https://www.antaranews.com/berita/715693/aktivis-98-gelar-rembuk-nasional-
lawan-radikalisme
Aktivis 98 gelar rembuk nasional
lawan radikalisme
Minggu, 3 Juni 2018 22:51 WIB
Panitia acara Rembuk Nasional Aktivis 98 saat menggelar konferensi pers
di Jakarta, Minggu (3/6/2018). Sejumlah elemen aktivis 98 akan menggelar
Rembuk Nasional di Monas, 7 Juli 2018, untuk menyikapi maraknya aksi
intoleransi, radikalisme dan terorisme. (istimewa)
Jakarta (ANTARA News) - Puluhan ribu aktivis 98 akan menggelar rembuk
nasional untuk menyikapi maraknya intoleransi, radikalisme dan terorisme
yang merebak belakangan ini.
"Kami akan menggelar Rembuk Nasional yang akan dihadiri sekitar 50 ribu
aktivis 98 di Monas, Jakarta, pada 7 Juli 2018 <tel:2018>. Rembuk
Nasional ini bertujuan memusyawarahkan pemikiran dan menyatukan langkah
untuk menegaskan pentingnya menyelamatkan ke-Indonesian," ujar Juru
Bicara Rembuk Nasional Aktivis 98, Sayed Junaidi Rizaldi bin Abdul
Rahman Al-Hinduan dalam konferensi pers yang diikuti sejumlah elemen
aktivis 98, sebagaimana siaran pers di Jakarta, Sabtu.
Sayed mengatakan puluhan ribu aktivis 98 akan kembali turun gunung
setelah 20 tahun lalu menggulingkan Soeharto dan orde baru (Orba) karena
ada kelompok yang menjadi musuh bersama yang ingin mengganti ideologi
Pancasila termasuk mendirikan khilafah.
Kelompok tersebut menurutnya telah menyebarkan praktik intoleransi,
radikalisme, hingga terorisme.
"Kami secara bersama sepakat tidak akan diam, aktivis 98 harus
meluruskan dan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang
terus menurus mengikis orientasi kebangsaan rakyat Indonesia," katanya.
Dia menegaskan aksi radikalisme bukan lagi ancaman biasa, mengingat
adanya aksi pengeboman oleh satu buah keluarga di Surabaya, Jawa Timur
serta banyaknya terduga terorisme yang ditangkap di sejumlah daerah
pasca-kericuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
Sayed mengingatkan berdasarkan survei Wahid Institute tentang
radikalisme dan intoleransi yang melibatkan 1.520 <tel:1520> responden
pada 2017 <tel:2017>, menunjukan bahwa sebanyak 11 juta orang atau 7,7
persen dari total populasi di Indonesia mau bertindak radikal.
Dari survei tersebut juga diketahui 0,4 persen penduduk Indonesia atau
sekitar 600 ribu orang pernah bertindak radikal.
Dia mengatakan dari sisi ideologi, praktik intoleransi, radikalisme, dan
terorisme telah mengancam Pancasila dan merusak nilai-nilai
kemanusiaan. Dia menilai sikap ambigu yang ditunjukkan sejumlah elit
politik dalam menyikapi hal ini juga akan membuat ujaran kebencian
meluas dan mereka yang terpapar paham radikal akan mudah berpotensi
melakukan aksi teror.
"Akibatnya, gampang sekali mereka menyebarkan fitnah, salah satunya
menuduh aparat keamanan merekayasa teror dan mengatakan pelaku teror
sebagai korban," jelasnya.
Sementara dari sisi kondisi nasional, praktik radikalisme, intoleransi,
dan terorisme telah menyebar ke segala lapisan sosial dan aparatur
pemerintahan. Mereka yang sudah terpapar paham radikal dinilainya mudah
menjungkirbalikan fakta.
"Cara pandang mereka yang memonopoli kebenaran, membuat mereka
menjadikan hakim bagi orang-orang yang berbeda dengan mereka.
Kebhinekaan yang merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa, justru hendak
diseragamkan karena mereka memandang kebhinekaan sebagai musuh," kata Sayed.
Selain itu, kata dia, mereka yang sudah terpapar radikalisme juga
mereduksi dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, seiring hilangnya
orientasi kebangsaan pada diri mereka. Situasi ini juga melanda
lingkungan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan
tinggi.
"Berdasarkan latar belakang tersebut, aktivis 98 memutuskan untuk
melakukan Rembuk Nasional," katanya.
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018