*Apakah Habib Rizieq adalah pemimpin yang tidak menyimpang dari ajaranNya?
hehehehehe*


http://suara-islam.com/jangan-ikuti-pemimpin-yang-menyimpang-dari-ajaran-allah/
DAERAH <http://suara-islam.com/category/kabar/daerah/>
Jangan Ikuti Pemimpin yang Menyimpang dari Ajaran Allah

22 Juli 2018

1.363 1 minute read

Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://suara-islam.com/jangan-ikuti-pemimpin-yang-menyimpang-dari-ajaran-allah/>
Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Jangan+Ikuti+Pemimpin+yang+Menyimpang+dari+Ajaran+Allah%20via%20%40SuaraIslamOn&url=http://suara-islam.com/jangan-ikuti-pemimpin-yang-menyimpang-dari-ajaran-allah/>
Google+
<https://plusone.google.com/_/+1/confirm?hl=en&url=http://suara-islam.com/jangan-ikuti-pemimpin-yang-menyimpang-dari-ajaran-allah/&name=Jangan+Ikuti+Pemimpin+yang+Menyimpang+dari+Ajaran+Allah>
Cetak
<http://suara-islam.com/jangan-ikuti-pemimpin-yang-menyimpang-dari-ajaran-allah/#>

Kajian tafsir bersama KH Didin Hafidhuddin

*Bogor (SI Online)* – Ada dua rukun iman yang sering disatukan dalam
ayat-ayat Aquran maupun hadits Nabi yaitu Iman kepada Allah dan Iman kepada
hari akhir. Inilah ajaran tauhid yang didakwahkan dan diyakini oleh setiap
muslim untuk dijadikan dasar setiap perilakunya.

“Dengan demikian dakwah harus ditujukan untuk menyembah Allah bukan untuk
menyimpang dari ajaran Allah. Soal hidayah adalah hak Allah. Yang penting
seruan dakwah itu hanya ditujukan untuk tauhid penyembahan kepada Allah,”
demikian dikatakan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MSc dalam kajian Tafsir
di Masjid Al Hijri Kota Bogor, Ahad (22/7/2018)

Menurutnya, dakwah harus dilakukan dengan cara yang baik dan simpatik, hal
tersebut sesuai firman Allah: *“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui
siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang
mendapat petunjuk.”* (QS. An-Nahl ayat 125)

Kyai Didin menambahkan, konsekuensi iman kepada hari akhirat adalah
menjadikan orang yang beriman bertanggung jawab dan takut akan azab Allah.
“Karena semua yang ada dalam diri kita (ilmu, harta, kedudukan, jabatan dan
lain-lainnya) adalah amanah dan karunia dari Allah, yang semuanya itu akan
dimintai pertanggung jawabannya,” jelasnya.

Terkait pertanggungjawaban, Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadisnya:*
Tidak akan bergeser langkah kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak,
kecuali akan ditanyakan (dimintai pertanggung jawabannya) tentang 4 hal
yaitu, umurnya; dihabiskan umurnya itu untuk apa, kemudaannya (badannya yg
sehat) dilusuhkan untuk apa, hartanya; dari mana ia peroleh dan kemana
dihabiskan untuk apa?*

Apa yang akan terjadi di yaumil akhir kelak pun Allah jelaskan di dalam
Alquran. Surat Saba’ ayat 32 dan 33 menjelaskan terjadinya kondisi
perbantahan sesama orang kafir dan orang yang sesat, ketika mendapatkan
pembalasan tentang kekafiran dan penyimpangannya.

Termasuk para pemimpin yang zalim, mereka mengelak bertanggung jawab
terhadap ajakan kepada rakyatnya untuk menyimpang dari jalan Allah.
Sementara rakyatnya bersaksi bahwa mereka menyimpang karena terpaksa dan
dipaksa mentaati pemimpin mereka. “Allah gambarkan penyesalan dan
perbantahan mereka itu dalam ayat tersebut. Maka kesudahan dan akibat yang
diterima oleh kedua golongan itu adalah sama yaitu siksaan azab dan ancaman
neraka,” jelas Kyai Didin.

Oleh karena itu, ia berharap semoga pembahasan ini menjadi pelajaran bagi
kita agar tidak mengikuti siapapun termasuk para pemimpin bahkan yang
mengaku ulama namun menyimpang dari ajaran agama Allah.

rep: dhani
red: adhila

Kirim email ke