Biksu Tadisa: Rangkul Perbedaan Wujudkan Keindahan
Selasa , 29 Mei 2018 | 09:10
http://www.sinarharapan.co/kesra/read/1760/biksu_tadisa__rangkul_perbedaan_wujudkan_keindahan
Biksu Tadisa: Rangkul Perbedaan Wujudkan Keindahan
Sumber Foto tribunnews.com
Perayaan Trisuci Waisak 2018 dipusatkan di Candi Borobudur.
MAGELANG - Setiap manusia harus saling merangkul sesamanya yang
berbeda-beda dalam menjalani kehidupan sehari-hari agar terwujud
keindahan hidup bersama, kata Koordinator Dewan Kehormatan Perwakilan
Umat Buddha Indonesia Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira.
"Harus saling merangkul dengan yang berbeda supaya hidup bersama menjadi
indah," ujarnya di Magelang, Selasa (29/5/2018), terkait dengan tema
perayaan Trisuci Waisak 2018, "Transformasikan Kesadaran Delusi Menjadi
Kesadaran Murni" dan subtema "Marilah Kita Bersama-sama Berjuang
Mengalahkan Sang Ego".
Ia mengemukakan pentingnya manusia tidak terjebak dalam perbedaan, dalam
upaya mencapai kebahagiaan kehidupan, baik secara pribadi maupun
bersama. Perbedaan, ujar Tadisa yang juga Ketua Umum Majelis Mahabudhi
itu, harus disadari dengan baik sebagai kodrat manusia."Tetapi jangan
melakukan pembedaan karena kita sudah beda. Dalam keluarga pun kita
berbeda-beda," ujarnya.
Dia juga mengatakan bahwa sekarang ini banyak orang terjebak kepada
khayalan dan identitas maya karena mereka antara lain lebih mengutamakan
ego. Hal itu, kata dia, mengakibatkan sikap keakuan manusia menjadi
ketat, semua orang saling bersaing, saling menjatuhkan, terjadi tindak
kejahatan, konflik, dan bahkan perang."Sekarang ego harus dikalahkan.
Kalau ego dikendalikan kita bisa memunculkan cinta kasih," katanya.
Ketua Widyakasaba Walubi Biksu Wongsin Labhiko Mahathera mengemukakan
pentingnya umat Buddha untuk tetap menjaga diri melalui perbuatan yang
baik, pembicaraan baik, dan pemikiran baik sesuai dengan ajaran Sang
Buddha."Agar semua menjadi baik," ujarnya.
Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya mengatakan Buddha Gautama
menemukan jalan pembebasan diri yaitu pencapaian penerangan sempurna
menjadi Buddha melalui kesadaran terhadap makna hidup.
Sang Buddha, ujarnya, mencapai penerangan sempurna karena menang atas
sang ego. Ego sebagai sumber malapetaka dan bisa menjerumuskan manusia
dalam jurang kegelapan yang lebih dalam."Tema Waisak tahun ini mengacu
kepada intisari ajaran Sang Buddha kepada semua makhluk," katanya.
Ia mengajak setiap umat Buddha introspeksi pada diri untuk mengetahui
hal mana telah benar dan mana yang masih harus diperbaiki demi mencapai
cita-cita tertinggi, yakni terbebas dari penderitaan.
Selain itu, katanya, umat Buddha juga harus turut berjuang bersama
seluruh komponen bangsa untuk mengurangi kesenjangan dalam berbagai
aspek, seperti kesenjangan kaya-miskin, kuat-lemah, kota besar-daerah
terpencil, dan kesenjangan pendidikan."Hilangkan cemburu, marah, dengki,
dan serakah. Agama apapun akhirnya sama, kembali kepada Tuhan Yang Maha
Esa," tuturnya.
Hari Trisuci Waisak dirayakan umat Buddha untuk memperingati tiga
peristiwa penting dalam ajaran Buddha, yakni kelahiran Sidharta Gautama,
Buddha Gautama mencapai penerangan sempurna, dan parinibana atau Sang
Buddha mangkat.
Puncak perayaan Waisak 2018 terjadi pada Selasa, pukul 21.19.13 WIB,
ditandai dengan meditasi selama beberapa saat oleh umat Buddha bersama
para biksu sangha Walubi di pelataran Candi Borobudur Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah.(*ant*)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com