Bung Yono yb,
Saya tidak berhasil menangkap apa maksud komentar yang bung ajukan itu,
.... "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang Jenderal
Soeharto"? Dimana sang nakoda berada?
Atau mungkin hanya karena saya belum baca buku "Neraka di Laut Jawa"
jadi tidak tahu dimana masalahnya?
Tapi, dari pemberitaan dibawah, "Kapal Dwikora" tenggelam karena terjadi
kebakaran yg dimulai dari dek-kendaran bermotor, dan, ... menurut saya
sekilas tentunya, nampak terjadi KEPANIKAN nakoda Rivai, yang berakibat
berbuat KESALAHAN! Nakoda TIDAK SEGERA gerakkan pompa-air berusaha
memadamkan api dan melapor ke pusat PELNI kapalnya terjadi kebakaran,
sebaliknya lebih dahulu mematikan mesin kapal yg berakibat pompa-air
juga tidak berfungsi! Artinya, kesalahan pertama, nakoda perlambat usaha
memadamkan kebakaran yg terjadi.
Kedua, begitu api tidak berhasil dipadamkan, nakoda seharusnya lebih
cepat kirim SOS dan usaha menyelamatkan penumpang sudah harus dilakukan,
tidak menunggu setelah kapal miring, ... secepatnya turunkan sekoci,
perintahkan setiap penumpang kenakan baju-pelampung dan terjun kelaut.
Hanya saja saya tidak mengerti, mengapa begitu mesin dimatikan, listrik
dalam kapal juga mati, sehingga nakoda tidak bisa gunakan pengeras-suara
untuk perintahkan segenap penumpang keluar dari kamar dan naik ke
dek-kapal siap selamatkan diri. Pompa-air ikut mati, mungkin saja.
Karena aliran listrik cadangan hanya digunakan penerangan dan radio
dikapal yg tidak boleh terhenti!
Namun KESALAHAN nakoda, Rivai dari pemberitaan ini, yang dikatakan orang
terakhir melompat ke laut, ... sudah TIDAK hadir dalam sidang Mahkamah
digelar, karena berada dalam daftar orang yang TEWAS!
Salam,
ChanCT
Noroyono 1963 [email protected] [GELORA45] 於 27/7/2018 3:54 寫道:
Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang Jederal
Suharto" pada tahun 1966, dimana ya sang nakhoda berada?
Sangat sulit bagi saya sampai hari ini untuk memahami sikap dan
tindakan yang diambil oleh sang nakhoda "Kapal Kabinet Dwikora" saat
kapal yang dinakhodainya ditenggelamkan oleh kapal perang lawan.
*Noroyono *
*26/07/2018*
--------------------------------------------------------------------
*https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang*
*Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang*
Liputan6 <https://www.liputan6.com/>**
17 Des 2013, 19:52 WIB
<https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>
Inline-afbeelding
Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal milik PT
Pelni itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air laut masuk.
Tampomas II berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam pada akhirnya.
Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat
bicara. "Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya.
Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang
selamat?"
Kisah itu tergambar dalam buku /Neraka di Laut Jawa: Tampomas II/ yang
ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para jurnalis /Sinar
Harapan/ dan /Mutiara./
Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain untuk
terjun ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam pasti lebih
fatal. Ketika yakin semua penumpang sudah terjun ke laut, baru Rivai
melompat dari kapal.
Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981 pukul
09.55 WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya,
kapal itu berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan mesin membuat
pelayaran tertunda satu hari.
Kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak
kapal. Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak
terdaftar di manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor.
Pada 25 Januari sekitar Pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di geladak
bawah. Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor (/car
deck/). Api menyambar tong minyak pelumas. Kebakaran terus membesar.
Kapal itu tengah berada di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia ingat,
pada Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung
Pandang. Sang Nakhoda paham, kebakaran di /car deck/ sangat berbahaya
karena dekat dengan kamar mesin. Kalau mesin sampai meledak...
Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak
berfungsi. Api kian ganas, menyebar ke ruangan lain. Bahkan, mulai
memakan korban sejumlah penumpang.
Rivai memutuskan untuk menyalakan mesin kembali. Ia akan menuju pulau
terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantainya. tapi, mesin tak
berhasil menggerakkan baling-baling. Panas telah melumpuhkannya.
Radio pun mati, tak bisa mengirim kabar SOS./ Flares/ (isyarat cahaya)
yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II benar-benar dalam
bahaya.
Api terus berkobar, korban terus berjatuhan karena panas yang menjalar
di lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke laut.
Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.
Senin datang. Ketika matahari sudah bersinar terang, baru beberapa
kapal melihat Tampomas II.
Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe.
Markonis KM Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15. KM
Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan. Lalu, muncul juga kapal
tangker Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata.
Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal penolong susah merapat
karena gelombang yang kuat.
*/Nakhoda Tampomas II, Kapten Abdul Rivai/*
Akhirnya, pada Selasa 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang mesin.
Air laut masuk. Semakin banyak air masuk dan kapal mulai miring.
Pada pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam setelah
percikan api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk
selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.
Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah
dengan 82 awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang berjumlah
1.442 orang, termasuk sejumlah penumpang gelap. Tim penyelamat
memperkirakan 431 orang tewas (143 jenazah ditemukan dan 288 orang
hilang bersama kapal), sementara 753 orang berhasil diselamatkan.
Lalu, Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang dan
dihukum karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak ikut
disidang karena ditemukan tewas.
Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers di
kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal abnormal
di ruang mesin. Kelainan terjadi di /car deck/. Guncangan gelombang
laut yang cukup kuat memungkinkan timbulnya percikan api.
Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE Nasution.
Hasilnya: ada tindak pidana korupsi dalam pembelian kapal bekas itu.
Misalnya, dalam perjanjian disebut sebagai kapal penumpang meskipun
sebenarnya kapal barang.
Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap berjasa
menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan nyawanya
sendiri. (*Yus*)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com