https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646
Kamis, 19 Jul 2018 18:30 WIB
Wawancara Khusus Dirut Inalum
Habiskan Rp 55 Triliun untuk Rebut Saham
Freeport
Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Share *0*
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Tweet *0*
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Share *0*
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
0 Komentar
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#komentar>
Halaman 1 dari 2
<https://finance.detik.com/energi/d-4115510/perjanjian-divestasi-freeport-dikritik-dan-dinilai-tak-mengikat>
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport/2>
Foto: Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin/ Foti:Rachman Haryanto/detik.com
Foto: Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin/ Foti:Rachman Haryanto/detik.com
*FOKUS BERITA* Sah! RI Caplok Freeport
<https://finance.detik.com/indeksfokus/2441/sah-ri-caplok-freeport>
<https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#><https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#><https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#><https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-4123540/habiskan-rp-55-triliun-untuk-rebut-saham-freeport?_ga=2.199772718.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#komentar>
*Jakarta* - Setelah melewati proses negosiasi panjang, PT Freeport
Indonesia
<https://finance.detik.com/energi/d-4123472/jonan-jelaskan-proses-akuisisi-freeport-ke-dpr>
(PTFI) telah sepakat mendivestasikan 51% saham ke pemerintah Indonesia.
Sebagai kepanjangan tangan pemerintah, PT Inalum (Persero) nantinya akan
menjadi pemegang saham mayoritas di PTFI.
Inalum juga punya strategi dan rencana bisnis ke depan untuk Freeport
<https://finance.detik.com/energi/d-4123472/jonan-jelaskan-proses-akuisisi-freeport-ke-dpr>.
Bagaimana ceritanya, berikut wawancara selengkapnya *detikFinance*
dengan Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin.
*Bisa diceritakan sedikit soal pembelian saham Freeport mulai dari
negosiasi yang panjang, sampai terakhir tanda tangan seperti apa?*
Saya mulai terlibat sebenarnya waktu mejadi Dirut Mandiri tahun 2015,
itu memang diminta oleh Ibu Menteri (BUMN Rini Soemarno) atas arahan
dari Bapak Presiden (Jokowi) untuk bisa mengkaji proses divestasi untuk
ini sendiri dimulai mengkaji memakai konsultan melihat alternatifnya
seperti apa kemudian saya akan pensiun dari Dirut Mandiri di 2016
kemudian diminta juga oleh Ibu Rini tetap melanjutkan tugas ini sebagai
staf khusus ibu menteri.
Jadi saya melanjutkannya terus jadi staf khusus, kemudian kita membentuk
holding industri pertambangan salah satu tujuannya juga supaya kita
memiliki balancing yang cukup untuk melakukan transaksi ini terjadinya
di November 2017. Kemudian saya jadi Dirut Inalum. Nah jadi Dirut,
kemudian prosesnya berjalan sampai sekarang Sehingga akhirnya kemarin
kita menandatangani Head of Agreement dengan PT Freeport.
*Baca juga: *Jonan Jelaskan Proses Akuisisi Freeport ke DPR
<https://finance.detik.com/read/2018/07/19/173751/4123472/1034/jonan-jelaskan-proses-akuisisi-freeport-ke-dpr>
*Itu kan nilainya banyak yang bilang fantastis US$ 38,5 miliar atau
sekitar Rp 54 triliun. Itu ada yang bilang kemahalan, bagaimana menurut
Anda?*
Memang kita bisa mulai dari cara perhitungan yang paling susah, paling
rumit, sampai perhitungan yang paling sederhana.
Kalau dari paling rumit sudah ada standarnya cara valuasi perusahaan
seperti itu, jadi berapa earning after tax-nya sampai akhir dihitung
sehingga keluar angkanya berapa. Angka itu sebenarnya yang kita dapatkan
adalah sekitar 18% dari perhitungan secara scientifik. Tapi karena ini
sulit, saya lebih suka memakai angka yang lebih gampang.
Misalnya kita beli US$ 3,85 miliar itu untuk 45%. Jadi 100%-nya itu
sekitar US$ 8,25 miliar. Untuk informasi, ebitda-nya freeport dalam
kondisi sustain, kan sempat ada naik turun ya, tapi rata-ratanya,
kisarannya itu US$ 4 miliar. Profit after tax-nya atau earning after
tax-nya dia, kondisi normal, itu kan juga ada naik turun karena pada
tahun 2022 itu akan habis, itu sekitar US$ 2 miliar.
*Baca juga: *Freeport Setor Bea Keluar Rp 2,24 Triliun di Semester
I-2018
<https://finance.detik.com/read/2018/07/19/165804/4123431/4/freeport-setor-bea-keluar-rp-224-triliun-di-semester-i-2018>
Jadi kalau enterprise value, atau harga perusahaan US$ 8 miliar, maka
enterprise value per ebitda itu sekitar 2 kali, karena ebitda-nya kan
US$ 4 miliar. Ini enterprise value-nya US$ 8 miliar. Kalau dibandingkan
earnings, enterprise value dibagi earnings itu 4 kali.
Nah di kalangan keuangan, kita sering melihat price to earning ratio ini
sebagai suatu standar yang bisa dibandingkan. Nah kalau kita mau pakai
rata-rata perusahaan terbuka di Indonesia kan kita lihat di Jakarta
Stock Exchange, memang saya agak ketinggalan, karena saya sudah keluar
dari perbankan agak lama.
Dulu sih sekitar 16-17 kali rata-rata price to earning rationya.
Sekarang kan mungkin karena udah turun, mungkin di sekitar 12-14 kali.
Tapi kita untuk perbandingan belinya itu di angka 4 kali. Nah 4
dibandingkan dengan 12-14, jadi itu jauh kan di bawah rata-rata valuasi
harga di Bursa Efek Jakarta.
Yang kedua yang lebih gampang teman-teman juga sudah bikin resource atau
cadangan terbukti freeport yang ada sekarang di Papua itu US$ 150
miliar. Jadi kalau kita beli US$ 3,85 miliar, ya bisa dibandingkan
dengan angka itu tadi.
Atau cara perbandingan ketiga yang juga gampang, Freeport itu pernah
menawarkan ke pemerintah Indonesia waktu itu diminta divestasi waktu itu
30%, 10%-nya US$ 1,6 miliar. Jadi kalau 10% US$ 1,6 miliar, kita beli
45%, itu kan jadi sekitar 4,5 dikali 1,6 jadi sekitar US$ 8 miliar,
dibandingkan dengan US$ 3,85 miliar. Padahal harga yang ditawarkan itu
hanya Freeport tanpa memperhitungkan porsi Rio Tinto. Kalau
memperhitungkan porsi Rio Tinto itu kan harga yang US$ 8,5 berapa ini
mesti dibagi 0,6 lagi jadi akhirnya US$ 12 miliar.
Jadi dengan itu, kita perbandingan price to earning ratio-nya 4
dibandingkan dengan 12. Yang kedua, kita beli US$ 3,85 miliar, nilai
potensi cadangannya US$ 150 miliar. Kemudian yang ketiga, Freeport saja
sudah pernah menawarkan equivalen sekitar US$ 12 miliar, kita dapat US$
3,85 miliar.
Atau kalau yang lebih gampang lagi, profitnya itu setiap tahun kan US$ 2
miliar. Jadi kalau saya pegang 51% kan saya dapatnya US% 1 miliar lebih,
jadi kalau ini US$ 3,85 miliar (harganya), ya 4 tahun balik modal.
*Ada juga pertanyaan Rio Tinto, jadi kenapa tiba-tiba ada Rio Tinto di
Freeport, bisa dijelaskan? Lalu kenapa harus beli Rio Tinto, nggak
langsung ambil Freeport?*
Jadi sejarahnya Freeport itu dia ada tambang yang pertama kali namanya
Erstberg, itu ditemuin di tahun 1960-an. Jadi dari sini, Freeport bikin
kontrak karya yang pertama, itu dari 1967 sampai 1997.
Di tahun 80-an dia nemu tambang lagi yang lebih besar, yang namanya Itu
Grasberg, yang sekarang, ini jauh lebih besar dari Erstberg. Karena nemu
ini, sebelum ini habis, karena tahun 80-an nemunya, dia minta ke
pemerintah Indonesia untuk tanda tangan kontrak karya yang kedua, itu
dari tahun 1991 sampai 2021. Grasberg ini kan besar sekali, karena
besar, dia nggak punya uang untuk bangun.
Jadi dia nggak ada uang untuk bangun, corebody-nya itu mulai dari atas
sampai ke bawah. Dia mau ambil yang atas, karena dia nggak punya uang
untuk bangun, maka tahun 1985 dia tanda tangan yang namanya
implementation agreement dengan Rio Tinto. Yang intinya dia ijon, Rio
Tinto dapat bagian dari sini, tapi bantu juga bagian dari Capex (Capital
Expenditure)-nya.
Jadi dikasih ke Rio Tinto 40%, kalau produksinya di atas produksi
tertentu, tapi Capex-nya bagi-bagi juga 40%. Dan ini tahun 1996, ini
diubah jadi Participation Agreement. Ini sudah disetujui sama pemerintah
Indonesia. Intinya dia bagi 40% itu Rio Tinto, lalu 60% Freeport. Cuma,
kalau sebelum 2022 di bawah metal strip (tanpa memperhitungan kondisi
produksi berada di atas level yang disepakati) itu 1% buat Freeport.
Baru di atas metal strip, bagi dua. Tapi di atas 2022, 40:60 rata.
Logikanya, Freeport bilang, waktu ketemu (tambang) sebelum 1996, ini
jatahnya Freeport. Begitu ketemu sama Rio Tinto, ini yang dibagi. Cuma
kan ini satu hole body produksinya. Jadi totalnya ini dibagi sejak 1996
sampai 2041 kalau nggak salah. Kalau di bawah metal strip produksinya,
itungannya punya Freeport. Tapi kalau itungannya di atas, ini bagi-bagi
60:40.
Akibatnya apa? Akibatnya kalau sekarang kita lihat dari sisi saham
equiti interest yang kelihatan di publik, ini kam freeport punya 90,64%.
Pemerintah Indonesia atau Inalum punya 9,36%. Rio tinto punya 0%, nggak
ada. Tapi kalau dari sisi economic interest, ini (Rio Tinto) punya 40%.
Jadi ini (Freeport) cuma 60%. Jadi ini yang orang sering salah.
Kalau orang bilang, belinya beli Freeport, 51%, ngapain beli Rio Tinto,
yang didapat itu cuma 51% dari ini (gambar), cuma 30% sebenarnya yang
kita punya. Karena yang ini (gambar) ada di haknya Rio Tinto, cuma yang
kelihatan ke dokumen publik yang ini (gambar). Itu sebabnya kenapa kita
harus beli yang Rio Tinto punya. Karena kalau nggak, tujuan kita kan
maunya Pemerintah Indonesia 51%, ini (Freeport) 49% kan, ini (Rio Tinto)
harus masuk, kalau nggak, nggak bakal dapat 51%. *(zlf/zlf)*