https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?
_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646
Kamis 19 Juli 2018, 20:49 WIB
Analisis Zuhairi Misrawi
Saat Timur-Tengah Melirik China
Zuhairi Misrawi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Zuhairi Misrawi
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
Saat Timur-Tengah Melirik China Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4123804/saat-timur-tengah-melirik-china?_ga=2.263892492.1823631590.1532022646-804685037.1532022646#>
*Jakarta* - Ada ungkapan yang sangat populer di Timur-Tengah dan dunia
Islam pada umumnya, "Carilah ilmu walaupun di negeri China." Ungkapan
ini juga sangat populer di pesantren-pesantren. Di masa lalu, hubungan
antara Timur-Tengah dan China sangatlah kuat, terutama di sektor
perdagangan yang kemudian berperan dalam penyebaran dakwah Islam sejak
masa-masa awal Islam. Bahkan ada yang berpandangan bahwa penyebaran
Islam ke kawasan Asia yang lain tak luput dari eksistensi Islam di China
yang umurnya sudah mencapai lebih seribu tahun.
Kini genderang akselerasi kerja sama Timur-Tengah dan China terus
ditabuh bersamaan dengan kemajuan China dalam berbagai sektor kehidupan.
Dalam delapan tahun terakhir, negara-negara Timur-Tengah semakin
mengukuhkan kerja sama tersebut, bahkan terlihat semakin erat.
Dalam pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri dalam Forum Kerja Sama Dunia
Arab dan China yang digelar di Beijing yang dihadiri oleh 18 Menteri
Luar Negeri dari kawasan Timur-Tengah pada awal Juli disepakati kerja
sama dalam tiga hal. Yakni, sektor energi, impor barang-barang murah
produk China, dan sektor teknologi. Timur-Tengah mulai melirik China
sebagai aktor penting dalam pengembangan energi nuklir, energi
terbarukan, dan siber.
Menurut Xi Jinping, hubungan antara China dan Timur-Tengah bisa dilacak
pada 60 tahun silam dalam Konferensi Asia-Afrika yang digelar di
Bandung. China mendukung penuh perjuangan negara-negara Arab dalam
mendukung kemerdekaan Palestina. Setelah itu, negara-negara Arab juga
menjadi pendukung penuh keanggotaan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Negara-negara Arab merupakan yang pertama kali mengulurkan bantuan ke
China di saat terjadi musibah gempa bumi yang sangat dahsyat.
Secara umum hubungan antara negara-negara Arab dan China berjalan secara
inklusif, dialogis, bahkan tanpa kecurigaan dan konflik. Kita hampir
tidak pernah melihat konfrontasi antara negara-negara Arab dan China.
Padahal mereka mempunyai perbedaan yang sangat mencolok dari segi
ideologi, sistem sosial, agama, tradisi, dan kebudayaan.
Maka dari itu, menurut Xi Jinping, tidak adanya masalah yang mengganjal
antara China dan negara-negara Arab akan mempermulus ambisi Jalur Sutera
yang sedang dibangun oleh China, terutama jalur maritim yang menjadikan
Timur-Tengah sebagai salah satu kawasan yang sangat penting yang dapat
menyambungkan antara satu kawasan ke kawasan yang lain.
Ketergantungan China pada negara-negara Timur-Tengah dalam sektor
energi, khususnya minyak dan gas sangatlah besar. Bahkan, Arab Saudi
ingin menjual saham minyak ke China dalam bentuk mata uang Yuan, yang
menandakan era baru dalam hubungan antara China dan Timur-Tengah. Di
samping itu, China juga tidak mau tunduk pada embargo Amerika Serikat
terhadap Iran. Artinya, China juga siap membeli minyak dan gas dari
Iran, yang jumlahnya juga sangat besar.
Satu hal yang membuat negara-negara Arab sangat nyaman dengan China,
karena di mata mereka China tidak berambisi untuk menguasai dan
mencaplok kawasan lain. Berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara
Eropa yang identik dengan imperialisme. China fokus pada kerja sama
bisnis yang saling menguntungkan dan saling menghormati (/mutual
interest and mutual respect/). China juga melakukan investasi di sektor
ekonomi yang turut mempercepat pembangunan di kawasan Timur-Tengah.
Karena itu, kita tidak menemukan benturan yang tajam antara China dengan
negara-negara Timur-Tengah.
Bahkan, negara-negara Timur-Tengah sedang merancang kerja sama dalam
bidang kebudayaan. Dalam beberapa tahun ke depan, negara-negara Arab
akan mengirimkan ribuan seniman dan budayawan untuk belajar ke China,
yang menandakan adanya kerja sama yang riil dalam bidang tersebut.
Negara-negara Timur-Tengah juga mulai melirik China sebagai salah satu
industri teknologi yang berkembang pesat. Bahkan, China merupakan
produsen teknologi yang sekarang dan dalam beberapa tahun ke depan dapat
mengalahkan kedigdayaan Amerika Serikat dan Eropa. Bagaimanapun China
akan menjadi aktor penting dalam sektor industri teknologi di jagad raya.
Hubungan mesra antara China dengan negara-negara Arab harus dilihat dari
kuatnya akar komunisme di kawasan itu. Dari dulu hingga sekarang, kita
akan mendapatkan partai-partai komunis dan partai-partai sosialis masih
bertengger kuat di sebagian besar negara-negara Arab. Di Suriah, sejak
akhir dekade 1960-an ada Partai Komunis Arab yang secara eksplisit
mempunyai hubungan dekat dengan China. Begitu pula di negara-negara
lain, seperti Mesir, Turki, Iran, Tunisia, Maroko, Aljazair paham
komunisme dan gerakan politiknya masih terus hidup.
Bahkan, sayap komunis di Timur-Tengah dengan leluasa menyebarluaskan
pandangannya melalui media dan buku-buku. Bahkan dialektika antara
keislaman dan pikiran-pikiran kiri tumbuh. Hassan Hanafi pernah
meluncurkan pemikiran "Islam Kiri" yang menandakan upaya sintesis antara
keislaman dan paham kiri.
Maka dari itu, kita tidak menemukan sentimen anti-China di Timur-Tengah,
yang secara faktual berbeda dengan apa yang kita lihat di negeri kita
dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara Timur-Tengah relatif bisa
menerima China karena faktor sejarah yang panjang dan hubungan yang
terus membaik tanpa ada rintangan yang berarti.
Setidak-tidaknya, kita tidak menemukan pihak-pihak yang menggunakan
sentimen anti-China sebagai instrumen politik di Timur-Tengah. China
tidak dianggap sebagai ancaman bagi negara-negara Arab yang mayoritas
penduduknya menganut agama Islam.
Tentu saja hal tersebut dapat menjadi pembelajaran yang sangat berharga,
bahwa sentimen anti-China yang berembus di negeri ini pada hakikatnya
hanya isu politik semata yang diembuskan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab. Mereka menggunakan justifikasi Partai Komunis
Indonesia di masa lalu untuk menghambat kerja sama antara pemerintah
dengan China.
Jika melihat hubungan mesra antara negara-negara Timur-Tengah dengan
China dalam delapan tahun terakhir dapat menjadi bukti nyata, bahwa
sebenarnya tidak ada persoalan yang serius antara dunia Islam dan China,
bahkan antara Islam dan komunisme. Negara-negara Arab justru semakin
mesra dengan China, dan hampir tidak ada rintangan hambatan yang dapat
menghambat kerja sama di antara mereka.
*Zuhairi Misrawi* /intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran
dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute/
*(mmu/mmu)
*