27 Juli 1950

Bubarnya Angkatan Perang Hindia Belanda: KNIL
Tirto.ID - Jernih Mengalir Mencerahkan


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Tirto.ID - Jernih Mengalir Mencerahkan

Jernih Mengalir Mencerahkan
 |

 |

 |





Serdadu-serdadu KNIL. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 27 Juli 2018Dibaca Normal 3 menitAkhir barisan. 
Serdadu kerajaan 
tanah jajahan.tirto.id - Pada 26 Juli 1950, kediaman Komisaris Tinggi Belanda 
Dr. H. Hirschfeld di Jakarta ramai didatangi pejabat. Sipil dan militer. Pihak 
Republik Indonesia, juga Belanda. Dari pihak Republik, hadir Wakil Presiden 
Muhammad Hatta. Ia berjas putih dengan dasi kupu-kupu dan rambutnya yang 
klimis. 

Ada juga Haji Agus Salim yang berpeci, mengenakan baju koko dan sarung. Dari 
pihak militer Republik ada Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia 
Serikat (APRIS) Kolonel Tahi Bonar Simatupang. Dia mengenakan jas dan dasi 
militernya. 

Dalam acara itu, hadir pengganti Jenderal Simon Hendrik Spoor, Letnan Jenderal 
Dirk Cornelis Buurman van Vreeden selaku Panglima tertinggi Tentara Belanda di 
Indonesia. Buurman harus menggantikan Spoor yang meninggal setahun sebelumnya 
karena serangan jantung. Selain Jenderal Mayor J.H.R. Kohler di Aceh yang 
terbunuh oleh laskar Aceh, Spoor adalah jenderal yang harus mati dalam tugasnya 
di Indonesia. 

Baca juga:   
   - Misteri Kematian Jenderal Spoor
   - Kematian Mayor Jenderal Kohler dalam Perang Aceh

Dalam acara tersebut, Jenderal van Vreden yang lahir di Surakarta itu 
menyampaikan pidato dalam dua bahasa. Intinya adalah soal pembubaran Tentara 
Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL). 
Sebagian anggota KNIL ada yang bergabung juga ke APRIS—yang tak lama kemudian 
menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) lagi. Masuknya bekas KNIL yang ingin 
bergabung ke APRIS adalah bagian dari kesepakatan dari Konferensi Meja Bundar 
(KMB). 

“Seperti telah saya kataken dalam pidato radio saya, kepada semua militer KNIL, 
saya yakin, di mana pun tuan-tuan berada dalam pekerjaan selanjutnya. Tuan-tuan 
memperlihatken di sana sifat-sifat baik yang sama itu,” kata Buurman van 
Vreden. 

Mantan KNIL yang masuk APRIS dinaikkan pangkatnya. Jika di KNIL pangkatnya 
kopral, masuk TNI bisa jadi sersan. Di antara pendengar pidato Buurman itu 
tentu terdapat bekas perwira KNIL, termasuk Tahi Bonar Simatupang sendiri. Dia 
adalah bekas perwira zeni KNIL sebelum balatentara Jepang menduduki Indonesia.


Pembubaran Yang Tak Mulus
Membubarkan KNIL bukanlah urusan mudah. KNIL, yang kebanyakan adalah 
orang-orang Indonesia, banyak berisikan serdadu-serdadu keras kepala. Meski 
wacana penyaluran mereka ke dalam APRIS/TNI sudah pasti, beberapa kali terjadi 
pemberontakan yang dilakukan eks KNIL. Pada awal 1950, terjadi pemberontakan 
bekas KNIL di Bandung dengan menamakan diri sebagai Angkatan Perang Ratu Adil 
(APRA), di bawah komando bekas kapten pasukan khusus KNIL, Raymond Paul Pierre 
Westerling. 

Baca juga:   
   - Westerling Memberontak Bermodalkan Duit Para Pengusaha
   - Pasukan Westerling Garang di Bandung, Loyo di Jakarta

Di Makassar, pada 5 April 1950, serdadu-serdadu KNIL juga memberontak. Mantan 
KNIL yang baru bergabung dengan APRIS/TNI menjadi pemimpin pemberontakan itu. 
Andi Azis terhasut oleh bekas Jaksa Agung Negara Indonesia Timur, Dr. Christian 
Soumokil, seorang pemimpin gerakan separatis. Ditambah faktor lain: kedatangan 
pasukan APRIS/TNI dari Jawa yang membuat bekas KNIL di sekitar Makassar merasa 
tidak nyaman. 

Baca juga:   
   - Soumokil: Antara Federalis dan Separatis
   - Pasukan Andi Azis Menolak Tentara dari Jawa

Selain di Bandung dan Makassar, bekas KNIL di Ambon pun membikin perkara. 
Lagi-lagi dipengaruhi Soumokil. Mereka adalah serdadu-serdadu galau. Meski ada 
yang ingin masuk APRIS/TNI, mereka kemudian menjadi alat perang dari negara 
yang didirikan Soumokil, yakni Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon yang 
didirikan pada 25 April 1950. 

Kebetulan, di antara KNIL-KNIL yang ada di Ambon waktu itu ada bekas pasukan 
khusus baret merah dan baret hijau Belanda, misalnya Sersan Nussy atau Kopral 
Corputty. Pemberontakan ini tercatat sebagai pemberontakan yang sulit ditangani 
oleh APRIS.

Baca juga: Ketika Para Sersan Menegakkan Republik Maluku Selatan
Beruntung, APRIS/TNI kebanjiran banyak bekas KNIL yang terlatih dengan baik 
dalam bertempur. Di antara bekas KNIL itu ada dikirimkan ke Maluku untuk 
melawan bekas KNIL lain. Terjadilah perang bekas KNIL versus bekas KNIL. 
Seorang bekas Sersan KNIL bernama Klees masuk APRIS/TNI menjadi kapten yang 
memimpin pasukan lapis baja saat operasi penumpasan pemberontakan Republik 
Maluku Selatan (RMS) di Ambon. 

Saat Letnan Kolonel Slamet Riyadi terbunuh, dialah yang mengemudikan kendaraan 
lapis baja yang ditumpangi Slamet Riyadi sebelum tertembak. 

Bekas KNIL lain adalah Josef Muskita. Saat di KNIL, dia pernah dinas di Jawa 
Timur dan masuk TNI dengan pangkat kapten. Seperti Klees, Muskita juga ikut 
serta dalam operasi penumpasan RMS di Maluku. Muskita adalah perwira operasi 
yang cukup penting dalam penumpasan bekas KNIL di Ambon itu, bersama Slamet 
Riyadi dan Kawilarang. 

Selanjutnya, Muskita memilih kalem berkarier di TNI hingga berpangkat letnan 
jenderal. Ikut menumpas RMS bukanlah hal menyenangkan baginya. Dia orang Ambon 
dan harus menembaki bekas KNIL Ambon. Ayahnya enggan bicara padanya selama 10 
tahun karena hal itu.

Baca juga: RMS: Palagan Penebusan Eks KNIL dan Tentara Kiri
Setelah pemberontakan-pemberontakan itu, setelah 26 Juli 1950 KNIL harus tutup 
buku di Indonesia. Tentara Kerajaan Hindia Belanda tak boleh ada lagi karena 
Hindia Belanda sudah ganti menjadi Indonesia.




Perkasa Memerangi Rakyat Jelata
Jika ditelusur asal mula pendiriannya, KNIL hadir setelah Belanda kewalahan 
menjalani Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perang itu 
seolah mengajarkan Belanda untuk punya angkatan perang yang lebih kuat lagi. 
Maka, pada 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal van den Bosch—sang pemulai tanam 
paksa—mengeluarkan Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger, 
soal pembentukan tentara di Hindia Belanda.

Baca juga: Lebaran Terakhir Diponegoro di Tanah Jawa
Tentara Hindia Belanda itu terdiri berbagai etnis, mulai dari Jawa, Minahasa, 
Ambon, dan lainnya yang berada dalam formasi sebagai serdadu-serdadu rendahan. 
Kalangan perwira terdiri dari orang-orang Belanda, meski ada pula orang-orang 
Belanda berpangkat serdadu rendahan. Di dalam KNIL, demikian tentara kolonial 
ini belakangan disebut, terkenal kental juga diskriminasi rasialnya. 

Menurut data dari buku Gedenkschrift Koninklijk Nederlandsche Indische Leger 
1830-1950 (1990), KNIL banyak dikerahkan untuk melawan pemberontak dan juga 
bajak laut di Hindia Belanda dalam banyak ekspedisi-ekspedisi militer. Yang 
paling terkenal adalah aksi KNIL dalam Perang Aceh yang menyebabkan tewasnya 
Jenderal Mayor J.H.R. Kohler. Sayangnya, selain melawan rakyat Indonesia yang 
berontak, KNIL tak berdaya menghadapi serbuan balatentara Jepang pada awal 
1942. Hanya dalam hitungan minggu, Jepang menduduki hampir seluruh Hindia 
Belanda. 

Maka, KNIL pun tak eksis selama kurun waktu 1942 hingga 1945 di Indonesia. 
Setelahnya, butuh waktu setahun lebih untuk membangun kembali KNIL untuk 
menduduki kembali Indonesia sebagai Hindia Belanda seperti di masa kolonial. 
KNIL kemudian dipimpin bekas Direktur NEFIS, Simon Hendrik Spoor. 

Kedigdayaan KNIL mulai terlihat lagi waktu secara mendadak menyerang 
daerah-daerah Republik yang bernilai ekonomis dalam Agresi Militer Belanda 
pertama, dalam Operasi Produk. Kedigdayaan berikutnya, tapi juga jadi blunder 
bagi Belanda, adalah Agresi Militer Belanda Kedua: Operasi Gagak menduduki 
ibukota RI Yogyakarta.

Baca juga:   
   - Agresi Militer I: Saat Belanda Mengingkari Perjanjian Linggarjati
   - Operasi Gagak Menduduki Ibukota Republik
   - Saat Belanda Menyerbu RI pada Bulan Puasa 1947

Sebagai angkatan perang dengan personel yang dibayar, banyak orang Indonesia 
bergabung di dalamnya. Pangkatnya rendahan. Selain T.B. Simatupang, Presiden 
Indonesia Soeharto juga meniti karir militernya di KNIL. Ia memulai dari 
pangkat kopral lalu sersan. Selain Soeharto, perancang lambang negara Garuda 
Pancasila Sultan Hamid II juga pernah berdinas sebagai letnan di KNIL. 
Perancang masjid besar Istiqlal, Silaban, juga pernah berdinas di KNIL sebagai 
perwira zeni. 

Lembaga militer yang telah melahirkan banyak kombatan ini akhirnya resmi 
dibubarkan pada 27 Juli 1950, tepat hari ini 68 tahun lalu.

==========

Artikel ini pertama kali diterbitkan pada 27 Juli 2017. Kami menyuntingnya 
kembali untuk ditayangkan dalam rubrik Mozaik.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi
(tirto.id - Humaniora) 


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani

|  | Virus-free. www.avg.com  |

Kirim email ke