*Ismail Marzuki, Ayah 8 Tahun Berakhir di Pangkuan Istri*
*Muhammad Andika Putra*, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 13:50 WIB
Ismail Marzuki dengan istrinya, Eulis Zuraida. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kenangan pada 25 Mei 1958 tak akan pernah
dilupakan oleh Rachmi Aziah. Di siang yang panas dan gerah itu, ayahnya,
*Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/tag/ismail-marzuki>*bermandikan keringat
di rumahnya di Kampung Bali X, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Rachmi yang kala itu masih berusia delapan tahun masih asik bermain di
pekarangan rumah. Sementara Ismail yang merasa badannya lengket membujuk
istrinya, Eulis Zuraida untuk memandikannya.
Entah kenapa Ismail manja saat itu. Ia memang biasanya kerap meminta Uu,
sapaan Ismail untuk istrinya, untuk mengelus kepalanya ketika Ismail
rebahan di pangkuan Eulis.
Namun enam dekade lalu itu, kemanjaan Ismail bertambah.
Lihat juga:
Lagu Ismail Marzuki, Populer tapi Tak Dihargai
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180526035340-227-301461/lagu-ismail-marzuki-populer-tapi-tak-dihargai/>
"U, Aa ingin pakai hem dan celana putih," kata Ismail kepada istrinya,
kala itu, usai mandi.
"/Jij/gunting kuku/ik/ya," pinta Ismail kepada Uu dengan logat bahasa
Belanda usai mengenakan hem dan celana putih.
Eulis sudah terbiasa akan sifat manja suaminya yang tak pernah merasakan
kasih sayang ibu itu. Ia pun dengan telaten memenuhi keinginan Ismail.
"A, belum minum susu kan? Minum susu dulu.." kata Eulis kepada suaminya
yang belakangan sering sakit dan batuk hingga sulit bekerja. Akibatnya,
pemasukan keluarga sedikit terhambat.
Usai meminum susu hangat yang disediakan istri tercintanya itu, Ismail
merebahkan kepalanya lagi di pangkuan Eulis. Rasanya, tak ada yang lebih
membahagiakan dari itu.
Lihat juga:
Rahasia Ismail Marzuki, Sang Maestro Komponis Indonesia
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525193648-230-301393/rahasia-ismail-marzuki-sang-maestro-komponis-indonesia/>
"U, Rachmi mana?" tanya Ismail teringat anak angkat sekaligus semata
wayang yang ia sayangi itu. "Mi.. Rachmi?" panggil Ismail.
Rachmi kembali dari ingatannya ke masa kini, Mei 2018,
ketika/CNNIndonesia.com/menjenguknya di rumahnya di Perum Bappenas
Kedaung, Sawangan, Depok, yang telah ia tempati sejak 1994.
Eulis Zuraida, istri Ismail Marzuki.Eulis Zuraida, istri Ismail Marzuki.
(Arsip Taman Ismail Marzuki)
Di usianya kini yang melewati kepala enam dan bercucu sepuluh, Rachmi
masih cukup ingat dengan kenangan soal ayahnya itu. Apalagi, ia adalah
pewaris tunggal dan yang masih tersisa dari keluarga Ismail Marzuki.
"Entah kenapa saya enggak mau mendekat dan tetap berdiri di pintu teras
rumah," kata Rachmi mengingat-ingat alasannya tak memenuhi panggilan
Ismail, enam dekade lalu.
"Sambil duduk di sofa, dia melarang saya untuk main jauh-jauh," lanjutnya.
Rachmi mengingat kala itu kondisi Ismail cukup parah. Komponis kelahiran
Kwitang 11 Mei 1914 itu mengidap penyakit paru-paru basah lantaran
sering begadang sembari minum kopi dan merokok untuk membuat lagu.
Lihat juga:
Kobaran Cinta dari Lagu Mendayu Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525172752-227-301343/kobaran-cinta-dari-lagu-mendayu-ismail-marzuki/>
Mendengar titah ayahnya, Rachmi hanya mengangguk. Ia asyik melanjutkan
permainan kelereng bersama temannya di teras rumah. Ismail pun kembali
ke pangkuan Eulis, rasa kantuk menggerakkan tubuhnya.
"U,/ik/tidur ya, ngantuk. Nanti tolong dibangunkan kalau sudah sore,"
kata Ismail kepada Eulis yang masih diingat oleh Rachmi.
Eulis pun mengelus rambut Ismail yang biasanya klimis itu. Tubuh kurus
Ismail ia sadari semakin kurus kala sakit. Ia amati suaminya. Tak
terlalu tampan memang, namun dialah sang penakluk hati Eulis si biduan
terkenal.
Pun, sudah lama Eulis tak diminta Ismail menyanyikan lagu barunya.
Padahal, biasanya ia selalu jadi orang pertama yang menyanyikan lagu Ismail..
Lihat juga:
Kenangan Orang Kwitang tentang Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525131316-234-301223/kenangan-orang-kwitang-tentang-ismail-marzuki/>
Semangat Eulis sebagai penyanyi masih ada meski sejak menikah dengan
Ismail pada 1940, suaminya itu lebih senang bila sang Uu berada di rumah
untuk menjadi inspirasi si maestro menciptakan lagu.
Matahari pun sudah di sisi Barat. Eulis pun membangunkan Ismail.
"A, bangun.. Sudah sore," kata Eulis lembut. Ismail tak bergerak.
"A.. bangun.." ulang Eulis, sembari mulai menepuk tubuh Ismail. Suaminya
masih terpejam, tak seperti biasanya.
Ismail Marzuki (paling kiri) bersama Eulis (tengah) kala bergabung dalam
suatu grup musik.Ismail Marzuki (paling kiri) bersama Eulis (tengah)
kala bergabung dalam suatu grup musik. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Hati kecil Eulis bergejolak. Tak biasanya Ismail tidur selelap itu, tak
bergerak. Badannya seolah kaku. Hati wanita Bandung itu seolah mencelus.
Ia tak ingin sepakat dengan insting istri yang berbisik di benaknya.
"A!!!" teriak Eulis histeris, mulai menitikkan air mata. "A!! Bangun A!!"
Eulis masih berusaha membangunkan pujaan hatinya itu, imam hidupnya,
tapi Ismail diam tak seperti Ismail yang selama ini mampu membuatnya
tertawa, yang suka cemburu karena tak ingin Eulisnya yang cantik dilirik
pria lain.
Teriakan Eulis didengar Rachmi. Bocah delapan tahun itu bingung mengapa
ibunya teriak sambil menggoyangkan tubuh bapaknya yang tertidur. Eulis
menyuruh Rachmi minta tolong tetangga.
Lihat juga:
Rayuan Abadi Lintas Zaman Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180526022926-227-301456/rayuan-abadi-lintas-zaman-ismail-marzuki/>
Bukan hanya Rachmi yang bingung. Teriakan tolong Rachmi cukup keras
hingga tetangga mulai berdatangan. Semula, tetangga mengira Rachmi kena
omel lagi oleh Eulis yang dianggap Rachmi galak.
Tapi, semua percuma. Sang maestro telah tiada. Ia pergi dalam senyap,
tanpa disadari, tanpa ada suara merdu nan terkenal keluar untuk terakir
kalinya.*(end)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com