http://www.sinarharapan.co/hukumdanpolitik/read/1276/wapres_minta_polisi_akrab_dengan_pemuka_agama
____
Wapres Minta Polisi Akrab dengan Pemuka Agama

Jumat , 04 Mei 2018 | 15:10

[image: Wapres Minta Polisi Akrab dengan Pemuka Agama] Sumber Foto Dok/Ist
Jusuf Kalla


JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) meminta jajaran Polri
untuk membina dan memperat hubungan dengan para pemuka agama, khususnya di
daerah, untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme.

"Kita (Pemerintah) dan juga Kepolisian harus juga memahami prinsip-prinsip
agama yang baik dan juga berhubungan dengan pimpinan-pimpinan keagamaan,
supaya jangan pimpinan-pimpinan keagamaan itu justru membuat masyarakatnya
menjadi radikal," kata Wapres Kalla saat memberikan pengarahan Apel
Kasatwil 2018 di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Jakarta, Jumat
(4/5/2018).

Wapres mengatakan konflik sosial berdasarkan perbedaan agama mudah terjadi
karena konflik tersebut bisa dengan mudah mendapatkan massa dan hampir
tidak ada yang bersikap netral. Konflik semacam itu pernah terjadi di Ambon
pada 1999 dan di Poso pada 1998 hingga 2001.

"Semua orang, apabila masuk ke ranah agama, itu tidak ada yang netral.
Semua pasti berpihak ke salah satu, maka terjadilah konflik seperti itu di
dua daerah itu (Ambon dan Poso), yang kemudian menimbulkan korban," katanya.

Kekerasan antarumat beragama terjadi akibat tidak adanya paham ajaran agama
menyejukkan yang diterima pelaku kekerasan tersebut. Oleh karena itu, peran
para pemuka agama dalam hal ini sangat diperlukan, untuk memberikan
pemahaman hidup beragama secara damai.

"Kenapa terjadi korban yang luar biasa apabila terjadi konflik agama?
Karena ada pikiran yang kadang-kadang disodorkan oleh pimpinan
masing-masing kelompok, bahwa apabila membunuh lawan, membakar Masjid atau
Gereja, maka dia bisa masuk surga. Itu konsep jihad yang keliru," ujarnya.

Pengalaman Jusuf Kalla dalam menyelesaikan konflik di Ambon dan Poso
menemukan paham jihad yang salah di kalangan para pelaku kekerasan
antarumat beragama. Ketika di Ambon, Kalla bertanya kepada pelaku kekerasan
dan mendapatkan jawaban bahwa perbuatan mereka tersebut didasarkan atas
keinginan jihad yang keliru.

"Orang bunuh diri itu untuk mencari surga, dia ingin masuk surga secara
tepat. Di Ambon, saya ketemu dengan mereka; mereka ingin masuk surga lewat
jalan tol, segera, dan itu terjadi," dia menambahkan.(*ant*)

Kirim email ke