Tanah adat yg mendadak sontak tidak bertuan dan jadi tanah negara yg kemudian 
dihibahkan(?) kepihak lain.
---

"Tanah ini milik kami, sawah ini sudah kami kelola sejak turun-temurun. Tanah 
ini milik adat bukan milik pemerintah terlebih bukan milik Unanda (Universitas 
Andi Djemma)," ujar petani tua, Kamis (4/5/2017).
....Perwakilan Universitas Andi Djemma (Unanda) yang berada di lokasi, 
menjelaskan, lahan tersebut adalah milik negara, milik Pemkab Luwu yang telah 
dihibahkan kepada Universtitas Andi Djemma dan telah bersertifikat. 

"Kalau yang 30 hektare atas nama Unanda, sejak 3 tahun lalu. Sedangkan lahan 
yang akan dibuatkan jalan tidak masuk sertifikat," jelas Musafir Turu, yang 
juga adalah Dekan Fakultas Tehnik dari Unanda.


Petani Klaim Tanah Adat, Unanda Mengaku Tanah Hibah Pemkab Luwu


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Petani Klaim Tanah Adat, Unanda Mengaku Tanah Hibah Pemkab Luwu

Eksekusi lahan persawahan di Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan 
Walenrang, Kabupaten Luwu,...
 |

 |

 |






---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :

Para pendukung buta Jokowi sudah lenyap empati dan simpatinya kepada nasib 
petani yang mempertahankan tanah yang sudah dikerjakan dengan susah payah, 
sekarang tinggal dipanen, tapi akhirnya harus menghadapi perampasan. Mata para 
pendukung ini hanya pada infrastruktur megah-megah Jokowi, tak perduli mereka 
pada kehidupan orang-orang yang berada di jenjang paling bawah masyarakat.... 
Masih patutkah orang-orang begitu menamakan dirinya "kiri"??



Kukuh Harianto Mezzaluna5 mei 2017BELOPA - Puluhan petani dari dua desa, yakni 
Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, 
berusaha mempertahankan lahan sawah milik mereka yang hendak panen . Mereka 
berusaha dengan sekuat tenaga dan berbagai cara menghalau petugas yang 
mengerahkan alat berat untuk mengosongkan lahan sawah, Kamis (4/5/2017).Para 
petani berusaha mempertahankan sawah dengan berdiri membentuk pagar betis dan 
berbaring di sawah yang ditumbuhi padi siap panen. Bukan hanya bapak-bapak dan 
ibu-ibu, beberapa anak usia di bawah umur ikut membentuk pagar betis.Mereka 
berusaha mempertahankan sawah mereka meski aparat terus mendesak dan mengancam 
akan menangkap jika terus melanjutkan aksi. Karena tidak mendengarkan 
instruksi, petugas yang dipimpin Wakapolres Luwu, Kompol Abraham Tahalel, 
mengambil tindakan tegas dan upaya paksa mengeluarkan warga dari area 
persawahan yang akan dikosongkan menggunakan eskavator.Petugas yang terdiri 
dari Satuan Polres Luwu dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu 
personel TNI mengangkat dan menyeret para petani keluar dari sawah. Para petani 
ini dimasukkan ke mobil dalmas milik Polres Luwu.Para petani dan keluarganya 
pun berteriak dan menangis histeris. Beberapa warga yang hadir menyaksikan 
upaya pengosongan lahan oleh pihak Universitas Andi Djemma (Unanda), juga 
terlihat meneteskan air mata."Tolong Pak, tunggu sampai kami panen. 
Berbulan-bulan kami memelihara padi kami ini, tidak lama lagi panen, kami minta 
kebijakan bapak-bapak," teriak sejumlah ibu-ibu saat digiring ke mobil dalmas.

Kirim email ke