*Cetak biru pendidikan nasional mendesak*

 Rabu, 2 Mei 2018 06:34 WIB

*Ilustrasi aktivitas guru di sekolah. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)*

*... agar bisa menjadi pedoman, Agar bisa menjadi pedoman, tolok ukur dan
petunjuk arah dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pendidikan secara
nasional...*

Jakarta (ANTARA News)- Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia
(FGSI), Heru Purnomo, mengatakan, sudah waktunya bagi pemerintah untuk
membuat cetak biru pendidikan secara nasional yang melibatkan seluruh
komponen pendidikan.

"Cetak biru pendidikan nasional sangat mendesak. Tujuannya agar bisa
menjadi pedoman, Agar bisa menjadi pedoman, tolok ukur dan petunjuk arah
dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pendidikan secara nasional," ujar
Heru di Jakarta, Rabu.

Mlelaui cetak biru pendidikan tersebut, pembangunan pendidikan nasional tak
lagi dilakukan secara parsial dan sporadis tetapi lebih terencana,
komprehensif dan melibatkan semua pihak.

Dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh
setiap 2 Mei, Heru juga meminta pemerintah untuk Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) maupun Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
yang tak bermutu, agar guru yang dihasilkan pun berkompeten.

"Kurikulum di LPTK mesti disesuaikan dengan perkembangan zaman dan
teknologi. Begitu juga dengan kurikulum yang memuat pendidikan ramah anak
dan kemampuan berpikir kritis," tambah dia.

Heru juga menambahkan guru mesti dibekali dengan pendidikan ramah anak,
memahami UU Perlindungan Anak dan guru mesti dibekali kompetensi sosial dan
kepribadian yang matang.

Menurut dia, sudah waktunya dibuat peraturan setingkat Perpres mengenai
perlindungan guru di sekolah. Kemudian peraturan setingkat tentang
Penanganan kekerasan di sekolah.

"Untuk guru honorer adalah persoalan mendesak segera dipenuhi. Solusi yang
bisa dilakukan pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan guru,
memberikan insentif bulanan bahkan mengangkat mereka menjadi pegawai negeri
sipil, sesuai kualifikasi dan peraturan," imbuh dia.

FSGI menambahkan masih banyak guru yang statusnya honorer, dengan honor
sebesar Rp35.000 per bulan, seperti yang dialami Imron Husain seorang guru
dari Sumenep, Madura. Begitu nasib seorang guru dari NTB yang mendapatkan
honor sebesar Rp50.000 per bulan. Oleh karena itu, sudah seharusnya
pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru honorer.

Pewarta: Indriani
Editor: Ade P Marboen

Kirim email ke