 "Kita harapkan bulan Februari revisi Pemenaker selesai dan uji kemampuan 
Bahasa Indonesia bisa segera diimplementasikan bagi para TKA (tenaga kerja 
asing) yang ingin bekerja di Indonesia," kata M Hanif Dhakiri di Kantor 
Kemnaker, Jakarta, Jumat.
 

 Saat ini, draft revisi Permenakertrans No. 12 Tahun 2013 Tentang Tata Cara 
Penggunaan Tenaga Kerja Asing sedang berada di Kementerian Hukum dan HAM untuk 
dilakukan harmonisasi dengan peraturan-peraturan lainnya.
 

 Menaker mengatakan rancangan revisi Permenaker itu terus dibahas secara 
intensif dengan melibatkan pihak internal Kemnaker dan instansi teknis terkait 
untuk memperketat arus masuk TKA ke Indonesia.
 

 Sedangkan materi uji kemampuan Bahasa Indonesia dibahas bersama oleh Ditjen 
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Kemnaker dengan Lembaga 
Pengembangan Bahasa Universitas Indonesia yang akan ditetapkan berdasarkan 
level kemampuan bahasa Indonesia dengan menggunakan skor tes TOIFL (Test of 
Indonesian as Foreign Language).
 

 Sumber : Antara
 
















 



Kirim email ke