Benar, itulah yang terjadi, kesewenangan atas nama negara. Masyarakat
Indonesia pada dasarnya hidup secara komunal, tanah dikelola bersama dan
menjadi milik bersama, dan tentu saja tanpa sertifikat. Celakanya kemudian
negara meng-klaim semua tanah tanpa sertifikat sebagai tanah negara yg kemudian
penguasa negara setempat merasa berhak menghibahkan (memberikan) tanah tsb pada
pihak lain dan mengenyampingkan kelompok masyarakat komunal itu yg sebenarnya
secara notabene dirampas begitu saja.
Kelihatannya hal seperti ini terjadi dibanyak tempat di Indonesia, sudah
merupakan pattern yg menunjukkan policy yg dianut pemerintah.Apakah ini yg
dimaksud dengan reformasi agraria Jokowi?
On Wednesday, May 9, 2018, 12:35:08 PM PDT, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Di mana-mana terus terjadi perampasan tanah seperti ini. Ingat nggak dulu Ahok
juga begitu ketika menggusur penduduk kota Jakarta. Dia tak menggubris orang
yang sudah punya sertifikat. Pokoknya dia bilang itu tanah negara, rakyat tak
punya hak bikin rumah di situ. Tidak tahu sudah berapa banyak berita perampasan
tanah rakyat yang saya postingkan di milis ini. Tapi berita seperti ini tidak
ada artinya bagi para pendukung buta pemerintah Jokowi!!! Siapa yang berkuasa,
mereka bisa berbuat apa saja terhadap rakyat yang tak punya apa-apa dan senjata
untuk melawan!!
On Wednesday, May 9, 2018 8:06 PM, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Tanah adat yg mendadak sontak tidak bertuan dan jadi tanah negara yg
kemudian dihibahkan(?) kepihak lain.
---
"Tanah ini milik kami, sawah ini sudah kami kelola sejak turun-temurun. Tanah
ini milik adat bukan milik pemerintah terlebih bukan milik Unanda (Universitas
Andi Djemma)," ujar petani tua, Kamis (4/5/2017).
....Perwakilan Universitas Andi Djemma (Unanda) yang berada di lokasi,
menjelaskan, lahan tersebut adalah milik negara, milik Pemkab Luwu yang telah
dihibahkan kepada Universtitas Andi Djemma dan telah bersertifikat.
"Kalau yang 30 hektare atas nama Unanda, sejak 3 tahun lalu. Sedangkan lahan
yang akan dibuatkan jalan tidak masuk sertifikat," jelas Musafir Turu, yang
juga adalah Dekan Fakultas Tehnik dari Unanda.
Petani Klaim Tanah Adat, Unanda Mengaku Tanah Hibah Pemkab Luwu
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Petani Klaim Tanah Adat, Unanda Mengaku Tanah Hibah Pemkab Luwu
Eksekusi lahan persawahan di Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan
Walenrang, Kabupaten Luwu,... |
|
|
---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :
Para pendukung buta Jokowi sudah lenyap empati dan simpatinya kepada nasib
petani yang mempertahankan tanah yang sudah dikerjakan dengan susah payah,
sekarang tinggal dipanen, tapi akhirnya harus menghadapi perampasan. Mata para
pendukung ini hanya pada infrastruktur megah-megah Jokowi, tak perduli mereka
pada kehidupan orang-orang yang berada di jenjang paling bawah masyarakat....
Masih patutkah orang-orang begitu menamakan dirinya "kiri"??
Kukuh Harianto Mezzaluna5 mei 2017BELOPA - Puluhan petani dari dua desa, yakni
Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu,
berusaha mempertahankan lahan sawah milik mereka yang hendak panen . Mereka
berusaha dengan sekuat tenaga dan berbagai cara menghalau petugas yang
mengerahkan alat berat untuk mengosongkan lahan sawah, Kamis (4/5/2017).Para
petani berusaha mempertahankan sawah dengan berdiri membentuk pagar betis dan
berbaring di sawah yang ditumbuhi padi siap panen. Bukan hanya bapak-bapak dan
ibu-ibu, beberapa anak usia di bawah umur ikut membentuk pagar betis.Mereka
berusaha mempertahankan sawah mereka meski aparat terus mendesak dan mengancam
akan menangkap jika terus melanjutkan aksi. Karena tidak mendengarkan
instruksi, petugas yang dipimpin Wakapolres Luwu, Kompol Abraham Tahalel,
mengambil tindakan tegas dan upaya paksa mengeluarkan warga dari area
persawahan yang akan dikosongkan menggunakan eskavator.Petugas yang terdiri
dari Satuan Polres Luwu dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu
personel TNI mengangkat dan menyeret para petani keluar dari sawah. Para petani
ini dimasukkan ke mobil dalmas milik Polres Luwu.Para petani dan keluarganya
pun berteriak dan menangis histeris. Beberapa warga yang hadir menyaksikan
upaya pengosongan lahan oleh pihak Universitas Andi Djemma (Unanda), juga
terlihat meneteskan air mata."Tolong Pak, tunggu sampai kami panen.
Berbulan-bulan kami memelihara padi kami ini, tidak lama lagi panen, kami minta
kebijakan bapak-bapak," teriak sejumlah ibu-ibu saat digiring ke mobil dalmas.