https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510201659-20-297261/akhir-drama-36-jam-
mako-brimob-yang-meninggalkan-tanda-tanya
Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang
Meninggalkan Tanda Tanya
*Martahan Sohuturon*, CNN Indonesia | Kamis, 10/05/2018 20:24 WIB
Bagikan :
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510201659-20-297261/akhir-drama-36-jam-mako-brimob-yang-meninggalkan-tanda-tanya#>
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510201659-20-297261/akhir-drama-36-jam-mako-brimob-yang-meninggalkan-tanda-tanya#>
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510201659-20-297261/akhir-drama-36-jam-mako-brimob-yang-meninggalkan-tanda-tanya#>
Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang Meninggalkan Tanda Tanya Anggota
kepolisian melakukan pengamanan Mako Brimob Kelapa Dua usai kerusuhan
napi teroris. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Drama kerusuhan dan penyanderaan selama 36 jam
yang terjadi di rumah tahanan Markas Korps Brigade Mobil (Mako Brimob),
Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat masih meninggalkan tanda tanya di akhir
perjalanan ceritanya.
Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya, menilai drama itu bahkan berakhir
dengan ketidaksinkronan pernyataan antara Menteri Koordinator bidang
Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto dan Wakil Kepala
Polri (Wakapolri) Komisaris Jenderal Syafruddin.
"Jika memperhatikan dengan seksama paparan mereka (Wiranto dan
Syafruddin), ada kesan ketidaksinkronan dan masih banyak hal yang tidak
terungkap tuntas oleh awak media," kata Harits dalam keterangan tertulis
yang diterima /CNNIndonesia.com/, Kamis (10/5).
Lihat juga:
Sambangi Mako Brimob, Kapolri Jelaskan Kronologi Penyanderaan
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510184708-20-297252/sambangi-mako-brimob-kapolri-jelaskan-kronologi-penyanderaan/>
Menurutnya, beberapa hal yang tidak sinkron dan meninggalkan tanda tanya
itu antara lain terkait kronologi sejumlah narapidana kasus terorisme
bisa menguasai senjata api, senjata tajam, dan bom. Harits pun
mempertanyakan pendekatan dengan istilah '/soft approach/' yang
dilakukan polisi hingga akhirnya narapidana teroris melepaskan sandera
dan memilih menyerah.
Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu juga
mengaku belum memahami seputar penyebab pecahnya kerusuhan yang berujung
tersanderanya sejumlah personel kepolisian
"Apakah benar hanya soal sepele makanan pada hari itu yang memicu
terjadinya insiden tersebut?" ujar dia.
Harits menduga, aparat kepolisian telah menggunakan mantan terpidana
sekaligus terdakwa sejumlah kasus terorisme, Aman Abdurrahman, untuk
menjembatani pembicaraan dengan narapidana teroris.
Dia berpendapat, polisi melakukan pendekatan kepada Aman terlebih dahulu
agar bersedia membantu menyelesaikan insiden yang pecah sejak Selasa
(8/5) malam.
Harits menuturkan, dugaan ini bukan tanpa dasar. Dia mengatakan, selain
merupakan salah satu penghuni ruang tahanan di Mako Brimob, Aman
merupakan sosok yang dipatuhi dan didengar nasihatnya.
"Aman posisinya dipatuhi dan didengar pendapatnya. Dalam insiden ini,
bisa jadi Aman tidak sependapat dan tidak mendukung aksi narapidana
teroris yang latar belakang aksinya adalah urusan perut atau hal tidak
penting," tuturnya.
Lihat juga:
Rekapitulasi Fakta Insiden Rusuh Mako Brimob
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510104128-20-297132/rekapitulasi-fakta-insiden-rusuh-mako-brimob/>
Secara terpisah, pengamat terorisme Zaki Mubarak menilai polisi tidak
membeberkan secara jujur seputar insiden kerusuhan dan penyanderaan yang
terjadi di rumah tahanan Mako Brimob, seperti terkait faktor pemicu.
Dia menilai faktor pemicu kerusuhan dan penyanderaan adalah masalah
ideologi, bukan persoalan makanan salah satu narapidana yang ditahan
petugas.
Zaki menerangkan ideologi yang dimaksud adalah pandangan bahwa polisi
adalah kaum thaghut alias tersesat.
"Saya tidak yakin faktor pemicunya lebih dari itu dan lebih ideologi.
Mereka anggap polisi thaghut, artinya mereka merasa dipermalukan dan
dihina dengan ditahan di markas para thaghut. Mereka tidak terima dengan
kondisi seperti itu," tuturnya kepada /CNNIndonesia.com/.
Selain itu, dia berpendapat, narapidana teroris telah merencanakan aksi
kerusuhan dan penyanderaan ini sejak lama. Dia pun menduga, aksi ini
terkait jelang sidang pembacaan tuntutan terhadap Aman sebagai terpidana
sejumlah kasus terorisme yang diagendakan berlangsung di Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan pada Jumat (11/5).
"Menurut pandangan saya, aksi itu sudah terencana jauh di belakang.
Bukan soal makanan, kalau itu selalu rutin ada persoalan setiap bulan.
Mungkin (karena) besok Aman dituntut oleh jaksa," ujar dia.
Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang Meninggalkan Tanda TanyaSalah satu
napi teroris keluar menyerahkan diri di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua,
Depok, 10 Mei 2018. (Dok. Divisi Humas Polri)
Serupa Harits, Zaki pun menduga petugas kepolisian telah
mengikutsertakan Aman dalam mengakhiri insiden kerusuhan dan
penyanderaan di rutan Mako Brimob.
Menurutnya, peran Aman sebagai figur yang berpengaruh dinilai polisi
penting untuk menjembatani komunikasi dengan narapidana teroris.
"Itu bagian dari negosiasasi yang polisi tidak mengungkapkannya. Dugaan
saya, ada komunikasi dengan Aman terkait perundingan yang berlangsung
hingga akhirnya pindah ke Nusakambangan," tuturnya.
Berangkat dari itu, Zaki menilai polisi mengalami banyak kekalahan dalam
insiden kerusuhan dan penyanderaan di rumah tahanan Mako Brimob.
Menurutnya, narapidana teroris sukses muwujudkan keinginannya, seperti
mendapatkan ekspose dunia internasional hingga sebanyak 145 orang
dipindahkan dari Mako Brimob ke Pulau Nusakambangan.
"Apa yang jadi target itu mereka dapatkan. Seperti ekspose
internasional, mereka ingin aksinya diliput media internasional sehingga
dengan cepat hanya selang beberapa jam naik di seluruh media dunia bahwa
mereka mampu jihad di markas polisi," tuturnya.
*Tindakan Tepat Polisi*
Terkait operasi penanggulangan aksi kerusuhan napi teroris di Mako
Brimob, Zaki menilai pola penanganan yang diambil polisi sudah tepat.
Menurutnya, polisi tidak memiliki pilihan lain untuk menyelesaikan
insiden ini secara ideal. Langkah yang dapat diambil polisi, katanya,
hanya melakukan negosiasi demi mengantisipasi agar jumlah korban tewas
tidak bertambah.
"Ini penanggulangan jangka pendek. Artinya, bagaimana mencari solusi
untuk menghindari korban yang lebih banyak, karena terus terang dalam
kasus penyanderaan ini posisi kepolisian lemah," tutur dia.
Lihat juga:
Rekapitulasi Fakta Insiden Rusuh Mako Brimob
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180510104128-20-297132/rekapitulasi-fakta-insiden-rusuh-mako-brimob/>
Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mendatangi Mako Brimob setibanya di
Jakarta dari Yordania menjelaskan kronologi, serta upaya penanggulangan
yang akhirnya membuat aksi napi teroris berhenti setelah 36 jam.
"Opsi kami langsung masuk (menyerbu), atau opsi memberikan warning.
Karena kami tahu dari 155 (narapidana terorisme di Mako Brimob) ada
pro-kontra. Ada yang ingin mendukung kekerasan sekelompok lainnya, ada
yang tidak ingin," kata Tito dalam konferensi pers di Mako Brimob, Kamis
(10/5) malam.
Tito mengaku saat itu dirinya yang masih berada di Yordania pun
melaporkan opsi-opsi tersebut kepada Presiden RI Joko Widodo. Tito
menyatakan Presiden Jokowi sendiri telah memerintahkan polisi mengambil
tindakan tegas, seandainya tidak ada opsi lain.
"Sepanjang malam warning sudah disampaikan. Alhamdulillah, satu sandera
brigadir Iwan Sarjana, jam 12 malam dilepas oleh mereka. Dan besok
paginya mereka keluar menyerahkan diri," ujar Tito yang baru tiba di
Jakarta pada Kamis (10/5) petang. *(kid)*