Berita lama, desember tahun lalu.
 Sekedar perbandingan saja.
 ---
 

 Gaji TKI di Korea Selatan Rp 30 Juta per Bulan, Berminat? 
http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/12/03/gaji-tki-di-korea-selatan-rp-30-juta-bulan-berminat-415093
 
 Oleh: Ai Rika Rachmawati 
http://www.pikiran-rakyat.com/sender/ai-rika-rachmawati
 3 Desember, 2017 - 23:19

 EKONOMI http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi



 Ilustrasi TKI/DOK. PR









 BANDUNG, (PR).- Korea Selatan membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia 
(TKI) untuk bekerja di sektor manufaktur di negeri itu. Kendati lowongan yang 
tersedia umumnya pada industri skala kecil, tapi fasilitas dan take home pay 
yang diberikan setara dengan industri besar di negara ginseng tersebut.
 Demikian diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat, 
Ferry Sofwan. Ia mengungkapkan saat peluncuran Dua Juta Kesempatan Kerja dan 
Bursa Kerja di Kantor Disnakertrans Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, akhir 
pekan ini. Pengiriman TKI ke Korea Selatan diatur melalui skema government to 
goverment (G to G).
 "Walaupun lowongan yang tersedia di industri kecil, tapi mereka sudah 
otomatisasi dengan menggunakan mesin-mesin. Jadi, pekerjaannya tidak berat. 
Berdiri iya, tapi dalam operasionalnya hanya tinggan menjalankan SOP dan 
disiplin sesuai ketentuan perusahaan," kata Ferry.
 Ia mengatakan, kebutuhan TKI 
http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/07/23/setiap-tahun-indonesia-butuh-37-juta-tenaga-kerja-terampil-405778
 di negara tersebut sangat besar. Pemerintah Korea tidak menentukan kuota 
ataupun menyebutkan kebutuhan jumlah tenaga kerja asing. Tapi, menurut Ferry, 
berapapun kesanggupan Indonesia memasok TKI, mereka akan menampung.
 Apa yang harus disiapkan? "Untuk bekerja di Korsel, yang harus disiapkan 
adalah kemampuan bahasa dan perilaku 
http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/10/04/sektor-konstruksi-tumbuh-perlu-lebih-banyak-tenaga-kerja-bersertifikasi-410823.
 Tidak boleh buang sampah sembarangan, merokok sembarangan, menyebrang 
sembarangan, dan menerobos lampu lalu lintas," ujar Ferry.
 Perilaku, menurut dia, menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus disiapkan 
calon TKI ke Korsel. Pasalnya, sekecil apapun catatan negatif yang ditorehkan 
di negara tersebut, akan menghambat proses pengajuan perpanjangan kerja di 
Korsel setelah kontrak tiga tahun pertama selesai.
 "Aplikasi mereka bisa ditolak," ujarnya.
 Di Korsel, menurut dia, tenaga kerja asing sangat dihormati. Hak dan kewajiban 
mereka disamakan dengan penduduk lokal. Proteksi oleh perwakilan Indonesia pun 
dilakukan dengan maksimal.
 "Gaji dasar TKI di korsel itu sekitar 6.500 won per jam. Sudah disediakan 
tempat tinggal dan makan dua kali sehari. Perlundungan asuransinya juga 
memadai," kata Ferry.
 Dalam satu bulan, satu orang TKI bisa mengantongi sekitar Rp 14 juta. Jika 
rajin bekerja lembur, gaji yang diterima bisa mencapai Rp 30 juta. Dalam 
kondisi paling boros sekalipun, menurut Ferry, TKI bisa menabung sekitar Rp 100 
juta per bulan karena biaya hidup di Korsel yang tidak terlampau tinggi.
 TKI terkenal rajin Dalam sebuah survei yang dilakukan Kedutaan Besar Republik 
Indonesia (KBRI), kata Ferry, sebanyak 92% pemilik perusahaan di Korsel mengaku 
sangat puas dengan kinerja TKI. Mereka dinilai rajin bekerja, tapi kelemahannya 
adalah penguasaan Bahasa Korea yang terbatas.
 "Pesaing TKI datang dari Tiongkok, Vietnam, Kamboja, dan Bangladesh. Namun, 
pekerja asal Indonesia lebih disukai," kata Ferry.
 Tahun lalu, menurut dia, Jabar memberangkatkan sekitar 1.200 TKI ke Korsel. 
Namun, saat ini total jumlah TKI asal Jabar di Korsel mencapai 9.000 orang. 
Bagi masyarakat Jabar yang tertarik, dikatakan Ferry, harus mengantongi ijasah 
SMA/SMK, mempersiapkan penguasaan Bahasa Korea, dan attitude.
 Kesempatan kerja Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan 
mendorong berbagai pihak, salah satunya lembaga pendidikan agar turut serta 
dalam meningkatkan kompetensi angkatan kerja. Pemerintah Jabar, menurut dia, 
terus menggagas sejumlah program untuk meningkatkan kompetensi sumber daya 
manusia (SDM), salah satunya melalui berbagai program magang dan kerja sama 
sertifikasi bagi lulusan SMK.
 "Setiap tahunnya angkatan kerja di Jawa Barat sangat tinggi jumlahnya. Hal ini 
karena jumlah penduduk di Jabar terbesar dibanding provinsi lainnya di 
Indonesia, bahkan dibandingkan negara tetangga. Alhamdulillah, target kami 
untuk membuka dua juta lapangan kerja terhitung sejak Juni 2013 hampir 
terelisasi. Tinggal 180.000 kesempatan kerja. Kami optimistis, pada akhir 
program, Juni 2018, bisa tercapai, bahkan terlampaui," kata Heryawan.***




 

Kirim email ke