Kapal TampomasII dan "Kapal Dwikora"
Pada waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (sebutan Sekolah Dasar
saat itu), guru kami padasuatu kesempatan secara sambil lalu bercerita kepada
kami bahwa di kalangannakhoda kapal terdapat suatu kode etik tak tertulis yg
intinya adalah: "Apabila kapal terancam tenggelam,nakhoda harus menjadi orang
terakhir dalam menyelamatkan diri. Jika memangtidak bisa lain, tenggelam kapal,
tenggelam pula nakhodanya".
Menurut saya, Nakhoda Kapal Tampomas II, Kapten Abdul Rivai,di saat saat kapal
terancam tenggelam telah dengan gagah berani dan penuhtanggung jawab
menunjukkan sikap dan bertindak sesuai dengan kode etiksebagaimana yg
dituturkan guru kami itu. Ketika saya membaca berita tragis dikoran tentang
tenggelamnya Kapal Tampomas II milik perusahaan PELNI lebih daritiga puluh lima
tahun yg lalu, disamping tentu saja sedih, saya benar benar menaruh respek
kepadaKapten Abdul Rivai. Sesungguhnyalah Almarhum patut dinobatkan
sebagai"Nakhoda Utama". Menurut ingatan atas apa yg saya baca, KapalTampomas II
itu sebenarnya tidak laik laut sebagai kapal penumpang. Jumlahsekoci yg dibawa
Kapal itu sangat tidak seimbang dengan jumlah nominalpenumpang. Namun Kapten
Abdul Rivai tidak bisa berbuat apa-apa menanggapikondisi tsb. Laik laut atau
tidak sebuah kapal pada akhirnya bukan kapten kapaltapi jajaran pejabat atasan
kapten kapal di lingkungan PELNI yg menentukannya.Terlepas hal ini normal atau
tidak, namun begitulah “aturan permainan” yg ada terkaitlaik laut-tidaknya
sebuah kapal di lingkungan PELNI ketika itu..
Dari Kapten Abdul Rivai beralih kita ke Bung Karno. Dalamrentang waktu antara 2
Oktober '65hingga 25 Februari '67, telahterjadi di Indonesia sederetan
peristiwa politik yg tampak dengan jelasberkaitan satu sama lain dan tidak
terjadi secara spontan melainkan terencanauntuk setapak demi setapak
menggulingkan Presiden Sukarno. Tidak ada pihak ygdalam rentang waktu tsb punya
ambisi dan potensi riil menggulingkan PresidenSukarno selain kelompok Jenderal
Suharto. Jadi sangatlah berdasar apabilasementara kalangan berkesimpulan bahwa
kelompok Jenderal Soharto-lah perancangsederetan peristiwa politik tsb.
Sesudah Bung Karno (entah atas kemauan sendiri, entahdipaksa kelompok Jenderal
Suharto) mengeluarkan apa yg dikenal sebagai "Supersemar"pada 11 Maret 1966,
Kabinet Dwikorayg dipimpin-nya pada hakekatnya ibarat sebuah kapal yg sudah
setengah, atautiga perempat, tenggelam. "Kapal" ini pada akhirnya secara
definitiftenggelam pada 25 Juli 1966, padasaat Kabinet Ampera I secara resmi
diumumkan kepada seluruh rakyat oleh Suhartosebagai Ketua Presidium Kabinet,
menyusul pembubaran Kabinet Dwikora.
Bagaimana dengan nasib 15 mantan "awak kapal""Kapal Dwikora" yg tetap loyal
kepada “nakhoda” kapal mereka, BungKarno? Mereka ditahan tanpa proses hukum
oleh rezim Suharto. Banyak diantaranya(atau barangkali sebagian besar) harus
tahunan mendekam di tahanan. Salah satudiantaranya, yakni Dr Subandrio, bahkan
hampir dihukum mati.
Lalu dimana gerangan Bung Karno berada? Beliau tidakberada bersama ke-15 “anak
buah”-nya itu. Beliau dengan Jenderal Suharto beradadalam Kabinet Ampera I
sekadar sebagai Presiden RI pajangan, sementara Suhartosebagai Ketua Presidium
Kabinet – pemegang kekuasaan yg sebenarnya di Indonesiasaat itu.
Dalam perkembangan lain, sehari pasca-penerbitan"Supersemar", organisasi
politik terbesar dan terorganisir, penyokong sekaligus “yo sanak yo
kadang”-nya Bung Karno, PKI beserta ormas ormasnya,secara resmi oleh Suharto --
atas namaPresiden RI -- dibubarkan serta dinyatakan sebagai organisasi
terlarang.Sementara itu pengejaran dan pembasmian sewenang-wenang thd anggota
PKI besertaormas ormasnya yg dilancarkan kelompok Jenderal Suharto sudah sejak
Oktober ’65tetap dilanjutkan dengan intensitas yg sama.
Demo anti-Bung Karno di jalan jalan yg juga sudahberalangsung sejak Oktober
’65, dengan dikeluarkannya “Supersemar” telahsemakin menjadi-jadi. Para pendemo
selain mengejek, menghina, menghujat, jugamenuntut agar Bung Karno dipecat dari
jabatannya sebagai Presiden RI dandiseret ke Mahmilub.
Adakah reaksi konkret yg setimpal dari Bung Karnomenanggapi berbagai tindakan
yg bertentangan dengan hukum dan keadilan tsb?Tidak ada. Argumen yg sering
dikemukakan Beliau mengapa mengambil posisi sepertiitu adalah demi menghindari
pertumpahan darah di kalangan bangsa Indonesia.
Saya tidak menafikan kemungkinan terjadinya pertumpahandarah apabila BK
menyerukan kepada para pendukungnya – sipil dan militer – agarmemberikan
perlawanan yg setimpal terhadap aksi kekerasan untuk menggulingkankekuasaan RI
yg syah yg dilakukan olehkelompok Jenderal Suharto.
Kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa di satu sisi BKtidak menhendaki
pertumpahan darah, namun di sisi lain Beliau telah mendiamkanpembataian manusia
(yg menuruit versi Komnas HAM) berkisar antara setengahhingga tiga juta
MANUSIA. Dengan mengambil posisi “tidak menghendakipertumpahan darah” tsb, pada
hakekatnya BK – disadari atau tidak – telahmelepaskan tanggung jawab sebagai
Presiden/PanglimaTertinggi ABRI untuk dengan tegar menegakkan hukum dan
ketertiban. Selainitu, dengan mengambil posis demikian, BK – diakui atau tidak
-- telahmengingkari komitmen moral sebagai Pemimpin Besar Revolusi
untuksenantiasa menjunjung tinggi keadilan.
Jika Bung Karno tidak berkenan memberikan respons ygsetimpal terhadap aksi
kekerasan kelompok Jenderal Suharto untuk menggulingkankekuasaan syah RI,
bukankah BK dapat menggunakan perlawanan nir-kekerasan(ahimsa) dengan jalan
meletakkanjabatan sebagai Presiden RI dan melaksanakan politik nonkooperasi
terhadap kelompok Jenderal Suharto? Walaupun bentukperlawanan nir-kekerasan ini
sangat barangkali tidak dapat menghentikanusaha kelompok Jenderal Suharto (yg
notabene disokong kekuatan asing) merebutkekuasaan syah RI, namun menurut hemat
saya, bagi pejuang seperti BK: Berlawan selamanya lebih terhormat ketimbangdiam!
Apa yg saya tulis ini merupakan cerminan kekecewaan sayaterhadap Bung Karno –
yg notabene adalah seorang manuisia, bukan Tuhan.Kekecewaan saya -- yg notabene
adalah juga manuusia biasa -- adalah kekecewaanyg didasarkan pada pemahaman
(jadibukan pada kebencian) saya terkaitsosok Soekarno. Betapapun juga saya
tetap mengakui jasa jasa besar Bung Katrnoterhadap nusa dan bangsa Indonesia.
Bagi saya Bung Karno tetap merupakan “Vaderdes vaderlands van Indonesië
(BapakTanah Air Indonesia!)
Yang menulis tidak bersalah; yang membaca patut waspada.Saya hanya seorang
manusia biasa.
Noroyono
31/07/2018
Op vrijdag 27 juli 9:21 2018 schreef "S Manap [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> het volgende:
Bung Chan.
Kalau bung masih belum bisa memahami yang dimaksudkan oleh bung Nuryono,
bung bisa bertanya kepada teman lama bung Pak Zhau Yung Chin,
Ini sekedar saran dari saya dan selamat berakhir pekan.
Salam S.Manap.
----- Vidarebefordrat meddelande ----- Från: Arya Warsitha
<[email protected]>Till: Syarkawi Manap <[email protected]>Skickat: fredag 27
juli 2018 08:33:07 CESTÄmne: Vb: Re: [GELORA45] Kisah Tampomas II, Terbakar
Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang | Saat "Kapal Kabinet Dwikora"
ditenggelamkan ...
Skickat från Yahoo Mail för iPad
Påbörja vidarebefordrat meddelande:
Den fredag, juli 27, 2018, 6:53 fm, skrev kh djie [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Bung Chan,Di tempat2 yang kemungkinan terjadi kebakaran harus disediakan
alat pemadam kebakarandan juga saluran air dengan slang pemadam kebakaran.Yang
sering terjadi :Di tempat mobil2 dan kendaraan diparkir, meskipun mesin
dimatikan. Bisa saja terjadi kortsluitingdalam kendaraan, dan kalau terjadi
kebakaran dapat menjalar cepat ke kendaraan lain. Jadidi sini harus disediakan
banyak alat pemadam kebakaran yang mudah disemprotkan. Ada macam2type dari
penyemprotan dengan CO2, ada yang dengan busa dll. Kalau sekarang dipasangi
detektor, yang langsung membuat alarm berbunyi, dan air otomatis menyemprot
dari atas, dan penjaga darisuatu ruangan bisa langsung mengetahui tempat
kebakaran.Kalau jaman dulu ya mestinya di tempat2tsb. ada orang yang jaga.
Prinsipnya, begitu timbul kebakaran, harus langsung dipadamkan sebelummenjalar
ke mana-mana, yang akan sulit dipadamkan.Di Kamar mesin, sering terjadi
kortsluiting. Ini haus langsung dipadamkan.Di kamar penumpang. Di lorong harus
disediakan beberapa pemadam kebakaran, juga slang air bertekanan tinggi dan
pipa2 saluran air, dan alarm yang bisa distart untuk memberitahu adanya
kebakaran. Jaman sekaangruangan dan kamarq2 dilengkapi detector. Begitu terjadi
kebakaran, ada asap, langsung detector berfungsi. Di perusahaan dulu, semua
orang dilatih untuk mmadamkan kebakaran kecil, tiga bulan sekali. Alat2 pemadam
kebakaran dicheck. Lha, kalau tidak dilatih, ada alatnya, tetapi tidak tahu
cara pakainya.Perusahaan juga punya mobil pemadam kebakaran dan punya anggota
pemadam kebakaran yang terlatih. Perusahaan juga kerjasama dengan perusahaan2
lain, untuk saling bantu kalau terjadi kebakaran.Di samping itu pemadam
kebakaran dari perusahaan bisa dipangil oleh pemadam kebakaran dai kotapraja
untukbantu memadamkan kebakaran besar.Juga ada kejelasan, kalau terjadi
kebakaran, kita harus mengungsi, kumpul di mana, siapa yang harus
mematikansaluran gas. Lift tidak boleh dipakai dll..
2018-07-27 2:16 GMT+02:00 ChanCT [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Bung Yono yb, Saya tidak berhasil menangkap apa maksud komentar yang bung
ajukan itu, ... "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang
Jenderal Soeharto"? Dimana sang nakoda berada? Atau mungkin hanya karena saya
belum baca buku "Neraka di Laut Jawa" jadi tidak tahu dimana masalahnya? Tapi,
dari pemberitaan dibawah, "Kapal Dwikora" tenggelam karena terjadi kebakaran yg
dimulai dari dek-kendaran bermotor, dan, ... menurut saya sekilas tentunya,
nampak terjadi KEPANIKAN nakoda Rivai, yang berakibat berbuat KESALAHAN! Nakoda
TIDAK SEGERA gerakkan pompa-air berusaha memadamkan api dan melapor ke pusat
PELNI kapalnya terjadi kebakaran, sebaliknya lebih dahulu mematikan mesin kapal
yg berakibat pompa-air juga tidak berfungsi! Artinya, kesalahan pertama, nakoda
perlambat usaha memadamkan kebakaran yg terjadi. Kedua, begitu api tidak
berhasil dipadamkan, nakoda seharusnya lebih cepat kirim SOS dan usaha
menyelamatkan penumpang sudah harus dilakukan, tidak menunggu setelah kapal
miring, ... secepatnya turunkan sekoci, perintahkan setiap penumpang kenakan
baju-pelampung dan terjun kelaut. Hanya saja saya tidak mengerti, mengapa
begitu mesin dimatikan, listrik dalam kapal juga mati, sehingga nakoda tidak
bisa gunakan pengeras-suara untuk perintahkan segenap penumpang keluar dari
kamar dan naik ke dek-kapal siap selamatkan diri. Pompa-air ikut mati, mungkin
saja. Karena aliran listrik cadangan hanya digunakan penerangan dan radio
dikapal yg tidak boleh terhenti! Namun KESALAHAN nakoda, Rivai dari pemberitaan
ini, yang dikatakan orang terakhir melompat ke laut, ... sudah TIDAK hadir
dalam sidang Mahkamah digelar, karena berada dalam daftar orang yang TEWAS!
Salam, ChanCT
Noroyono 1963 [email protected] [GELORA45] 於 27/7/2018 3:54 寫道:
Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang Jederal
Suharto" pada tahun 1966, dimana ya sang nakhoda berada? Sangat sulit bagi
saya sampai hari ini untuk memahami sikap dan tindakan yang diambil oleh sang
nakhoda "Kapal Kabinet Dwikora" saat kapal yang dinakhodainya ditenggelamkan
oleh kapal perang lawan. Noroyono 26/07/2018 ------------------------------
------------------------------ -------- https://www.liputan6.com/news/
read/775639/kisah-tampomas-ii- terbakar-lalu-tenggelam-431- nyawa-melayang
Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang Liputan6 17 Des
2013, 19:52 WIB
Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal milik PT Pelni
itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air laut masuk. Tampomas II
berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam pada akhirnya.
Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat bicara.
"Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya.
Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang
selamat?"
Kisah itu tergambar dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II yang ditulis
Bondan Winarno berdasarkan reportase para jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.
Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain untuk terjun ke
laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam pasti lebih fatal. Ketika yakin
semua penumpang sudah terjun ke laut, baru Rivai melompat dari kapal.
Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981 pukul 09.55 WIB
dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya, kapal itu berangkat
pada 23 Januari. Namun, kerusakan mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.
Kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak kapal.
Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak terdaftar di
manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor.
Pada 25 Januari sekitar Pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di geladak bawah.
Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor (car deck). Api menyambar
tong minyak pelumas. Kebakaran terus membesar. Kapal itu tengah berada di
perairan Masalembo, Laut Jawa.
Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia ingat, pada Juli
1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung Pandang. Sang Nakhoda
paham, kebakaran di car deck sangat berbahaya karena dekat dengan kamar mesin.
Kalau mesin sampai meledak...
Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak berfungsi. Api
kian ganas, menyebar ke ruangan lain. Bahkan, mulai memakan korban sejumlah
penumpang.
Rivai memutuskan untuk menyalakan mesin kembali. Ia akan menuju pulau
terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantainya. tapi, mesin tak berhasil
menggerakkan baling-baling. Panas telah melumpuhkannya.
Radio pun mati, tak bisa mengirim kabar SOS. Flares (isyarat cahaya) yang
dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II benar-benar dalam bahaya.
Api terus berkobar, korban terus berjatuhan karena panas yang menjalar di
lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke laut. Sejumlah awak kapal
dan penumpang mulai menurunkan sekoci.
Senin datang. Ketika matahari sudah bersinar terang, baru beberapa kapal
melihat Tampomas II.
Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe. Markonis KM
Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15. KM Ilmamui menyusul untuk
melakukan pertolongan. Lalu, muncul juga kapal tangker Istana VI, KM Adhiguna
Karunia, dan KM Sengata.
Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal penolong susah merapat karena
gelombang yang kuat.
Nakhoda Tampomas II, Kapten Abdul Rivai
Akhirnya, pada Selasa 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang mesin. Air
laut masuk. Semakin banyak air masuk dan kapal mulai miring.
Pada pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam setelah percikan
api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama
288 korban tewas di Dek Bawah.
Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah dengan 82
awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang berjumlah 1.442 orang, termasuk
sejumlah penumpang gelap. Tim penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143
jenazah ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal), sementara 753 orang
berhasil diselamatkan.
Lalu, Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang dan dihukum
karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak ikut disidang karena
ditemukan tewas.
Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers di kantor
Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal abnormal di ruang mesin.
Kelainan terjadi di car deck. Guncangan gelombang laut yang cukup kuat
memungkinkan timbulnya percikan api.
Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE Nasution.
Hasilnya: ada tindak pidana korupsi dalam pembelian kapal bekas itu. Misalnya,
dalam perjanjian disebut sebagai kapal penumpang meskipun sebenarnya kapal
barang.
Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap berjasa
menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan nyawanya sendiri. (Yus)
| | 不含病毒。www.avg.com |
#yiv3430106955 #yiv3430106955 -- #yiv3430106955ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-mkp #yiv3430106955hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mkp #yiv3430106955ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mkp .yiv3430106955ad
{padding:0 0;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mkp .yiv3430106955ad p
{margin:0;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mkp .yiv3430106955ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-sponsor
#yiv3430106955ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-sponsor #yiv3430106955ygrp-lc #yiv3430106955hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-sponsor #yiv3430106955ygrp-lc .yiv3430106955ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3430106955 #yiv3430106955actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3430106955
#yiv3430106955activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3430106955
#yiv3430106955activity span {font-weight:700;}#yiv3430106955
#yiv3430106955activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3430106955 #yiv3430106955activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3430106955 #yiv3430106955activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3430106955 #yiv3430106955activity span
.yiv3430106955underline {text-decoration:underline;}#yiv3430106955
.yiv3430106955attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3430106955 .yiv3430106955attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3430106955 .yiv3430106955attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3430106955 .yiv3430106955attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3430106955 .yiv3430106955attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3430106955 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3430106955 .yiv3430106955bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3430106955
.yiv3430106955bold a {text-decoration:none;}#yiv3430106955 dd.yiv3430106955last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3430106955 dd.yiv3430106955last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3430106955
dd.yiv3430106955last p span.yiv3430106955yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3430106955 div.yiv3430106955attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3430106955 div.yiv3430106955attach-table
{width:400px;}#yiv3430106955 div.yiv3430106955file-title a, #yiv3430106955
div.yiv3430106955file-title a:active, #yiv3430106955
div.yiv3430106955file-title a:hover, #yiv3430106955 div.yiv3430106955file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3430106955 div.yiv3430106955photo-title a,
#yiv3430106955 div.yiv3430106955photo-title a:active, #yiv3430106955
div.yiv3430106955photo-title a:hover, #yiv3430106955
div.yiv3430106955photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3430106955
div#yiv3430106955ygrp-mlmsg #yiv3430106955ygrp-msg p a
span.yiv3430106955yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3430106955
.yiv3430106955green {color:#628c2a;}#yiv3430106955 .yiv3430106955MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3430106955 o {font-size:0;}#yiv3430106955
#yiv3430106955photos div {float:left;width:72px;}#yiv3430106955
#yiv3430106955photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3430106955
#yiv3430106955photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3430106955
#yiv3430106955reco-category {font-size:77%;}#yiv3430106955
#yiv3430106955reco-desc {font-size:77%;}#yiv3430106955 .yiv3430106955replbq
{margin:4px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-mlmsg select, #yiv3430106955 input, #yiv3430106955 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-mlmsg pre, #yiv3430106955 code {font:115%
monospace;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-mlmsg #yiv3430106955logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-msg
p#yiv3430106955attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-reco #yiv3430106955reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-sponsor
#yiv3430106955ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-sponsor #yiv3430106955ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-sponsor #yiv3430106955ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3430106955 #yiv3430106955ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3430106955
#yiv3430106955ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3430106955