https://www.antaranews.com/berita/704735/presiden-jokowi-protes-gambar-
kampanye-pki-memuat-dirinya
Presiden Jokowi protes gambar
kampanye PKI memuat dirinya
Rabu, 25 April 2018 20:11 WIB
Presiden Joko Widodo menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Badan
Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) di Asrama Haji
Jakarta, Rabu (25/4/2018). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Lihat gambar ini waktu ketua umum PKI 1955 kampanye untuk pemilu, DN
Aidit pidato, saya ada di bawahnya coba, saya belum lahir saja sudah
digitu-gitukan."
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo memprotes gambar kampanye
Partai Komunis Indonesia pada 1955 yang memuat gambar sosok pria yang
mirip dirinya.
"Lihat gambar ini waktu ketua umum PKI 1955 kampanye untuk pemilu, DN
Aidit pidato, saya ada di bawahnya coba, saya belum lahir saja sudah
digitu-gitukan," kata Presiden Joko Widodo dalam Musyawarah Nasional
(Munas) BKPRMI di Asrama Haji Jakarta, Rabu.
Gambar yang dimaksud Presiden memperlihatkan Ketua Umum PKI DN Aidit
sedang berpidato di hadapan massa pada kampanye 1955 dan di bawah podium
DN Aidit ada sosok dengan kemeja lengan panjang menghadap ke massa yang
tubuhnya kurus dan dari samping tampak mirip Presiden Joko Widodo.
"Ini fitnah di media sosial sudah lebih dari empat tahun. Ini menuduh
Presiden Jokowi itu PKI coba, saya lahir tahun 1961 PKI dibubarkan tahun
1965, saya baru umur 3,5-4 tahun, masa ada PKI balita? Logikanya gak
masuk," ungkap Presiden.
Presiden menilai bahwa foto itu menyatukan wajah dan tubuh dari dua
objek yang berbeda.
"Logikanya tidak masuk, lahir saja belum sudah di bawahnya mimbar, tapi
memang mukanya beda, badan saya ditaruh di situ. Anak-anak muda sekarang
pinter-pinter," tambah Presiden.
Ia juga berharap agar BKPRMI melakukan kegiatan yang membangun
ketaqwaan, bukan sebaliknya menyebar fitnah.
"Gambar-gambar seperti ini tidak hanya 1,2,3. Apa masih diteruskan
cara-cara seperti ini? Apa basis masjid-masjid yang kita miliki
membangun ketaqwaan, akhlak, iman kita dan bukan justru menyodorkan
gambar yang tadi seperti saya sampaikan?" ungkap Presiden.
Presiden juga menegaskan agar energi masyarakat jangan sampai terbuang
hanya untuk mengurus fitnah, tapi harus difokuskan untuk membangun negara.
"Saya sampaikan kritik silakan beri masukan, saya selalu terbuka, tapi
bedakan kritik dengan mencela, kritik dengan fitnah, kritik dengan
memaki, itu berbeda, kritik itu berbasis data dan memberikan solusi,"
kata Presiden.
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018