Nakoda kapal Dwikora kan Bung Karno ....... 2018-07-27 14:18 GMT+02:00 ChanCT [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > OK, terimakasih bung Manap. Kalau begitu nanti kapan-kapan kebetulan > bertemu pak Zhou saya tanyakan apa maksud sesungguhnya? Hehehee, ... > > Salam, > > ChanCT > > S Manap [email protected] [GELORA45] 於 27/7/2018 15:21 寫道: > > > Bung Chan. > > Kalau bung masih belum bisa memahami yang dimaksudkan oleh bung > Nuryono, bung bisa bertanya kepada teman lama bung Pak Zhau Yung Chin, > > Ini sekedar saran dari saya dan selamat berakhir pekan. > > Salam > S.Manap. > > ----- Vidarebefordrat meddelande ----- > *Från:* Arya Warsitha <[email protected]> <[email protected]> > *Till:* Syarkawi Manap <[email protected]> <[email protected]> > *Skickat:* fredag 27 juli 2018 08:33:07 CEST > *Ämne:* Vb: Re: [GELORA45] Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, > 431 Nyawa Melayang | Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan ... > > > > > Skickat från Yahoo Mail för iPad > <https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS> > > Påbörja vidarebefordrat meddelande: > > Den fredag, juli 27, 2018, 6:53 fm, skrev kh djie [email protected] > [GELORA45] <[email protected]> <[email protected]>: > > > Bung Chan, > Di tempat2 yang kemungkinan terjadi kebakaran harus disediakan alat > pemadam kebakaran > dan juga saluran air dengan slang pemadam kebakaran. > Yang sering terjadi : > Di tempat mobil2 dan kendaraan diparkir, meskipun mesin dimatikan. Bisa > saja terjadi kortsluiting > dalam kendaraan, dan kalau terjadi kebakaran dapat menjalar cepat ke > kendaraan lain. Jadi > di sini harus disediakan banyak alat pemadam kebakaran yang mudah > disemprotkan. Ada macam2 > type dari penyemprotan dengan CO2, ada yang dengan busa dll. Kalau > sekarang dipasangi detektor, > yang langsung membuat alarm berbunyi, dan air otomatis menyemprot dari > atas, dan penjaga dari > suatu ruangan bisa langsung mengetahui tempat kebakaran.Kalau jaman dulu > ya mestinya di tempat2 > tsb. ada orang yang jaga. Prinsipnya, begitu timbul kebakaran, harus > langsung dipadamkan sebelum > menjalar ke mana-mana, yang akan sulit dipadamkan. > Di Kamar mesin, sering terjadi kortsluiting. Ini haus langsung dipadamkan.. > Di kamar penumpang. Di lorong harus disediakan beberapa pemadam kebakaran, > juga slang air bertekanan > tinggi dan pipa2 saluran air, dan alarm yang bisa distart untuk > memberitahu adanya kebakaran. Jaman sekaang > ruangan dan kamarq2 dilengkapi detector. Begitu terjadi kebakaran, ada > asap, langsung detector berfungsi. > Di perusahaan dulu, semua orang dilatih untuk mmadamkan kebakaran kecil, > tiga bulan sekali. Alat2 pemadam > kebakaran dicheck. Lha, kalau tidak dilatih, ada alatnya, tetapi tidak > tahu cara pakainya.Perusahaan juga punya > mobil pemadam kebakaran dan punya anggota pemadam kebakaran yang terlatih.. > Perusahaan juga kerjasama > dengan perusahaan2 lain, untuk saling bantu kalau terjadi kebakaran. > Di samping itu pemadam kebakaran dari perusahaan bisa dipangil oleh > pemadam kebakaran dai kotapraja untuk > bantu memadamkan kebakaran besar. > Juga ada kejelasan, kalau terjadi kebakaran, kita harus mengungsi, kumpul > di mana, siapa yang harus mematikan > saluran gas. Lift tidak boleh dipakai dll.. > > 2018-07-27 2:16 GMT+02:00 ChanCT [email protected] [GELORA45] < > [email protected]>: > > > > Bung Yono yb, > > Saya tidak berhasil menangkap apa maksud komentar yang bung ajukan itu, > ... "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang Jenderal > Soeharto"? Dimana sang nakoda berada? > > Atau mungkin hanya karena saya belum baca buku "Neraka di Laut Jawa" jadi > tidak tahu dimana masalahnya? > > Tapi, dari pemberitaan dibawah, "Kapal Dwikora" tenggelam karena terjadi > kebakaran yg dimulai dari dek-kendaran bermotor, dan, ... menurut saya > sekilas tentunya, nampak terjadi KEPANIKAN nakoda Rivai, yang berakibat > berbuat KESALAHAN! Nakoda TIDAK SEGERA gerakkan pompa-air berusaha > memadamkan api dan melapor ke pusat PELNI kapalnya terjadi kebakaran, > sebaliknya lebih dahulu mematikan mesin kapal yg berakibat pompa-air juga > tidak berfungsi! Artinya, kesalahan pertama, nakoda perlambat usaha > memadamkan kebakaran yg terjadi. > > Kedua, begitu api tidak berhasil dipadamkan, nakoda seharusnya lebih cepat > kirim SOS dan usaha menyelamatkan penumpang sudah harus dilakukan, tidak > menunggu setelah kapal miring, ... secepatnya turunkan sekoci, perintahkan > setiap penumpang kenakan baju-pelampung dan terjun kelaut. > > Hanya saja saya tidak mengerti, mengapa begitu mesin dimatikan, listrik > dalam kapal juga mati, sehingga nakoda tidak bisa gunakan pengeras-suara > untuk perintahkan segenap penumpang keluar dari kamar dan naik ke dek-kapal > siap selamatkan diri. Pompa-air ikut mati, mungkin saja. Karena aliran > listrik cadangan hanya digunakan penerangan dan radio dikapal yg tidak > boleh terhenti! > > Namun KESALAHAN nakoda, Rivai dari pemberitaan ini, yang dikatakan orang > terakhir melompat ke laut, ... sudah TIDAK hadir dalam sidang Mahkamah > digelar, karena berada dalam daftar orang yang TEWAS! > > > Salam, > > ChanCT > > > > Noroyono 1963 [email protected] <[email protected]> [GELORA45] > 於 27/7/2018 3:54 寫道: > > > Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang Jederal > Suharto" pada tahun 1966, dimana ya sang nakhoda berada? > > Sangat sulit bagi saya sampai hari ini untuk memahami sikap dan tindakan > yang diambil oleh sang nakhoda "Kapal Kabinet Dwikora" saat kapal yang > dinakhodainya ditenggelamkan oleh kapal perang lawan. > > *Noroyono * > *26/07/2018* > ------------------------------ ------------------------------ -------- > *https://www.liputan6.com/news/ read/775639/kisah-tampomas-ii- > terbakar-lalu-tenggelam-431- nyawa-melayang > <https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>* > *Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang* > Liputan6 <https://www.liputan6.com/> > 17 Des 2013, 19:52 WIB > > > <https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang> > [image: Inline-afbeelding] > > Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal milik PT > Pelni itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air laut masuk. Tampomas > II berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam pada akhirnya. > > Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat bicara. > "Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya. > > Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang > selamat?" > > Kisah itu tergambar dalam buku *Neraka di Laut Jawa: Tampomas II* yang > ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para jurnalis *Sinar Harapan* > dan *Mutiara.* > > Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain untuk terjun > ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam pasti lebih fatal. Ketika > yakin semua penumpang sudah terjun ke laut, baru Rivai melompat dari kapal. > > Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981 pukul 09.55 > WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya, kapal itu > berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan mesin membuat pelayaran > tertunda satu hari. > > Kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak kapal. > Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak terdaftar di > manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor. > > Pada 25 Januari sekitar Pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di geladak > bawah. Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor (*car deck*). > Api menyambar tong minyak pelumas. Kebakaran terus membesar. Kapal itu > tengah berada di perairan Masalembo, Laut Jawa. > > Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia ingat, pada > Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung Pandang. Sang > Nakhoda paham, kebakaran di *car deck* sangat berbahaya karena dekat > dengan kamar mesin. Kalau mesin sampai meledak... > > Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak berfungsi. > Api kian ganas, menyebar ke ruangan lain. Bahkan, mulai memakan korban > sejumlah penumpang. > > Rivai memutuskan untuk menyalakan mesin kembali. Ia akan menuju pulau > terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantainya. tapi, mesin tak berhasil > menggerakkan baling-baling. Panas telah melumpuhkannya. > > Radio pun mati, tak bisa mengirim kabar SOS.* Flares* (isyarat cahaya) > yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II benar-benar dalam bahaya. > > Api terus berkobar, korban terus berjatuhan karena panas yang menjalar di > lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke laut. Sejumlah awak > kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci. > > Senin datang. Ketika matahari sudah bersinar terang, baru beberapa kapal > melihat Tampomas II. > > Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe. Markonis > KM Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15. KM Ilmamui > menyusul untuk melakukan pertolongan. Lalu, muncul juga kapal tangker > Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata. > > Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal penolong susah merapat karena > gelombang yang kuat. > > *Nakhoda Tampomas II, Kapten Abdul Rivai* > > Akhirnya, pada Selasa 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang mesin. Air > laut masuk. Semakin banyak air masuk dan kapal mulai miring. > > Pada pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam setelah > percikan api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk > selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah. > > Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah dengan 82 > awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang berjumlah 1.442 orang, > termasuk sejumlah penumpang gelap. Tim penyelamat memperkirakan 431 orang > tewas (143 jenazah ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal), sementara > 753 orang berhasil diselamatkan. > > Lalu, Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang dan dihukum > karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak ikut disidang karena > ditemukan tewas. > > Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers di kantor > Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal abnormal di ruang > mesin. Kelainan terjadi di *car deck*. Guncangan gelombang laut yang > cukup kuat memungkinkan timbulnya percikan api. > > Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE Nasution. > Hasilnya: ada tindak pidana korupsi dalam pembelian kapal bekas itu. > Misalnya, dalam perjanjian disebut sebagai kapal penumpang meskipun > sebenarnya kapal barang. > > Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap berjasa > menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan nyawanya sendiri. ( > *Yus*) > > > > [image: alt] > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > <#m_-1539764891427038209_m_2099643506080968329_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > > > > >
