*Pertamina adalah sapi perahan rezim neo-Mojopahit, maka oleh karena itu
tidak gemuk malah bertambah kurus, sebab terus-terus diperah. Kalau
sekarang kurus, karena akal bulus para pengurusnya. *

*Pada tahun 1970-an, semua perusahaan minyak dan gas di dunia mengalami
keuntungan berlipat ganda, terkecuali Pertamina. Dperkirakan Pertamina rugi
kurang lebih 10 milyar dolar. Jadi jangan diharapkan bahwa ganti direktur
dan stafnya akan membawa perbaikan, semuanya sama saja.*


http://suara-islam.com/dradjad-wibowo-pertamina-korban-pencitraan-politik/


Dradjad Wibowo: Pertamina Korban Pencitraan Politik

21 Juli 2018

1.509 1 minute read

Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://suara-islam.com/dradjad-wibowo-pertamina-korban-pencitraan-politik/>
Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Dradjad+Wibowo%3A+Pertamina+Korban+Pencitraan+Politik%20via%20%40SuaraIslamOn&url=http://suara-islam.com/dradjad-wibowo-pertamina-korban-pencitraan-politik/>
Google+
<https://plusone.google.com/_/+1/confirm?hl=en&url=http://suara-islam.com/dradjad-wibowo-pertamina-korban-pencitraan-politik/&name=Dradjad+Wibowo%3A+Pertamina+Korban+Pencitraan+Politik>
Cetak
<http://suara-islam.com/dradjad-wibowo-pertamina-korban-pencitraan-politik/#>

Dradjad H Wibowo

*Jakarta (SI Online)* – Pakar ekonomi INDEF Dradjad H Wibowo mengatakan
kisruh Pertamina terjadi akibat tata kelola APBN yang jelek, khususnya pada
pos subsidi energi.

Dradjad menyebutkan, pada akhir 2017 lalu, Pertamina pernah menyurati
Pemerintah agar membayar tunggakan subsidi BBM dan LPG Rp30 triliun.
“Tunggakan ini belum dibayar sejak 2016,” kata Dadjad, dalam siaran
persnya, Sabtu (21/7/2018), seperti dilansir *Republika.co.id
<http://Republika.co.id>.*

Pada 2018, lanjutnya, dengan ICP jauh di atas asumsi APBN US$ 46/b,
Pertamina dirugikan karena kehilangan pendapatan. Untuk Januari-Februari
2018 saja kehilangan ini sudah hampir Rp4 triliun.

Padahal selama dua bulan tersebut ICP masih relatif belum setinggi
sekarang, masih pada kisaran US$ 61-66/b. Akhir-akhir ini ICP berkisar US$
65-68/b. Jelas Pertamina makin dirugikan. Nilainya bisa lebih dari Rp25
atau 30 triliun setahun, apalagi Rupiah makin terdepresiasi terhadap US$.

Semua angka tersebut seharusnya masuk ke dalam pos APBN. Dengan dibebankan
ke Pertamina, defisit APBN jadi terlihat lebih kecil dari angka aslinya.

Dradjad mencontohkan APBN-P 2017. Defisit yang diumumkan resmi sebesar
Rp345,8 triliun atau 3,57 persen PDB. Jika tunggakan ke Pertamina
dimasukkan, defisit yang asli adalah Rp375,8 triliun atau 2,79 persen PDB.
Jadi defisit aslinya jauh di atas angka yang diumumkan.

“Pemerintah seharusnya taat asas dalam tata kelola APBN. Bukan mementingkan
pencitraan politis. Yaitu, pencitraan agar harga BBM kelihatan tidak naik,
BBM seperti premium tetap seolah-olah tanpa subsidi, dan defisit APBN
terlihat seolah-olah lebih rendah,” papar Dradjad.

Akibatnya, kata anggota Dewan Kehormatan PAN ini, Pertamina didorong
menjual aset. Dradjad mengibaratkan ini seperti seorang bapak atau ibu yang
tega menyuruh anaknya menjual buku sekolah, agar bapak atau ibunya bisa
pupuran (berbedak) lebih cakep.

“APBN-P pun menjadi APBN-pupuran, apalagi beban yang ditanggung PLN belum
dimasukkan,” paparnya.

Ini jelas sebuah pupuran yang mahal. Karena, dengan melego aset, otomatis
pertamina kehilangan potensi pendapatan maupun kemampuan berekspansi dengan
memanfaatkan aset itu. Kinerja jangka menengah dan panjang Pertamina jadi
terganggu.

“Bukankah pak Jokowi berjanji akan membesarkan Pertamina? Kok malah diminta
obral aset?,” paparnya.

Kirim email ke