http://suara-islam.com/2018/04/10/inflasi-dan-keuangan-keluarga/
Inflasi dan Keuangan Keluarga Jelang Ramadhan harga barang akan naik.
Bagaimana keluarga menghadapi inflasi musiman itu?.

10/04/2018


Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc

*Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc*
*Motivator Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia*

Hari ini ada kajian riset para dosen atau dikenal dengan “Monday Forum” di
Kampus STEI Tazkia. Topiknya menarik, yaitu “Determinan Inflasi: Pembuktian
Teori Al-Maqrizi” dibawakan oleh Ketua Program Studi Ekonomi Syairah dan
Direktur Pusat Studi Wakaf di STEI Tazkia, Nashr Akbar, M.Ec. Tentu saja
kali ini saya tidak akan membahasnya dengan memakai bahasa akademik yang
terlalu serius itu, izinkan saya menyambungkan kata inflasi ini dalam
konteks keuangan keluarga.

Inflasi itu apa?

Inflasi dikenal oleh masyarakat umum dengan “kenaikan harga barang”, yang
akhirnya menurunnya nilai mata uang. Menurut Badan Pusat Statistik, inflasi
dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai
barang dan jasa secara umum.

Seringkali inflasi dipicu dari kenaikan harga listrik dan Barang Bakar
Minyak (BBM), yang mengakibatkan naiknya ongkos produksi dan kendaraan
sehingga berujung kepada melambungnya harga suatu barang dan jasa.
Akibatnya, konsumer harus membayar lebih tinggi dari harga yang biasanya.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini tingkat inflasi di Indonesia rata – rata
di bawah 4 persen (kategori inflasi ringan), pernah di atas 4 persen ketika
bulan Ramadhan dan Syawal dimana memang uang THR dan tabungan biasanya
digunakan untuk memeriahkan pesta ummat Islam ini. Begitu juga untuk
pembayaran zakat yang meningkat drastis di bulan – bulan tersebut yang
dapat juga memicu daya beli rakyat miskin untuk keperluan rumah tangganya.
Dari data yang ada, nampak trend perayaan natal bulan November dan Desember
serta tahun baru tidak begitu memberikan dampak inflasi.

Bukan hal baru

Inflasi adalah bukan hal baru bagi masyarakat di dunia ini termasuk
Indonesia maupun dalam sejarah Islam. Jerman mengalami inflasi hiper pada
tahun 1922-1923 disusul Austria pada tahun 1931, dan Perancis pada tahun
1944-1966.

Inflasi juga terjadi di Nigeria, Inggris, Meksiko, Amerika juga negara –
negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang terburuk yaitu ketika krisis
keuangan dan goncangnya stabilitas politik tahun 1997-1998. Semoga tahun
politik kali ini tidak memicu tingkat inflasi. Sebagai gambaran, tingkat
inflasi menjelang dan saat Pemilu tahun 2013-2014 sempat di atas 8 persen.

Nashr Akbar memaparkan bahwa menurut al-Thabrani inflasi pernah terjadi
pada zaman Rasulullah SAW, 14 abad yang lalu ketika terjadinya kekeringan
dasyat di Madinah yang mengakibatkan naiknya harga hewan ternak dan bahan
makanan. Begitu juga pada masa Sayyidina Umar bin Khattab pernah terjadi
musim penyakit menular (wabah tha’un) di Amawas pada tahun 17 Hijriah dan
begitu juga selanjutanya yang terjadi di Mesir.

Al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi bisa terjadi karena dua hal yaitu
bencana alam termasuk wabah penyakit seperti kasus di atas dan juga
kesalahan manusia. Kesalahan manusia bisa karena korupsi, pajak dan
pencetakan uang yang berlebihan.

Kiat jitu hadapi inflasi

Bulan puasa atau bulan Ramadhan sebentar lagi tiba, kurang dari dua bulan,
yang kemudian disusul bulan Syawal atau Idul Fitri dan perayaan “Open
House”. Seperti pada tahun sebelumnya, harga barang akan cenderung naik,
lantas bagaimana cara keluarga untuk menghadapi inflasi musiman tersebut?
Salah satunya adalah merubah gaya hidup.

Sayyidina Umar bin Khattab memberikan contoh merubah gaya hidup ketika
musim kelaparan dan inflasi terjadi. Dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah
karangan Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Sayyidina Umar bersumpah tidak mau
makan daging, samin dan susu sehingga setiap hari beliau hanya makan minyak
zaitun hingga akhir musim paceklik itu.

Berikut adalah beberapa kiat bagaimana keluarga dapat mengatasi inflasi:

Kendalikan nafsu

Sebenarnya bulan Ramadhan adalah bulan mengendalikan nafsu, melatih
kesabaran, dan menahan banyak godaan. Namun seringkali kita membuat
pembenaran karena alasan Ramadhan adalah satu – satunya bulan yang istimewa
sehingga diperlukan makanan minuman istimewa. Banyak di tempat berbuka
puasa kita melihat semua makanan menarik dari kolek hingga lauk pauk, namun
setelah azan Maghrib berkumandang, perut tak kuasa menampung, sehingga
akhirnya banyak sisa makanan dan minuman yang terbuang.

Begitu juga saat Idul Fitri, sebagian keluarga memaksakan semua harus
istimewa, baru dan mahal. Rendang dan opor ayam temannya lontong dan
ketupat harus ada, walau terpaksa membeli dengan harga daging, ayam, cabe
yang melonjak – lonjak. Begitu juga baju dan perabot yang harus diganti.
Malangnya, banyak keluarga yang mencairkan tabungan yang awalnya disiapkan
untuk keperluan yang lebih penting. Parahnya, ada yang terpaksa berhutang
karena ingin keluarganya dianggap mampu.
Maka dari itu perlu sekali memasang niat sejak awal agar bulan puasa dan
lebaran tahun ini kita berubah menjadi yang lebih baik, untuk dapat lebih
mengendalikan nafsu.

Daur ulang

Banyak tukang jahit dan perabot yang dapat mendaur ulang hordeng dan sofa
juga mengecat ulang perabot rumah tangga tanpa harus membeli baru atau daur
ulang istilahnya. Bajupun demikian yang dapat dicarikan alternatif harga
murah kalau memang harus baru terutama untuk anak –anak.

Tingkatkan dana tabungan

Loh koq nabung? Iya, justru dengan perkiraan akan adanya pemasukan
pendapatan lebih banyak saat Ramadahan dan Syawal, contohnya THR, rencana
tabungan dan investasi harus dipikirkan. Hal ini adalah upaya antisipasi
untuk mengatasi inflasi yang mungkin tidak kunjung turun di beberapa bulan
selanjutnya. Dalam hal ini, tabungan dan investasi dapat menjadi satu
solusi.

Pembiayaan syariah

Untuk menjaga tidak terpuruknya keadaaan keuangan kita saat inflasi adalah
dengan memastikan semua pembiayaan kita dengan pihak bank adalah berbentuk
tetap atau tidak naik turun, karena jika inflasi terjadi, pembayaran
cicilan bank akan tetap stabil. Hal ini hanya ditemukan di lembaga keuangan
syariah baik perbankan maupun koperasi dengan akad produk dan jasanya yang
menjaga kestabilan kondisi keuangan keluarga. Tentu saja lebih menenangkan.
Untuk keluarga yang sudah terlanjur mendapatkan kredit dan bank
konvensional dapat segera memindahkan pinjamannya ke bank syariah dengan
sistem “take over”.

Demikian pesan – pesan inflasi ini disampaikan, semoga bermanfaat. *Wallahu
a’lam bis-shawaab.*
Salam Sakinah!

Kirim email ke