Pemutar balikkan dan interpretasi picik seorang revisionis PRO IMPERIALIS  yang 
TIDAK MAU MENGAKUI BAHWA KEADAAN SEKARANG ADALAH JUSTRU HASIL DARI POLITIK KIM 
YONG UN!! Dan itu dicerminkan oleh Putin yang mengakui ketepatan dan kepandaian 
KIM YONG UN dalam mengatasi ancaman perang AS!! Korut menghentikan percobaan 
nuklir BUKAN KARENA MEMENUHI TUNTUTAN IMPERIALIS AS DAN REVISIONIS TIONGKOK!!  
Korut menghentikannya, KARENA SUDAH TERCAPAI  TUJUAN DALAM PERCOBAAN SENJATA 
NUKLIRNYA!!!! 

    On Sunday, May 13, 2018 3:44 PM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     BETUUUL, bung Djie, ... yang saya ketahui di Tiongkok pada awal 
mengembangkan kapitalis dan mengundang masuk modal-asing ditahun 1980 juga 
begitu, pemerintah memberikan keloggaran bebas pajak diawal 2 tahun dan dengan 
sewa tanah murah, dan tentunya juga dengan dapatkan upah buruh yg ketika itu 
terhitung sangat MURAH, ... orang bilang kalau saja manajemen nya beres dan 
bagus, jalankan usaha apa juga jadi UNTUNG! Tentu kalau tidak ada rangsang kuat 
begitu, bagaimana kapitalis berani masuk, mengingat masa RBKP bukan saja klas 
kapitalis diganyang/dibasmi, lha kader-kader yang dituduh “penempuh jalan 
kapitalis” saja diganyang habis-habisan! Baru beberapa tahun kemudian 
pemerintah berangsur-angsur menaikkan pajak keuntungan dan, ... adanya upah 
minimum buruh/pekerja. Akhirnya 8 tahunan terakhir ini dirasakan banyak 
pengusaha ongkos produksi di Tiongkok, khususnya di pesisir selatan, Guang 
Zhou, Shen Zhen juga di Fu Jian, Xia Men sudah terlalu mahal. Banyak yg harus 
hijrah ke pedalaman barat-laut atau keluar ke VietNam, Kamboja, Laos, termasuk 
Indonesia, .... Kalau di Indonesia, nampak sangat jelas ada permainan politik 
anti TIongkok yang sedang berusaha kembangkan “Jalan Sutera”, “OBOR” nya untuk 
melawan hegemoni imperialisme AS didunia, ... pertarungan masih berlangsung dan 
tentu kesulitan masih cukup besar harus dihadapi Tiongkok. Sudah bagus 
perkembangan Korea-Utara yg akhirnya bisa menghentikan percobaan nuklir dan 
bersedia duduk dimeja perundingan dengan Korsel, AS, ... meredakan ketegangan 
disemenanjung Korea itu! Sedang Jepang juga nampaknya siap memperbaiki kembali 
hubungan dengan RRT, melanjutkan kembali perbaiki perdagangan ekonomi dengan 
kebawahkan persengketaan pulau Diao Yu yg 4 tahun terakhir ini bikin tegang, 
....!  Salam,ChanCT   From: kh djie Sent: Sunday, May 13, 2018 12:34 PMTo: 
Gelora45 ; Chan CT Subject: Re: [GELORA45] Produsen pupuk dalam negeri 
khawatirkan serbuan pupuk impor Bung Chan, Di negeri Belanda itu banyak usaha2 
perseorangan, yang didorong maju dan dibantu pemerintah.Usaha perorangan ini 
selain dapat bebas pajak selama 3 tahun, juga boleh melaporkan kerugianusahanya 
dalam 3 tahun pertama, yang akan diganti kantor pajak, setelah diteliti dulu di 
tempat,diperiksa semua administrasinya. Jadi ya seperti bayi, ya permulaan 
perlu dibantu dulu, sampai bisajalan dan lari.....Kalau orang sudah punya 
kerja, tetapi dia nyambi buka usaha sendiri, kerugiannya bisa dipotongkanpada 
penghasilan tetapnya, dan setelah itu baru dipajaki.Tidak tahu apa di Indonesia 
apa ada sistim seperti ini.Masalah pabrik pupuk Kalimantan Timur, pemerintah 
perlu selidiki benar2 apa terjadi salah kontrak dengan Pertamina, karena ini 
adalah industri yang sangat penting (tidak tahu apa sudah termasuk industri 
strategis yang perlu dibantu dengan pinjaman uang berbunga sangat rendah), agar 
hasil2 pertanian naik, dan tidak perlu import, yang menghabiskan 
devisa.Salam,KH 2018-05-13 1:42 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>:

        SETUJUUUU, ... mestinya perdagangan itu dibiarkan saja berjalan 
sebagaimana hukum PASAR! Hanya saja jangan dibiarkan bebas-liar, pemerintah 
TETAP harus pegang kendali, lebih dahulukan kepentingan rakyat banyak jangan 
sampai dirugikan dan terpukul-berat. Sebaliknya juga, jangan sampai terjadi 
kebalikkan, memanjakan rakyat dengan subsidi kebablasan yang hakekatnya justru 
lebih menguntungkan sekelompok pengusaha, macam subsidi BBM itu!   Pada saat 
Pabrik pupuk Kalimantan tergempur pupuk import, pemerintah bukan terutama 
memberi subsidi ataupun melarang import pupuk, tapi boleh saja ikut turun 
tangan meneliti mengapa Pertamina menjual gas 6 dollar sedang dipasar cuma 2 
dollar? Dimana dan apa masalahnya? Kalau saja kondisi produksi dalam negeri 
bisa disempurnakan dan bahkan mencukupi kebutuhan, kenapa masih harus import, 
apalagi sampai mematikan produksi dalam negeri?    Kalau saja mutu produksi 
kurang baik, karena teknologi yang masih terbelakang, dorong dan bantulah 
pengusaha meningkatkan mutu produksi agar bisa menyaingi produksi import itu, 
bukan hanya melarang import! Karena PERSAINGAN itulah yang mendorong maju 
produksi dan kwalitas produksi, ... Kalau bangsa ini tidak digembleng, menjadi 
cengeng selalu minta dilingungi pemerintah dan menuntut terus memberi subsidi 
bahkan mematikan penyaingnya, ... apa namanya kalau bukan jadi bangsa TEMPE?!   
Inilah yang dibilang segala hal-ihwal dialam semesta ini merupakan kesatuan 
dari segi-segi yang bertentangan, sesuai dengan I Ching, filsafat kuno Tiongkok 
yang sudah lebih 5 ribu tahun itu! Dalam memandang masalah tidak bisa selalu 
dan selamanya memutlakkan satu segi dari segi-segi yang berlawanan, ...         
From: [email protected] [GELORA45]  Sent: Sunday, May 13, 2018 12:37 AM 
To: [email protected]  Subject: Re: [GELORA45] Produsen pupuk dalam 
negeri khawatirkan serbuan pupuk impor      Mestinya ya perdagangan itu harus 
bebas. Konsumen diuntungkan dengan harga lebih murah dan kwalitas lebih baik. 
Kalo negara proteksi terus, produsen jadi kenakan, tidak mau meningkatkan mutu 
dan ngeruk keuntungan se-besar2nya.  
 Mau bela rakyat atau lindungi produsen?
         ---In [email protected], <ilmesengero@....> wrote :

       Mengapa takut saingan pupuk impor, bukankah rezim neo/Mojopahit 
mempunyai politik dagang bebas sesuai doktrin New World Order, dimana "Free 
movement of capital, labour and goods"? Jadi mereka sudah tahu akibatnya atau 
juga berlagak linglung terhadap konsekwensi tindakan politik mereka.
    2018-05-12 12:56 GMT+02:00 kh djie djiekh@... [GELORA45] 
<[email protected]>:
 
 
      Kutipan :  Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya 
opearsional, terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar 
AS, sedangkan di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini, 
kami kesulitan di biaya operasionalnya," ucapnya. 
 Ini yang aneh, kok Pertamina bisa jual 6 dollar ke Pabrik Pupuk Kalimantan 
Timur, kalau di pasaran harganya 2 dollar . Masa pabrik pupuk terbesar di 
Indonesia, jauh lebih besar dari pabrik pupuk Sriwijaya akan terpaksa import 
gas alam sendiri, sedangkan sumber gas Pertamina ada di Muara Badak, 60 km dari 
Bontang (pabrik pupuk Kalimantan Timur), yang disalurkan dengan pipa ke Bontang 
?  Lha, Pertamina jual gas Alam dengan harga berapa ke pasaran umum ?

 https://id.wikipedia.org/wiki/ Pupuk_Kalimantan_Timur
 https://investasi.kontan.co. id/news/harga-gas-alam- kuartal-i-2018-tertahan- 
kenaikan-produksi-as
 Dibanding komoditas energi lainnya, selama tiga bulan pertama, harga gas alam 
kontrak pengiriman Mei 2018 turun 1,5% yaitu dari US$ 2,741 per mmbtu pada 
akhir 2017 menjadi US$ 2,733 per mmbtu per akhir Maret 2018. 
    2018-05-12 11:29 GMT+02:00 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... [GELORA45] 
<[email protected]>:
 
       Lha inilah memang yang dikehendaki oleh negara-negara imperialis yang 
selalu berkaok-kaok tentang Globalisme dan Free Trade, bukan?? Buka lebar-lebar 
pintu pasar dalam negeri kalian, biarkan produk kami masuk dengan bebas!! Dari 
dulu sampai sekarang, tak pernah berubah watak kaum pemodal besar dan 
imperialis!!! 

    On Saturday, May 12, 2018 1:53 AM, "'Chan CT' SADAR@... [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:


           
Produsen pupuk dalam negeri khawatirkan serbuan pupuk impor
  Jumat, 11 Mei 2018 21:31 WIB  Pupuk Kaltim. FOTO ANTARA/Ardi/sb/ed/hp/09 
(ANTARA/ARDI) Malang (ANTARA News) - Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen 
pupuk di Tanah Air mengkhawatirkan adanya serbuan pupuk impor yang masuk ke 
Indonesia dengan mudah dan harganya pun murah.

"Kekhawatiran itu ada karena harganya lebih murah dan mudah didapat, apalagi 
pupuk impor ini masuk dengan mudahnya ke Tanah Air," kata Kepala Kantor Wilayah 
(Kanwil) Jatim II Pupuk Kaltim disela sosialisasai pengetahuan produk Pupuk 
Kaltim di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Ia mengaku khawatir petani akan beralih ke pupuk impor karena harganya 
terjangkau (murah) dibanding pupuk produksi dalam negeri dan mudah didapat, 
terutama pupuk dari Tiongkok dan Amerika Serikat.

Kenapa pupuk impor bisa lebih murah, lanjutnya, karena biaya opearsional, 
terutama untuk pos pembelian gas lebih murah, yakni hanya 2 dolar AS, sedangkan 
di Indonesia masih 6 dolar AS. "Dengan harga gas 6 dolar AS ini, kami kesulitan 
di biaya operasionalnya," ucapnya.

Sementara itu, Superintendent Hubungan Internal Departeman Humas Pupuk Kaltim, 
Nurdi Saptono mengatakan Tiongkok dan Amerika Serikat yang memroduksi pupuk 
urea secara besar-besaran menjadikan dunia over stok.

"Dulu pernah terjadi di semua daerah ketika pupuk petani masih menggunakan 
Pusri, ketika Pupuk Kaltim amsuk dianggap pupuk palsu. Nah, kondisi itu hampir 
sama dengan sekarang yang banyak serbuan pupuk impor.. Mudah-mudahan kondisi 
itu terjadi sekarang, petani tetap `minded` dengan pupuk dalam negeri, sehingga 
tidak sampai tergoda pupuk impor," katanya..

Menyinggung ketersediaan pupuk menjelang musim tanam di wilayah Jawa Timur, 
Sugiyono mengatakan sangat aman, bahkan stoknya melebih ketentuan pemerintah 
(Kementan).RI. "Oleh karena itu, petani tidak perlu khawatir akan terjadi 
kelangkaan karena stoknya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan petani," 
ucapnya.

Pupuk Kaltim menyediakan stok urea subsidi untuk Jatim mencapai 345.533 ton, 
dengan rincian stok urea subsidi di Lini I atau gudang pabrik mencapai 5.497 
ton, stok di Lini II atau Gudang Provinsi 84.484 ton dan stok urea subsidi di 
Lini III atau gudang kabupaten 254.269 ton.

Sedangkan untuk stok NPK subsidi mencapai 22.592 ton, dengan rincian stok pada 
lini I atau gudang pabrik 9.960 ton dan stok di Lini III atau gudang kabupaten 
12..632 ton. Adapun serapan urea subsidi tertinggi di Jatim, yaitu 225.306 ton, 
sedangkan serapan NPK subsidi tertinggi di Kalimantan Selatan, yaitus mencapai 
20.953 ton.

Secara nasional, hingga 7 Mei 2018, Pupuk Kaltim telah menyalurkan 536.758 ton 
urea subsidi atau 36 persen dari alokasi SK Menteri Pertanian RI. Untuk NPK 
subsidi yang telah disalurkan mencapai 69.187 ton atau 42 persen dari alokasi 
SK Menteri Pertanian RI.

Sementara itu kapasitas gudang di Jatim mencapai 87.800 ton (di Surabaya dan 
Banyuwangi) dari ketentuan stok 32.533 ton. Stok fisik mencapai 39.711 ton dan 
stok administrasi 44.361. Sementara realisasi hingga 7 Mei mencapai 14.428 ton 
dari alokasi Mei 2018 mencapai 43.377 ton.

Untuk produktivitas rata-rata per tahun mencapai 3,43 juta ton urea dan yang 
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan petani di dalam negeri sekitar 1,4 
juta ton per tahun. Sedangkan selebihnya menjadi komoditas ekspor. "Untuk 
ekspor ini dengan catatan kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi an harus ada 
izin dari pemerintah," kata Sugiyono.

Kebutuhan pupuk bersubsidi di Tanah Air mencapai 13 juta ton per tahun, 
sementara pemerintah hanya mampu mengkover sekitar 9,55 juta ton. Sehingga, 
selebihnya petani harus membeli pupuk dengan harga nonsubsidi. "Petani yang 
tidak terkover pupuk subsidi ini, mau tidak mau membeli dengan harga 
nonsubsidi," ucapnya.

Menyinggung upaya untuk mengatasi jika terjadi kelangkaan pupuk di pasaran, 
Sugiyono mengatakan perlu peningkatan kapasitas produksi, monitoring stok pupuk 
bersubsidi,koordiansi dengan distributor, PPL,KP3, Dinas terkait, dan 
pemerintah daerah setempat, membentuk tim posko pengamanan musim tanam, serta 
Pupuk Kaltim menyediakan jaringan bebas pulsa untuk petani, kios resmi dan 
distributoryang ingin menyampaikan keluhan dan saran.

Sementara itu, staf Pupuk Kaltim Ajang Christrianto mengemukakan untuk 
meningkatkan produktivitas tanaman petani, pihaknya melakukan pendampingan bagi 
petani, termasuk melakukan demo pemupukan secara berimbang dan tidak berlebihan 
yang melibatkan Dinas Pertanian dan PLL setempat.

"Selain itu, juga melakukan kerja sama dengan distributor dan pengecer. Selama 
masa tanam hingga panen juga terus dilakukan monitoring, apakah pemupukan 
berimbang dan tidak berlebihan ini mampu meningkatkan produktivitas (panen 
petani)," ucapnya.

Pemupukan berimbang dan tidak berlebihan tersebut menggunakan kompisisi 
perbandingan 5:3:2, artinya pemupukan dengan 500 kilogram pupuk organik, 300 
kilogram pupuk NPK dan 200 kilogram urea untuk setiap hektare tanaman.

"Khusus penggunaan pupuk organik yang melebihi komposisi, misalnya 1 ton dan 
NPK atau ureanya tetap akan lebih baik karena untuk mengembalikan unsur hara 
tanah lebih cepat," katanya.

Baca juga: Menteri BUMN: produksi pupuk NPK ditingkatkan Pewarta: Endang 
Sukarelawati
Editor: Suryanto 

 
      
   #yiv9389780724 #yiv9389780724 -- #yiv9389780724ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-mkp #yiv9389780724hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mkp #yiv9389780724ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mkp .yiv9389780724ad 
{padding:0 0;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mkp .yiv9389780724ad p 
{margin:0;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mkp .yiv9389780724ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-sponsor 
#yiv9389780724ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-sponsor #yiv9389780724ygrp-lc #yiv9389780724hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-sponsor #yiv9389780724ygrp-lc .yiv9389780724ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9389780724 #yiv9389780724actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9389780724
 #yiv9389780724activity span {font-weight:700;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9389780724 #yiv9389780724activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9389780724 #yiv9389780724activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9389780724 #yiv9389780724activity span 
.yiv9389780724underline {text-decoration:underline;}#yiv9389780724 
.yiv9389780724attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9389780724 ..yiv9389780724attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9389780724 .yiv9389780724attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9389780724 .yiv9389780724attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9389780724 .yiv9389780724attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9389780724 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9389780724 .yiv9389780724bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9389780724 
.yiv9389780724bold a {text-decoration:none;}#yiv9389780724 dd.yiv9389780724last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9389780724 dd.yiv9389780724last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9389780724 
dd.yiv9389780724last p span.yiv9389780724yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9389780724 div.yiv9389780724attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9389780724 div.yiv9389780724attach-table 
{width:400px;}#yiv9389780724 div.yiv9389780724file-title a, #yiv9389780724 
div.yiv9389780724file-title a:active, #yiv9389780724 
div.yiv9389780724file-title a:hover, #yiv9389780724 div.yiv9389780724file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9389780724 div.yiv9389780724photo-title a, 
#yiv9389780724 div.yiv9389780724photo-title a:active, #yiv9389780724 
div.yiv9389780724photo-title a:hover, #yiv9389780724 
div.yiv9389780724photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9389780724 
div#yiv9389780724ygrp-mlmsg #yiv9389780724ygrp-msg p a 
span.yiv9389780724yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9389780724 
.yiv9389780724green {color:#628c2a;}#yiv9389780724 .yiv9389780724MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9389780724 o {font-size:0;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724photos div {float:left;width:72px;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9389780724
 #yiv9389780724reco-category {font-size:77%;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724reco-desc {font-size:77%;}#yiv9389780724 .yiv9389780724replbq 
{margin:4px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-mlmsg select, #yiv9389780724 input, #yiv9389780724 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-mlmsg pre, #yiv9389780724 code {font:115% 
monospace;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-mlmsg #yiv9389780724logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-msg 
p#yiv9389780724attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-reco #yiv9389780724reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-sponsor 
#yiv9389780724ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-sponsor #yiv9389780724ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-sponsor #yiv9389780724ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9389780724 #yiv9389780724ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9389780724 
#yiv9389780724ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9389780724 

   

Kirim email ke